
Suara denting sendok beradu dengan piring terdengar menggema memenuhi ruang makan keluarga besar Arjuna. Malam ini tampak berbeda dari malam sebelumnya. Malam ini, meja makan tersebut lebih ramai.
Ada sepasang anak kembar Arjuna dan Nabila beserta suami dan istri mereka.
Ya, kakak Abimanyu telah berkeluarga dan malam ini mereka tampak ikut meramaikan makan malam tersebut, sebagai ajang penyambutan anggota keluarga baru mereka, Caca.
“Ini masakan Caca loh, bagaimana menurut kalian?” tanya Nabila memecahkan keheningan mereka. Ia mengedarkan pandangan pada seluruh putra putrinya.
“Ini masakan Kak Caca? Pantes rasanya enggak asing,” sahut Dio–adik Abimanyu.
“Kenapa? Rasanya enggak enak?” tanya Abimanyu meremehkan.
Dio memicingkan mata pada sang kakak.
“Lidah lo mati rasa? Makanan seenak ini lo bilang nggak enak?” jawab remaja itu sengit.
“Gue makan masakan bunda, ya. Sorry,” balas Abimanyu ketus.
“Ini enak lo, Bi. Lo harus coba,” sahut Kharris–kakak Abimanyu, sembari menyuapkan satu potong ayam kecap pedas ke dalam mulutnya.
Geriyo kakak pertama pria itu pun ikut mengangguk setuju.
Di sebelah Abimanyu, Caca tampak tersenyum jemawa. Ia melirik sekilas suaminya itu. Ia merasa cukup bangga dipuji di depan Abimanyu. Namun, ucapan suaminya membuat Caca harus ekstra mengelus dada.
“Paling juga karena dibantuin bunda. Anak kayak dia mana bisa masak!”
“Sabar, Ca, sabar!” gumam Caca lirih.
“Loh, Kak Caca kan emang jago masak,” sahut Dio lagi. Bocah itu tampak sangat lahap menyantap masakan Caca.
Abimanyu menatap adiknya tajam. Mengapa ia merasa adiknya ini sangat mengenal Caca, padahal mereka baru bertemu sore tadi.
“Aku kan sering ke rumah Cakra. Jadi, aku juga sering lihat Kak Caca masak plus makan masakan Kak Caca yang super enak. Kayak ini,” jelas Dio saat semua orang menatap penuh tanya pada dirinya.
“Makasih Dio,” ucap Caca pada adik iparnya itu.
Caca dan Dio memang sudah saling mengenal cukup lama, karena Dio sahabat baik adik Caca yang sering dipanggil Ata. Dio cukup sering datang ke rumah Caca, hanya saja Caca tidak tahu, bahwa Dio adik dari Abimanyu.
Senyum Caca semakin mengembang jemawa saat ayah mertuanya ikut berkomentar mengenai masakan pertamanya di sini.
“Masakan kamu enak. Abi memang lebih suka makan masakan ibunya, jadi dia tidak akan tahu bagaimana rasa masakan kamu.”
“Terima kasih, Ayah,” jawab Caca sembari melirik penuh kemenangan pada suami abal-abalnya itu.
Abimanyu mendengkus. Ia tidak menyangka gadis itu sangat cepat mendapatkan perhatian keluarganya.
Makan malam kembali berlanjut. Semua tampak kembali hening. Hanya ocehan dari anak Kharris dan Geriyo yang meramaikan malam itu.
Caca menatap gemas pada sepasang anak kecil yang memiliki selisih usia hanya beberapa bulan saja itu. Dua anak perempuan itu tampak begitu lucu saat berinteraksi.
Awalnya Caca sedikit terkejut mengetahui bahwa mertuanya ini sudah memiliki dua orang cucu yang telah berusia dua tahun. Ia pikir Abimanyu adalah anak pertama mereka. Namun, ternyata dugaannya salah, karena ternyata Abimanyu memiliki dua orang kakak kembar sepasang. Dan mereka telah menikah tiga tahun lalu.
Caca memandang wajah ayah dan ibu mertuanya. Mereka terlihat masih sangat muda untuk memiliki seorang cucu. Jika dilihat lebih dekat lagi, sepertinya kedua mertuanya ini lebih muda dari ayahnya yang memiliki usia hampir lima puluh tahun.
Sibuk dengan pikirannya, Caca bahkan tak menyadari piringnya telah kosong. Seluruh makanannya telah tandas. Ia pun segera membantu ibu mertua dan dua kakak iparnya membersihkan meja makan kemudian mencuci piring. Selesai dengan semua itu, Caca berpamitan pada mereka untuk kembali ke kamar terlebih dahulu.
“Ngapain lo ke sini?” tanya Abimanyu sinis, saat Caca masuk ke dalam kamarnya.
Caca mengerjapkan matanya sekejap. Agaknya ia sedikit terkejut dengan adanya Abimanyu di kamar tersebut dalam kondisi shirtless.
Berusaha menormalkan dirinya. Mata Caca memejam untuk sekejap, kemudian menatap malas pada suaminya. Ia masuk ke dalam kamar tersebut dengan santai.
“Bukannya mulai sekarang ini kamar gue juga?” ucapnya tanpa beban.
“Enak aja. Sampai kapan pun, kamar ini tetep kamar gue. Lo cuma numpang di kamar gue,” jawab Abimanyu ketus. Ia lantas memakai kaus yang baru saja ia ambil dari dalam lemari.
“Pelit banget lo jadi cowok!” seru Caca tak terima.
Abimanyu hanya mengedikkan bahunya sekilas. Ia lantas melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda, karena kehadiran Caca.
Pria muda itu kembali fokus pada laptop yang telah menyala di atas ranjang. Tampaknya pria itu tengah sibuk dengan tugas kuliahnya. Terlihat dari beberapa buku berserakan di atas tempat tidurnya, membuat kamar tersebut terkesan sedikit berantakan.
“Bi, lo nggak bisa apa ngerapiin buku-buku lo itu?” tanya Caca. Ia merasa cukup risi melihat buku-buku Abimanyu bertebaran di mana-mana.
Tak ada tanggapan dari si pemilik nama. Membuat Caca mendengkus sebal. Gadis itu pun lantas berusaha tak peduli lagi dan memilih untuk melakukan apa yang tadi ingin ia lakukan.
Satu jam mereka berada di kamar tersebut tanpa perdebatan. Mereka sibuk dengan tugas kuliah masing-masing. Meskipun Caca baru saja menikah, namun gadis itu tak mengambil hari libur. Lagi pula, teman-temannya tidak ada yang tahu bahwa ia menikah kemarin, karena memang rencananya, Caca dan Dean akan mengadakan acara tersendiri untuk teman-teman mereka.
Dean. Mengingat pria itu, membuat Caca diserang rasa sedih kembali. Gadis itu tampak menghentikan tangannya yang tengah menari di atas keyboard. Ia lantas mengambil ponsel dan mencoba menelepon nomor Dean. Namun, hasilnya masih sama seperti kemarin, nomor tersebut tidak bisa dihubungi.
“Kamu ke mana, De?” gumam Caca.
“Semoga enggak terjadi apa-apa sama kamu dan kamu dalam kondisi baik-baik saja,” gumam Caca lagi.
“Heh, Cabul!”
“Heh, Cabul!” ucap Abimanyu lagi.
“Nama lo Cahaya Bulan kan? Bener dong kalau gue manggil lo Cabul,” tutur Abimanyu membuat Caca meradang.
“Heh, nyokap gue ngasih nama sebagus itu, dan lo manggil gue kayak gitu?” Mata Caca memicing tak terima.
“Nggak sopan banget, ya, lo!” sentak gadis itu.
“Biar cepet. Geli gue manggil lo Caca. Kayak anak kecil,” jawab Abimanyu. Sepertinya pria itu memang sengaja memancing emosi Caca dengan memanggilnya seperti itu.
“Lo–”
“Kenapa?”
“Terserah!”
Abimanyu terkekeh melihat raut kesal Caca.
“Heh, gue mau kita bikin perjanjian,” ucap Abimanyu serius. Pria itu turun dari tempat tidur dan mendekati Caca yang tengah duduk di depan sofa kamarnya.
“Perjanjian?” tanya Caca tak paham.
“Iya perjanjian. Berhubung kita ini menikah bukan keinginan kita masing-masing, jadi gue pengen buat perjanjian sama, lo, gimana?”
Caca tampak berpikir dengan usulan Abimanyu. Tak lama ia pun mengangguk setuju.
“Oke, perjanjian pertama masalah kamar–”
“Maksud lo?” potong Caca.
“Dengerin dulu!” seru Abimanyu kesal.
“Berhubung kita berada dalam satu kamar dan gue nggak mau satu ranjang sama lo. Gue mau kita tidur secara bergantian di ranjang itu,” tutur Abimanyu seraya menunjuk tempat tidurnya.
“Jadi, jika hari ini gue tidur di ranjang, besok lo boleh tidur di sana,” imbuhnya.
“Terus kalau lo tidur di sana gue tidur di mana?” tanya Caca.
Abimanyu menepuk sofa yang tengah ia duduki.
“Gila kali, lo biarin cewek tidur di sofa!” sentak Caca.
Menghela napas pelan. Abimanyu diam saja saat Caca mengajukan protes. Dalam benaknya ia bertanya-tanya, kenapa para wanita begitu cerewet?, kenapa mereka diciptakan dengan banyak kosa kata dalam kepala mereka?.
“Stop! Gue belum selesai ngomong, Cabul.” Abimanyu mengangkat sebelah tangannya di depan wajah Caca.
Caca pun terdiam. Bukan karena permintaan Abimanyu untuk berhenti. Namun, karena pria itu masih memanggilnya Cabul. Gadis itu jadi merasa kesal sendiri.
“Di awal gue udah ngomong. Kita tidur di sana gantian. Jadi, jika malam ini gue yang tidur di ranjang, besok malam lo yang tidur di sana dan gue tidur di sofa,” jelas Abimanyu dengan tenang.
“Gimana?” tanyanya kemudian.
Caca tampak berpikir. Ia jadi bimbang untuk menyetujui permintaan Abimanyu satu ini. Jika Caca setuju otomatis dia harus bersiap untuk tidur di sofa malam ini. Tapi, jika tidak setuju, Caca takut malah akan diusir dari kamar ini. Dan tentu saja Caca tidak mau jika harus diusir. Akan sangat memalukan.
“Oke, gue setuju. Tapi, lo nggak boleh bohong. Kalau malam ini lo bisa dapet ranjang, besok lo nggak boleh tidur di ranjang lagi,” peringat Caca dengan jari telunjuk terangkat.
Abimanyu menepis tangan Caca yang berada tepat di depan wajahnya.
“Iya, bawel!”
“Oke, masalah kesejahteraan dalam hal tidur udah selesai. Sekarang, gue mau bahas masalah hubungan kita,” tutur Abimanyu. Sejenak ia memandang wajah cantik Caca, sebelum ia berusaha untuk membuang muka dari gadis itu.
“Gue mau, hubungan kita disembunyikan. Lo kasih tahu dua sahabat lo itu untuk tutup mulut masalah pernikahan kita. Kalau sampai ada anak kampus yang tahu dan itu gara-gara mulut ember temen lo itu. Gue nggak akan segan-segan hukum mereka berdua.”
Mata Caca memicing. “Sebenarnya, ya, Bi. Sebenarnya. Tanpa lo minta pun gue udah mikirin hal itu. Beruntung gue nggak ngundang temen gue kemarin. Jadi, satu kampus nggak akan tahu kalau sekarang kita ini ....” Caca merasa lidahnya kelu saat ingin mengatakan bahwa mereka adalah sepasang suami istri.
“Ya, lo tahu lah kita ini apa,” lanjutnya.
Abimanyu mengangguk. Namun, ada satu hal yang tiba-tiba membuat hatinya mengganjal.
“Ca, kenapa lo sama Dean nggak ngundang temen kampus saat resepsi kemarin?” tanya Abimanyu penasaran.
“Ya, karena kita mau bikin party sendiri khusus buat temen-temen,” jawab gadis itu cepat.
“Lo nggak curiga kalau Dean sengaja nggak ngundang temen-temen kalian, biar dia bisa kabur tapi nggak mempermalukan nama dia?”
Caca tertegun dengan pertanyaan Abimanyu. Ia pun terdiam tak tahu harus menjawab apa.
***
Jangan lupa like dan komen❤