Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 79 : Baru kali ini


“Kamu kenapa diem aja dari tadi?”


Pertanyaan yang terlontar dari bibir Dean membuat Caca mau tak mau menatap pemuda itu. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang. Setelah berbicara dengan Banyu, Caca mengajak Dean untuk segera kembali.


Caca menundukkan kepala seraya menjawab, “Nggak papa, capek aja.” Gadis itu tersenyum tanpa menatap lawan bicaranya.


Pandangan mata Caca kembali terbuang ke luar jendela. Matahari sudah mulai menenggelamkan diri. Itu artinya sebentar lagi Abimanyu akan datang menjemputnya.


“Bisa kamu percepat? Aku harus segera sampai kafe,” pinta Caca.


Dean menatap sekilas pada sang mantan kekasih. Ia hendak menggenggam tangan mungil itu, tetapi Caca lebih dulu menghindar.


“Bu, kenapa kamu jadi kayak gini?” tanya Dean. Hatinya terasa sakit mendapati Caca tak bersemangat lagi saat bersamanya.


Caca membuang napasnya pelan. Ia memiringkan tubuhnya untuk menghadap seseorang di sampingnya.


“Dean, aku sudah bersuami.”


Tiga kata itu mendapat tawa ironi dari Dean. Pemuda itu membuang muka untuk menutupi rasa kecewanya.


“Tapi, kamu nggak cinta kan sama suami kamu?”


Diam, Caca tak bisa langsung menjawab pertanyaan itu. Ia tatap Dean dengan cukup dalam.


“Cinta atau enggak, bagaimanapun juga aku tetep bersuami, De.” Caca menautkan jemarinya. “Aku nggak bisa kembali ke kamu. Tapi, kita masih bisa berteman.”


Senyum kecil Caca terbit. Ia menepuk bahu sang mantan kekasih.


“Kamu pasti bisa dapet yang jauh lebih dari aku, De,” ucap Caca.


Tak terasa mereka sudah sampai di depan kafe. Dean menepikan mobilnya tanpa membalas ucapan Caca. Pemuda itu hanya diam saat Caca membuka sabuk pengamannya. Kemudian, tersenyum kecut saat Caca keluar dari mobilnya.


Netra Dean tak lepas dari tubuh Caca yang mulai menghilang saat memasuki pelataran kafe. Tempat di mana mereka dulu sering menghabiskan waktu bersama.


“Sialan!”


Dean memukul setir mobilnya dengan cukup keras. Raut mukanya terlihat begitu murka setelah Caca tidak lagi terlihat.


**


Hari ini cukup melelahkan bagi seorang Abimanyu. Sejak tadi pagi pria itu wira-wiri di kampus. Sebagai ketua BEM Abimanyu memiliki tanggung jawab penuh terhadap suatu acara yang diadakan oleh organisasi di bawah naungannya. Apalagi ia juga berkecimpung di dalamnya juga.


Dua hari lagi klub futsal yang Abimanyu ikuti akan melakukan pertandingan. Siang tadi Aldo memintanya untuk ikut latihan meskipun besok Abimanyu tidak akan ikut bertanding, karena ia sudah tidak bisa lagi ikut latihan secara rutin. Meskipun begitu, Abimanyu tetap diminta hadir dalam pertandingan itu sebagai cadangan.


Sudah hampir setengah jam Abimanyu mengguyur tubuhnya di bawah sower kamar mandi. Ia yang merasa sangat kegerahan memilih berlama-lama di sana. Setelah merasa sedikit kedinginan, Abimanyu menyudahi kegiatan mandinya. Pemuda itu lantas keluar hanya menggunakan handuk yang melingkari pinggangnya. Di tangannya juga ada handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


Tidak ada siapa pun di dalam kamar membuat kening Abimanyu terlipat halus. Pasalnya, tadi sang istri berada di sana dan sedang menunggunya selesai mandi sambil tiduran. Gadis itu berkata ingin istirahat sebentar sebelum membersihkan diri.


Selang beberapa detik kemudian pintu kamar itu terbuka. Caca masuk membawa handuk dan pakaiannya sudah berganti. Wajahnya yang tampak lebih segar meyakinkan Abimanyu bahwa gadis itu baru saja mandi.


“Kamu udah mandi?” tanya Abimanyu. Ia mendekati Caca masih tanpa busana.


Sontak saja Caca memalingkan wajah. Caca tidak biasa melihat suaminya bertelanjang dada dalam jarak sedekat ini. Gadis itu semakin gugup saja saat jarak mereka semakin dekat. Tatapan matanya terbuang ke mana-mana, tidak berani menatap tubuh bagian atas sang suami.


“Ca, kamu ditanya malah diem. Gimana sih?” tegur Abimanyu sedikit kesal.


Caca berdecak, tanpa menatap suaminya Caca meminta Abimanyu untuk mengenakan pakaiannya terlebih dahulu.


Kedua tangan Caca berada di dada Abimanyu. Matanya membulat sempurna saking terkejutnya. Caca tidak bisa lagi bergerak. Ia terbeku dengan posisi mereka saat ini.


“Kenapa sih, takut banget!” Abimanyu tertawa seraya menyentuh dagu Caca dengan jari telunjuknya.


“Abi lepas dulu, ih. Pakek baju dulu sana!” Caca memukul dada Abimanyu. Terasa sangat dingin, tetapi juga sedikit hangat.


Abimanyu menyeringai. “Pakek in, dong!”


Caca berdecak. “Aku cariin deh bajunya, tapi pakai sendiri.”


Caca kembali mencoba melepas tangan Abimanyu yang masih senantiasa berada di pinggangnya. Namun, rasanya sangat sulit, karena Abimanyu memang masih menahannya.


Oke, Caca menyerah. Meskipun sedikit gugup dengan posisi mereka yang sangat intim ditambah Abimanyu yang tidak memakai apa pun selain handuk, Caca mencoba untuk biasa saja. Caca menghela napas pasrah. Tangannya pun ikut melingkar di pinggang Abimanyu.


“Kamu nanti kedinginan, loh Bi. Ini udah malem,” ucap Caca. Netranya menatap dalam pada bola mata Abimanyu yang berwarna hitam legam.


Abimanyu tak menjawab. Pemuda itu justru tersenyum, kemudian menundukkan kepala. Menyentuhkan bibirnya pada bibir sang istri yang rasanya terasa amat manis. Awalnya Abimanyu hanya menyentuhkan bibir mereka. Namun, saat tidak ada penolakan apa pun dari Caca justru mendorong dirinya untuk ******* bibir merah muda itu.


Netra Caca terpejam seiring ******* mereka yang semakin dalam. Ia memiringkan kepala ke kanan dan kiri mengikuti irama dari dalam dirinya. Perlahan tangan Caca mengalung pada leher Abimanyu saat mulai menikmati ciuman itu. Dapat Caca rasakan tangan Abimanyu yang semakin erat memeluk pinggangnya. Tangan pemuda itu juga semakin menekan tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka.


Cukup lama mereka dalam posisi itu, hingga mereka saling memundurkan kepala kala pasokan oksigen mereka semakin menipis. Caca mendorong dada Abimanyu untuk sedikit menjauhkan tubuh mereka. Kepalanya menunduk, merasa malu dengan apa yang baru saja mereka lakukan.


Tangan Abimanyu meraih dagu Caca. Mengangkat kepala itu agar menatap padanya. Kedua sudut bibir Abimanyu terangkat. Ibu jarinya mengusap bibir Caca yang basah akibat ciuman mereka yang cukup lama. Senyumnya pun semakin lebar mendapati pipi Caca memerah.


Tidak ada satu kata yang terucap dari bibir mereka selama beberapa detik. Hingga kemudian Caca kembali meminta suaminya untuk segera mengenakan pakaian supaya tidak kedinginan.


Udara malam yang mulai membelai tubuhnya membuat Abimanyu mengikuti permintaan sang istri. Ia mengambil pakaiannya dari tangan Caca. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Abimanyu menyempatkan diri mencium bibir gadis itu sekilas.


**


Jarum jam menunjukkan pukul delapan lebih sepuluh menit. Kampus sudah cukup ramai di jam ini. Sepeda motor dan juga mobil sudah banyak berjajar di tempat parkir.


Abimanyu mematikan motornya setelah menemukan tempat kosong. Ia menoleh ke belakang sebelum membuka pelindung kepalanya. Caca tampak berjalan menghampirinya. Helm gadis itu sudah tidak lagi terpasang di kepala. Rambutnya pun sudah rapi. Sepertinya Caca sempat merapikan rambutnya sebelum menghampiri Abimanyu.


Setelah menerima helm berwarna abu-abu milik Caca, Abimanyu meletakkannya di kaca spion. Pemuda itu lantas turun dari motor kemudian mengajak Caca untuk segera menuju kelas mereka.


Caca memandangi telapak tangannya yang saat ini sedang digenggam erat oleh suaminya. Sepertinya ini kali pertama Abimanyu berani menggandeng tangan Caca saat berada di kampus. Sebelumnya Abimanyu hanya berjalan di samping Caca. Namun, Caca juga tak mempermasalahkannya.


Gadis itu justru tersenyum dan semakin mendekatkan dirinya pada tubuh sang suami. Tidak ada percakapan di antara mereka. Hanya sesekali kepala mereka mengangguk membalas sapaan para teman mereka.


Langkah Caca dan Abimanyu masih terayun tenang. Sampai saat mereka akan menaiki tangga, tiba-tiba Caca menghentikan langkahnya. Beberapa meter di depan sana, Caca melihat Crystal sedang memeluk Dean dengan erat.


“Itu Crystal kan?” gumam Caca.


Abimanyu membenarkan pertanyaan sang istri.


“Iya, mereka itu deket dari masih SMA,” jawab Abimanyu ikut memandang dua manusia itu.


“Kok, aku baru tahu Dean deket sama Crystal,” gumam Caca lagi. Kali ini raut wajahnya tak terbaca.


Abimanyu menatap Caca kemudian bertanya, “Kamu cemburu?”


“Hu?”