
“Kenapa?” tanya Caca pada seseorang di seberang telepon itu.
“Ca, ada yang cariin kamu,” jawab karyawan kafe itu.
“Siapa? Suruh ke ruangan aku aja!” titah Caca. Ia mematikan sambungan telepon itu, kemudian kembali menyelesaikan laporannya.
Beberapa menit kemudian pintu ruangan Caca diketuk. Ia pun menyuruh untuk masuk saja. Telinganya menangkap suara pintu terbuka. Namun, karena belum selesai dengan pekerjaannya Caca memilih untuk abai sejenak.
Hingga satu panggilan dari seseorang yang kini berada satu ruangan dengannya membuat Caca terbeku.
“Bu!”
Caca bergeming di tempatnya. Suara dan panggilan itu membuatnya tak bisa lagi bergerak. Detak jantungnya berdebar cepat, seolah ingin keluar dari tempatnya.
Masih melekat dengan kuat pada ingatan Caca siapa gerangan yang memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Hanya satu orang yang memanggil Caca dengan sebutan itu. Hanya satu dan itu ...
“Dean?” gumam Caca.
Caca tak berani menoleh ke belakang. Ia takut, sangat takut jika seseorang itu benar-benar Dean kekasihnya. Ralat mantan kekasihnya. Caca sepertinya belum sanggup untuk bertemu dengan pemuda itu. Hati Caca masih belum sembuh total untuk bertatap langsung dengannya.
Namun, sejatinya ia juga penasaran dengan keadaan pemuda itu. Kemarin seseorang mengiriminya foto Dean yang tengah disekap, tetapi justru kini dia sudah ada di sini. Seperti hal yang mustahil. Apa mungkin Caca berhalusinasi saja?. Untuk mencari jawabannya Caca pun memberanikan diri memutar kepala.
Gadis itu terdiam selama beberapa detik saat menatap langsung pada seseorang yang sebenarnya masih ia tunggu kehadirannya sampai saat ini. Netra Caca berkaca-kaca. Amarah, rindu, dan sakit kini bercampur menjadi satu kala tatapan mata mereka bertemu. Caca harap semua ini hanya mimpi. Ia belum siap bertemu pemuda itu.
“Bu, ini aku,” ucap pria itu. Seolah menyadarkan Caca bahwa ini adalah nyata.
Caca tak kuasa menatap mata teduh pemuda itu. Ia pun memalingkan muka. “Untuk apa kamu ke sini?” sinis Caca. Air matanya sudah hampir menetes, tetapi Caca menahannya sekuat tenaga.
“Bu, aku akan menjelaskan–”
“Apa yang mau kamu jelaskan lagi, De?” tukas Caca.
“Bulan, kumohon. Dengarkan aku sekali ini saja!” pinta Dean, mengiba.
Caca menggeleng. Air mata yang sedari tadi ia tahan kini luruh juga. Namun, Caca tak ingin terlihat lemah di hadapan Dean. Ia pun menyeka air matanya, kemudian beranjak berdiri. Dengan keberanian yang telah ia pupuk selama beberapa menit tadi, Caca menatap sang mantan kekasih yang kini berdiri tepat di hadapannya. Caca sedikit terenyak mendapati beberapa luka lebam di wajah Dean. Ingatannya pun langsung tertuju pada foto yang ia terima beberapa hari yang lalu. Umpatan yang hendak ia sampaikan pun tertelan kembali setelah melihat kondisi Dean yang sangat ... mengenaskan.
“Bu, apa kamu masih percaya padaku?” Dean berjalan mendekat. “Bu, aku tidak pernah berniat mengkhianati kamu,” ujar pemuda itu. Netranya mengiba, meminta Caca untuk memercayainya.
Air mata Caca tak bisa terbendung kala menatap pemuda itu. Namun, ia juga tidak bisa untuk mendekat. Rasanya masih sangat sakit mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.
“Aku tahu kamu pasti kecewa. Aku tahu kamu pasti marah. Tapi, aku mohon dengarkan aku!” Dean menatap Caca dengan tatapan teduhnya. Sesekali ia meringis menahan sakit yang mendera tubuhnya.
“Bu, dengarkan aku. Aku tidak pernah berniat meninggalkan kamu di hari pernikahan kita.” Tidak ada suara yang keluar dari bibir Caca membuat Dean memberanikan diri untuk terus berbicara.
“Saat aku berangkat ke hotel, ada beberapa mobil yang mengikutiku dari rumah. Awalnya aku tidak menghiraukan mereka. Tapi, lama-lama aku curiga. Hingga saat hampir sampai, mobil itu menghentikan mobilku. Mereka menyuruhku untuk keluar, dan setelah aku benar-benar keluar aku tidak bisa mengingat apa pun. Mereka membiusku kemudian membawaku ke tempat yang aku tidak tahu. Mereka menyekapku, mengikat aku. Bahkan terkadang mereka memukuliku sampai aku pingsan lagi jika aku memberontak.”
Dean memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. “Dan aku bisa sampai di sini sekarang karena aku berusaha melarikan diri. Aku bahkan hampir tertangkap tadi. Tapi, untungnya Tuhan memberiku penyelamat. Ada seseorang yang menemukan aku dan menolongku hingga aku bisa sampai di sini.”
Caca kembali terenyak mendengar pengakuan Dean. Gadis itu sampai terduduk tak berdaya di kursinya.
“Bu, maafkan aku telah meninggalkan kamu di hari pernikahan kita.” Dean berlutut di hadapan Caca. Ingin menggenggam tangan itu, tetapi ditepis oleh Caca.
Caca memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Ia tidak menyangka hal itu terjadi pada Dean saat hari pernikahan mereka kemarin.
“Siapa yang melakukan semua itu?” gumam Caca lirih. Namun, masih bisa didengar oleh Dean.
“Aku tidak tahu. Tapi, aku sering mendengar mereka menyebutkan satu nama.”
Caca mendongak. “Siapa?”