Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 78 : Berbeda


“Jadi, semalem kamu nemuin dia?” tanya Abimanyu memastikan.


Tidak ada lagi yang bisa Caca lakukan selain mengangguk dan membenarkan. Ia tidak mau membuat kebohongan yang nanti pastinya akan ada lebih banyak kebohongan lagi.


“Tega kamu, Ca!”


Sumpah demi apa pun Caca merasa sangat bersalah saat ini. Ditambah raut muka Abimanyu yang begitu kentara akan rasa kecewa membuatnya semakin didera rasa bersalah. Namun, ia juga bingung harus apa.


“Bi, maaf.” Caca mencekal pergelangan tangan Abimanyu. Tidak akan Caca biarkan pemuda itu pergi dalam kondisi seperti ini.


Tanpa melepaskan tangan suaminya, Caca menutup buku yang tadi ia baca. Bahkan Caca menyeret Abimanyu untuk mengikutinya menuju meja petugas perpustakaan untuk meminjam buku tersebut.


Setelah itu Caca membawa Abimanyu menuju tempat yang cukup sepi. Caca menatap sekitar memastikan tidak ada siapa pun di sana.


“Kayaknya aku memang udah nggak punya harapan sama kamu, ya, Ca!” ucap Abimanyu sesaat setelah keduanya saling bertatap mata.


“Bi, aku minta maaf untuk semalem. Maaf udah nuduh kamu yang enggak-enggak dan maaf karena udah ke tempat Dean tanpa sepengetahuan kamu.” Caca menghela napas pelan.


“Semalem aku cuma ... aku nggak tahu harus ke mana saat aku pikir satu-satunya sandaran aku justru mengkhianati aku,” imbuh Caca. “Aku nggak mungkin ke rumah orang tua aku, karena mereka pasti akan marah besar ke kamu. Aku masih mikirin kamu setelah kesalahpahaman itu.” Caca menggenggam telapak tangan Abimanyu.


“Aku minta maaf, oke,” ucap Caca terdengar sangat tulus. Tatapan matanya sangat mengiba.


Entah kenapa rasanya Abimanyu tak bisa marah kepada istrinya. Rasa kecewanya menguap begitu saja melihat tatapan mata Caca.


Abimanyu memindahkan helaian rambut Caca ke belakang telinga. “Aku tahu kamu pasti masih punya rasa sama Dean, aku nggak masalah kamu masih percaya sama dia atau enggak. Tapi, aku cuma minta satu hal ke kamu. Jangan terlalu dekat sama dia, karena aku pasti akan cemburu.” Abimanyu tak sungkan mengungkapkan perasaannya. Baginya sudah tidak ada gunanya lagi ia menyembunyikan apa yang ia rasakan. Caca harus tahu seberapa besar rasa cintanya.


“Maaf, ya, Bi.” Caca memeluk tubuh hangat Abimanyu. “Aku nggak bisa janji untuk jauhin Dean atau temen cowok aku yang lain. Tapi, aku akan berusaha untuk nggak terlalu dekat sama mereka.”


Abimanyu mengerti, namanya masih belum bisa memenuhi relung hati Caca. Namun, Abimanyu berusaha untuk menerima. Seseorang bilang rasa akan tumbuh seiring berjalannya waktu.


Kebersamaan mereka juga masih menginjak dua bulan. Perjalanan mereka tentu masih sangat panjang untuk merajut benang asmara.


**


Caca memandangi jalan raya dari balik kaca mobilnya. Tatapannya terus tertuju pada para pengendara yang mayoritas berseragam sekolah menengah atas. Sesekali Caca tersenyum kecil melihat banyaknya anak sekolah yang naik motor. Beberapa dari mereka berboncengan dengan teman ataupun dengan kekasihnya. Di mata Caca, mereka sangat menggemaskan.


Satu usapan lembut di bahunya membuat Caca sontak menoleh. Ia tersenyum kecil pada Dean yang juga tengah tersenyum padanya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah keluarga Caca.


Kemarin Dean meminta secara langsung kepada Caca untuk mengantarkannya ke rumah orang tua gadis itu. Dean ingin meminta maaf kepada Banyu dan Jingga, karena telah mengacaukan pernikahannya dan putri sulung mereka. Kepada Caca, Dean mengaku tidak berani mendatangi rumah keluarga besar gadis itu seorang diri. Ia membutuhkan teman dan pastinya hanya Caca yang bisa menemaninya ke sana.


Caca pun tidak keberatan menemani Dean ke rumah orang tuanya. Lagi pula Caca sedang merindukan mereka. Meskipun beberapa kali Caca bertemu ayah atau ibunya di kafe maupun restoran, tetap saja tidak bisa mengalahkan rindu yang saat ini ia miliki. Bahkan Caca kini sedang membayangkan sehangat apa tubuh ayah dan ibunya saat mereka berpelukan nanti.


Namun, semua bayangan itu sirna setelah Caca memasuki rumahnya bersama sang mantan kekasih. Tak ada senyum hangat yang terukir di bibir Banyu. Raut wajah pria itu juga terlihat sangat berbeda dari biasanya. Jingga pun tidak seperti biasanya. Wanita itu hanya tersenyum kecil saat menyuruh Caca dan Dean duduk di ruang tamu.


“Saya sudah memaafkan kamu, untuk apa kamu kemari!” ucap Banyu dengan ketus. Pria itu sudah tahu maksud dan tujuan kedatangan Dean. Ia tak segan memperlihatkan rasa tak sukanya pada mantan calon menantunya.


“Ayah,” tegur Caca. Ia tidak menyangka sang ayah akan berbicara seperti itu.


“Saya hanya ingin meminta maaf secara langsung kepada om dan tante. Saya akan terus dihantui rasa bersalah jika tidak datang kemari. Bagaimanapun juga saya perlu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi,” jawab Dean tenang. Kedua sudut bibirnya terus terangkat selama ia berbicara, seolah tidak ada rasa marah setelah mendengar perkataan Banyu.


“Tidak ada yang perlu kamu jelaskan, saya sudah mendengar semuanya,” balas Banyu. Nada bicaranya masih seperti tadi.


“Ayah, sepertinya kita harus berbicara berdua,” ucap Caca. Gadis itu benar-benar tidak tahan melihat sikap dingin pria itu.


Banyu tidak menjawab, tetapi ia berdiri dari duduknya. Kemudian melangkah menuju satu ruangan yang biasa ia gunakan untuk menyidang para anak-anaknya.


“Kenapa sikap ayah kayak gitu ke Dean?” tanya Caca tanpa basa-basi. Gadis itu mendudukkan dirinya di hadapan sang ayah setelah mengunci pintu.


Banyu menatap mata putri sulungnya dengan tajam. “Memangnya ayah harus bersikap seperti apa kepada seseorang yang hampir menghancurkan masa depan putri ayah?”


“Ayah, Dean nggak kayak gitu, dia itu–”


“Cukup, kamu nggak perlu lanjutin. Ayah udah tahu semuanya. Dean diculik di hari pernikahan kalian, dia diperlakukan tidak manusiawi di tempat penyekapannya dan akhirnya bisa kabur beberapa hari yang lalu. Benarkan?” Banyu memicing pada Caca. Pria itu menghela napas.


“Ayah sudah memaafkan Dean, Sayang. Tapi ayah masih belum bisa jika harus bertemu dengan dia secara langsung. Ayah masih sangat kecewa. Ayah masih sangat sakit mengingat acara pernikahan kamu kemarin,” imbuh Banyu.


“Ayah juga nggak suka lihat kamu sama Dean. Kamu ini sudah punya suami. Seharusnya kamu tahu batasan kamu.” Banyu menggenggam tangan Caca. Tidak tega melihat putrinya yang semakin berkaca-kaca, Banyu pun memeluk tubuh itu dengan erat.


“Maaf kalau sikap ayah terlalu kasar ke kamu. Ayah hanya ... ayah kecewa lihat kamu sama Dean lagi.” Banyu merenggangkan dekapannya.


“Suami kamu tahu kamu ke sini sama Dean?” tanya Banyu.


Gelengan kepala dari Caca lagi-lagi membuat Banyu mengembuskan napas kecewa.


“Aku janji ini yang terakhir, Yah. Aku nggak akan pergi sama Dean lagi tanpa seizin Abi,” janji Caca.


“Ayah pegang janji kamu. Dan jika kamu mengulangi lagi ayah tidak akan membela kamu kalau Abimanyu marah. Ayah juga nggak akan bertanggungjawab kalau suatu saat Dean menyakiti kamu lagi seandainya kamu dan dia tetap seperti ini.”


Caca menganggukkan kepalanya beberapa kali sebagai tanda bahwa ia mengerti. Banyu pun kembali merengkuh tubuhnya dengan erat. Mengecup kepalanya cukup lama untuk meluapkan rasa rindunya pada Caca.


“Sekarang kamu pulang. Besok kamu ke sini lagi, tapi hanya dengan Abi,” ucap Banyu setelah melepaskan pelukan mereka.


**


Haloha! Maaf baru sempet update setelah libur beberapa hari. Ada beberapa hal yang membuat mood aku down untuk nulis, salah satunya view NT yang agak aneh.


Kenapa aneh? Karena setiap aku update view-nya dikit banget, tapi waktu aku nggak update view-nya naik drastis. Kan jadinya lucu :v


Yah, kan jadi curhat. Intinya ya, Guys. Doain mood-ku stabil terus dan sistem NT lebih baik lagi kedepannya.


Terima kasih buat yang masih nunggu, **Jangan lupa like dan komen.


Nb: Beberapa part ke depan agak menjengkelkan, ya. Jadi, kalian harus sabar wkwk**