Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 26


“Bun, aku beres-beres dulu, ya.”


Caca berlalu meninggalkan dapur yang telah kembali rapi setelah ia kacaukan beberapa saat yang lalu.


Setelah menutup pintu kamar, Caca mengambil handuk dan baju ganti yang akan ia kenakan saat kuliah nanti. Hanya memerlukan waktu dua puluh menit Caca sudah selesai dengan ritual mandinya. Gadis itu mematut diri di depan kaca. Memoleskan lipstik berwarna pink ke bibirnya. Tampak begitu manis untuk gadis seusia Caca.


“Tumben pakai softlens,” tegur Abimanyu saat mendapati istrinya memasang softlens berwarna hitam. Biasanya gadis itu memakai kacamata bulatnya saat ke kampus.


Sesudah matanya mengedip untuk beradaptasi dengan softlens Caca menoleh sekejap pada suaminya. “Lagi pengen aja,” jawabnya sambil tersenyum manis. Ia kembali mengarahkan pandangan pada cermin, lanjut menyisir rambutnya dan mengikatnya tinggi seperti ekor kuda.


Hanya dengan berpenampilan seperti itu saja Abimanyu merasa istrinya sudah sangat cantik. Namun, sedetik setelah itu Abimanyu menggeleng. Seolah tengah menyadarkan diri dari pikirannya yang entah sejak kapan sering memuji paras ayu istrinya.


Tak ingin berlama-lama menatap gadis itu, Abimanyu melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Setelah olahraga, badannya terasa lengket dan ia perlu air dingin untuk kembali menyegarkan diri supaya nyaman saat perkuliahan nanti.


Usai sarapan bersama keluarga sang suami, Caca menghampiri mobil pribadinya. Di saat yang bersamaan Abimanyu tengah memanasi motornya di sana.


“Kamu hari ini berangkat pakai mobil?”


Caca mengangguk menanggapi pertanyaan Abimanyu.


“Tumben, emangnya mau ke mana?” Kening Abimanyu terlipat halus. Menunjukkan rasa penasaran yang menerpa pemuda itu.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Caca menatap Abimanyu. Entah kenapa Caca merasa Abimanyu terlalu cerewet hari ini.


“Aku mau ke rumah ayah. Hari ini ulang tahun Ata dan aku mau bawa kado buat dia. Jadi, harus bawa mobil.” Caca membuka pintu mobilnya, tetapi sebelum masuk gadis itu teringat sesuatu.


“Oh, iya. Nanti aku pulang agak malem. Mumpung bisa ke sana, mau ngabisin waktu sama mereka.” Tanpa menunggu jawaban suaminya Caca sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil dan melajukannya.


Di tempatnya berdiri, Abimanyu hanya bisa memandang Caca tanpa bisa berucap apa-apa. Sebenarnya ia kecewa, karena tidak diajak menghadiri acara keluarganya yang terkesan pribadi. Namun, pemuda itu tak bisa menyuarakan kekecewaannya, karena ia sadar Caca belum bisa menerimanya sebagai suami.


**


Melihat jam yang melingkar pada pergelangan tangannya, Caca mendesau kesal. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, tetapi Abimanyu masih belum keluar dari kelasnya. Ia pun mengambil ponsel dan menghubungi pemuda itu melalui pesan teks. Namun, belum sampai pesan itu Caca kirimkan sebuah ketukan pada kaca mobilnya membuat gadis itu mendongak.


Sembari memasang seatbelt-nya Abimanyu menjawab, “Baru bubar kelasnya.”


Caca hanya berdeham lantas melajukan mobilnya membelah jalan raya. Mereka menuju kediaman Caca untuk menghadiri acara keluarga gadis itu.


Awalnya Caca tak berpikir mengajak sang suami di acara keluarganya. Namun, tadi pagi Jingga menelepon Caca dan memarahi gadis itu, karena tak berniat mengajak suaminya. Sehingga siang tadi Caca mengirimkan pesan kepada Abimanyu untuk ikut dengannya secara mendadak dan syukurnya pemuda itu tak memiliki acara setelah perkuliahannya.


“Kenapa nggak ngomong dari pagi kalau ngajak aku? Tahu gini kan kita berangkat bareng dari rumah.” Abimanyu menoleh sekilas pada istrinya yang tengah serius menatap jalanan.


Abimanyu yang tadinya kecewa karena Caca tak ada niatan mengajaknya datang ke acara keluarganya berubah bahagia. Kala mendapati notifikasi pesan dari sang istri Abimanyu hampir saja berjingkrak senang, tetapi untung saja masih bisa ia tahan. Ia bahkan membatalkan agenda latihan futsalnya demi menemani sang istri pulang ke rumah.


“Tadinya aku pikir nggak perlu ngajak kamu, tapi ternyata mama nelpon dan marah-marah. Mama minta harus ada kamu atau aku nggak boleh ke sana.”


Meskipun terdengar cukup menyakitkan, karena Caca tak terlalu menginginkan kehadirannya, Abimanyu tetap merasa senang. Setidaknya ia tetap dihargai sebagai salah satu anggota keluarga gadis itu.


Tak terasa mereka telah sampai di kediaman sederhana milik keluarga Banyu. Caca segera mengajak suaminya turun. Namun, sebelum itu Caca mengambil sebuah kotak berukuran cukup besar dari kursi penumpang.


“Sini, aku aja yang bawa.” Abimanyu meraih kotak itu lalu melangkah mengikuti istrinya.


“Ca,”


Caca yang tadinya menatap layar ponsel seketika mendongak menatap seseorang yang suaranya begitu familier. Mata gadis itu berbinar mendapati seseorang yang ia rindukan berada di sana. Tanpa aba-aba Caca berlari dan memeluk pemuda itu dengan erat.


Dari ambang pintu masuk, Abimanyu mematung. Ia ragu saat hendak kembali melangkah. Melihat istrinya sedang memeluk pria lain, membuat jantung Abimanyu terasa berdenyut nyeri.


“Kenapa gue nggak suka lihat pemandangan ini?”


***


Jangan lupa like dan komen❤