Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 93 : Khawatir


Setelah sarapan di kantin kampus, Caca dan Abimanyu bergegas menuju kelas. Mereka yang tadi terlalu asyik mengobrol sampai lupa waktu dan mengakibatkan mereka harus berjalan sedikit cepat agar tidak terlambat masuk kelas.


Benar saja, baru dua menit Caca duduk di kursinya sang dosen sudah masuk ke dalam kelas dan memulai kelasnya. Caca bersyukur bisa datang tepat waktu. Hanya saja, ia sedikit kepikiran dengan nasib Abimanyu. Ia khawatir sang suami terlambat masuk kelas dan tidak diperbolehkan mengikuti mata kuliah. Jurusan mereka yang sama membuat Caca tahu dosen mana saja yang terkenal disiplin, dan sialnya kelas Abimanyu hari ini diisi oleh dosen tersebut.


“Mana oleh-oleh gue?”


Sebuah bisikan dari arah belakangnya membuat Caca terperanjat. Gadis itu sudah ingin memukul kepala Sofi saat tiba-tiba saja sang dosen memintanya maju ke depan.


Caca menuruti perintah sang dosen. Ia berdiri di samping dosen itu. Kemudian, menjelaskan sedikit tentang pembahasan minggu lalu. Untung saja Caca adalah gadis cerdas. Caca selalu mencatat apa saja yang disampaikan dosennya, sehingga sampai hari ini Caca masih ingat apa saja yang disampaikan minggu lalu.


Dua jam berlalu begitu saja. Caca dan kedua sahabatnya pergi ke taman kampus setelah kelas selesai. Caca memberikan dua paperbag kepada kedua sahabatnya itu. Paperbag itu berisi kue-kue khas Bogor. Selama Caca berada di sana, Maya dan Sofi tak pernah absen mengiriminya pesan untuk membawakan oleh-oleh.


“Ini doang?”


“Ini doang?” Kepala Caca miring, memicing kesal menatap Maya yang tengah membuka paperbag tersebut.


“Kalau mau banyak beli aja sendiri,” omel Caca kesal.


“Astaga, Ca. Bukan gitu!” seru Maya. Gadis itu mengerlingkan matanya pada Sofi untuk menjelaskan maksud ucapannya.


“Maksud Maya tu oleh-oleh yang ...” Sofi menggerakkan tangannya di depan perut, membentuk seperti setengah lingkaran sambil menaikturunkan alisnya.


Netra Caca melebar sempurna saat memahami maksud gerakan Sofi. Ia menoyor kepala gadis itu sampai kepala Sofi meneleng ke kanan.


“Astaga, Caca!” seru Sofi dengan bibir mengerucut.


“Makanya nggak usah aneh-aneh,” omelnya kesal. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Wajahnya berubah garang, seperti induk ayam yang diganggu orang.


Sofi dan Maya tertawa. Mereka kembali menggoda Caca dengan menanyakan bagaimana liburan kemarin. Mereka sangat suka bagaimana respons Caca saat menjawab pertanyaan mereka.


**


Setelah melewati hari yang sangat melelahkan, Abimanyu menjemput istrinya di kafe. Pemuda itu memarkirkan motornya di tempat parkir khusus karyawan. Ia segera mengarahkan langkahnya menuju ruangan sang istri yang berada di lantai dua.


Abimanyu mengetuk pintu ruangan Caca. Namun, tidak sahutan sama sekali dari dalam. Ia pun kembali mengetuk pintu tersebut hingga beberapa kali, tetapi tetap saja tidak ada respons dari dalam. Abimanyu pun menyerah, ia mencoba membuka pintu ruangan Caca yang ternyata tidak terkunci. Napas Abimanyu berembus lega saat mendapati ternyata istrinya ketiduran di sofa.


Tidak ingin mengganggu istirahat istrinya, Abimanyu memilih duduk di balkon ruangan tersebut. Pemuda itu mengeluarkan satu bungkus rokok, kemudian menyalakannya satu. Kepulan asap rokok itu sudah mulai beterbangan tak lama kemudian. Abimanyu menikmati malam itu dengan satu batang rokok untuk sedikit merelakskan pikirannya. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang untuk melihat Caca. Hingga satu batang rokok itu habis, Caca belum terbangun juga.


Abimanyu memanfaatkan waktu tersebut untuk kembali menghisap lintingan nikotin itu. Beberapa saat Abimanyu memikirkan tentang hubungannya dengan Caca yang semakin hari semakin membaik. Kecemburuan gadis itu saat berada di pesta pernikahan kemarin meyakinkan Abimanyu mengenai perasaan Caca kepadanya. Tidak perlu Abimanyu tanya lagi, Caca sudah pasti juga menaruh rasa padanya.


Namun, semakin ia yakin dengan perasaan mereka yang sama, semakin Abimanyu takut akan rintangan yang harus mereka hadapi ke depan. Abimanyu adalah orang yang percaya bahwa tidak akan ada jalan mulus untuk mencapai sesuatu. Pasti akan ada banyak cobaan yang harus mereka hadapi selama masih hidup di dunia.


Salah satu yang menimbulkan ketakutan pada benak Abimanyu adalah sepupunya sendiri. Apalagi saat tadi pagi ia melihat Dean menatapnya dan Caca yang sedang menuju kantin. Dalam tatapan Dean itu Abimanyu tahu, ada setitik api kemarahan yang entah karena apa. Ia takut Dean justru ingin merebut Caca setelah mencampakkan gadis itu. Abimanyu tak akan pernah siap jika suatu saat Dean mencoba untuk mengambil Caca dari sisinya.


Hah!


Abimanyu mendengkus. Ia mematikan rokoknya yang tinggal sedikit. Terlalu lama di sana sendiri sepertinya membuat Abimanyu semakin frustrasi. Abimanyu pun memilih beranjak, ia membutuhkan segelas air dingin untuk menetralkan kembali pikirannya yang sudah berkelana.


Saat mengambil air dari dispenser yang ada di ruangan Caca, Abimanyu melihat istrinya bergerak. Pemuda itu meneguk isi gelasnya tanpa mengalihkan pandangan dari Caca yang sedang mencoba mengembalikan nyawa.


“Jam berapa sih ini?” tanya Caca pada dirinya sendiri. Ia masih belum sadar ada orang lain di dalam sana.


“Jam delapan.”


“Kenapa sih kamu?” tanya Abimanyu heran. Ia membantu Caca mendudukkan tubuhnya dengan benar.


“Kamu tu ngagetin tahu nggak!” gerutu Caca sedikit kesal. Caca mengusap wajahnya untuk menyadarkan dirinya.


Abimanyu diam. Ia tidak lagi menanggapi sang istri atau ia akan dimakan oleh perempuan satu ini. Caca memang menjengkelkan saat bangun dari tidurnya jika rasa lelah mendera tubuhnya. Apalagi sejak tadi Caca tidur di sofa yang sangat kecil.


Caca kembali memejamkan mata. Kepalanya terasa sangat pusing setelah tidur beberapa jam. Hari ini begitu melelahkan bagi Caca. Ia sangat mengantuk, sampai-sampai tidak menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.


“Pulang, yuk,” ajak Caca dengan lemas. Badannya seperti tidak bertenaga.


“Kamu udah makan belum?” tanya Abimanyu. Ia kemudian berdecak saat Caca menggelengkan kepala.


“Makan dulu, ya?” tawarnya kemudian.


Tanpa menunggu persetujuan dari Caca, Abimanyu pergi ke dapur. Ia meminta salah seorang juru masak di sana untuk membuatkan nasi goreng untuk istrinya. Setelah beberapa menit menunggu, Abimanyu kembali ke ruangan Caca dengan membawa nampan berisi nasi goreng dan air putih.


Abimanyu meminta istrinya untuk menghabiskan makanan itu sebelum mereka kembali ke rumah. Dengan alasan mager–alias malas gerak, Abimanyu mau tak mau menyuapi Caca. Abimanyu terlihat sangat telaten menyuapi Caca, hingga nasi goreng itu habis tak bersisa.


Sambil mengembalikan piring yang tadi Caca gunakan untuk makan, Abimanyu berpamitan pada beberapa karyawan Caca. Ia dan Caca memutuskan untuk segera pulang, karena Caca sudah sangat mengantuk.


**


Usai mandi Caca membaringkan tubuhnya. Menyentuhkan air pada seluruh badannya membuat kantuk Caca hilang. Saat ini ia sedang memainkan ponselnya sambil menunggu Abimanyu mandi.


Semakin malam aplikasi sosial medianya semakin ramai. Caca pun tertarik untuk menyelam ke sana. Ia menyempatkan diri mengunggah foto Abimanyu yang hanya tampak belakangnya saja pada fitur cerita di salah satu aplikasi favoritnya. Caca membubuhkan kata-kata yang ia rangkai sendiri untuk mendefinisikan apa yang sedang ia rasakan.


Beberapa saat berlalu. Abimanyu sudah ikut berbaring di sampingnya sambil melakukan hal yang sama. Suami Caca itu tersenyum melihat cerita yang Caca unggah dengan gambar dirinya. Ia pun membalas cerita tersebut dengan gambar love yang sangat besar.


Caca tertawa saat pesan itu masuk. Ia kemudian membalasnya dengan gambar finger love.


“Bi, kamu kenal nggak sama akun ini?” Caca mendekatkan ponselnya pada Abimanyu. Memperlihatkan satu akun yang tidak ia kenal, tetapi beberapa kali melihat cerita atau menyukai unggahannya di sosial media.


Netra Abimanyu menyipit untuk melihat nama akun tersebut. Kepalanya kemudian menggeleng tanda tak tahu.


“Aku juga nggak tahu, tapi beberapa hari yang lalu akun itu juga follow akun aku,” ucapnya.


Melihat kecemasan yang terpancar dari Caca membuat Abimanyu berinisiatif menenangkannya.


“Udah, mungkin emang orang yang baru buat akun instagram. Mungkin karena follower kamu banyak, jadi nama kamu muncul gitu aja di beranda dia.”


“Kok, aku takut, ya, Bi,” aku Caca.


Entah kenapa ia tiba-tiba merasa cemas melihat akun tanpa pengikut itu. Pasalnya akun itu tidak memiliki foto profil. Tidak ada pengikut dan yang diikuti hanya beberapa orang saja termasuk dirinya dan sang suami.


Beberapa hari terakhir memang sedang marak penipuan dengan nama akun palsu. Caca takut akun tersebut melakukan penipuan terhadap orang lain dan mengatas namakan dirinya atau beberapa orang yang akun itu ikuti.


“Udah, kamu jangan cemas gitu. Mending kamu berpikir positif aja.” Abimanyu mengusap rambut Caca untuk menenangkannya.


Setelahnya Abimanyu mengajak Caca untuk tidur karena malam sudah sangat larut.