
“Lo gila masih percaya sama Dean?”
“Otak lo tu di mana sih, Ca?”
“Sumpah nggak habis pikir gue sama, lo!”
“Kak Abi nggak mungkin nglakuin itu, Ca? Buat apa coba? Ha?”
“Semua itu pasti cuma akal-akalan mantan lo biar lo benci sama Kak Abi!”
“Otak lo yang pinter itu ke mana sih, Ca?”
Caca memukul-mukul kepalanya sendiri menggunakan pena. Saat ini ia berada di ruang kerjanya. Kalimat Maya dan Sofi masih terngiang di kepalanya. Kedua sahabatnya itu memaki-maki dirinya setelah ia menceritakan apa yang baru saja terjadi. Ia jadi menyesal telah menceritakan semuanya pada mereka.
Caca membenturkan kepalanya pada meja. Ia jadi merasa pusing sendiri menghadapi situasi seperti ini. Gara-gara tuduhan Dean, ia jadi sedikit mengabaikan suaminya.
Bukan karena Caca percaya dengan apa yang Dean katakan. Namun, Caca hanya terlalu berpikir, siapa gerangan yang ingin menjebak mereka. Ini terlalu rumit. Bagaimana bisa Dean diculik di hari pernikahan mereka. Kemudian tidak ada yang meminta tebusan atau apa pun kepada keluarganya selama ini. Seolah, penculikan Dean dilakukan hanya untuk membatalkan pernikahan mereka. Dan lagi, untuk apa mereka menyebut-nyebut nama Abimanyu hingga akhirnya Dean salah paham. Bukankah artinya ada seseorang yang sedang menahan dendam terhadap mereka bertiga? Tapi siapa?.
Astaga!
Caca menggeram kesal. Berkali-kali Caca menghela napas panjang, mengembuskannya dengan perlahan guna mengurangi rasa stres yang tiba-tiba mendera dirinya. Namun, nyatanya semua itu tidak berhasil. Ia butuh sedikit hiburan saat ini, dan yang bisa ia lakukan adalah jalan-jalan mengelilingi kota.
Gadis itu pun beranjak. Ia mengambil kunci motor milik salah satu karyawannya. Ia berkata akan segera kembali.
Tak jauh berbeda dari kondisi Caca yang tidak bisa konsentrasi. Di tempatnya saat ini Abimanyu juga tak bisa memikirkan pekerjaannya. Beberapa kali ia melakukan kesalahan. Sikap Caca yang sangat berbeda sejak semalam membuatnya kepikiran.
Abimanyu meraup wajahnya. Ia sudah tidak tahan lagi. Pemuda itu beranjak. Tanpa berpamitan pada siapa pun Abimanyu pergi. Ia memilih menuju lantai paling atas. Di kantor ayahnya ini terdapat rooftop yang sangat nyaman untuk beristirahat.
Setelah melewati beberapa lantai akhirnya Abimanyu tiba di atap gedung itu. Abimanyu berjalan menuju pagar pembatas. Ia pandangi pemandangan kota di bawah sana. Banyak kendaraan berlalu lalang melintasi jalan di sekitar kantornya.
Abimanyu menghirup udara kota yang tidak ada sejuk-sejuknya. Polusi sudah mengambil alih udara segar dari sana. Pemuda itu beralih memandang hamparan langit. Ia memikirkan apa yang sedang terjadi hingga istrinya bersikap seperti semalam.
Pemuda itu mencari-cari kesalahan yang mungkin ia lakukan secara tidak sadar. Setelah berpikir cukup lama, Abimanyu tetap tidak menemukan kesalahan apa pun dari dalam dirinya. Sepertinya ia memang harus menyerah dan membiarkan istrinya bersikap demikian. Mungkin saja gadis itu memerlukan waktu untuk sendiri saat ini. Mungkin memang karena banyaknya pekerjaan dan tugas kuliah yang mulai menumpuk membuat Caca sedikit stres.
Abimanyu melihat jam tangannya. Sudah cukup lama ia di sana dan sudah waktunya ia untuk kembali. Pemuda itu pun membalikkan tubuhnya hendak kembali ke ruangan. Namun, ia dikejutkan dengan sosok kakaknya yang sudah berdiri di belakangnya entah sejak kapan.
“Ngagetin lo, Bang!” seru Abimanyu kesal. Ia bahkan sampai mengelus dadanya saking terkejut.
“Ngapain lo ke sini?” tanya Abimanyu.
“Harusnya gue yang tanya kayak gitu ke lo!” balas pria itu.
Sosok pria bernama Geriyo itu memandang adiknya sekilas. “Gue tadi cari lo ke ruangan. Eh malah nggak ada. Mana nggak izin lagi ke temen lo,” ujar pria itu.
“Terus? Kok, lo tahu sekarang gue ada di sini?” tanya Abimanyu dengan satu alis terangkat.
“Nebak aja. Lo nggak ada di pantri, kamar mandi juga kosong. Gue jadi yakin lo ada di sini,” jawab pria itu tanpa memandang sang adik.
“Lain kali, lo kalau mau keluar dari ruangan pamit sama temen, lo. Ini emang perusahaan ayah, tapi bukan berarti lo bisa seenaknya sendiri di sini!” tegur Geriyo pada Abimanyu.
Sebagai salah satu pemimpin di perusahaan itu Geriyo tentu kecewa dengan sikap Abimanyu. Sebagai kakak, Geriyo memang terkenal sangat tegas. Pria itu tidak suka ada orang yang seenak hatinya dalam melakukan pekerjaan.
Abimanyu mencebik. Kalimat kakaknya tentu saja sangat menohok. Namun, ia tak lantas marah. Ia justru malu sendiri dengan apa yang ia lakukan. Ia pun meminta maaf pada sang kakak, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
“Tumben banget lo cari gue. Ada apa gerangan Abang Geriyo yang sangat sibuk ini mencari adiknya? Apakah ada sesuatu yang penting?” tanya Abimanyu mendapat lirikan malas dari kakaknya.
Geriyo mendengkus, adiknya satu ini memang sedikit kurang ajar terhadapnya. Namun, Geriyo tidak terkejut sama sekali. Abimanyu memang seperti itu sejak dulu.
“Gue tadi dapet kabar dari Om Kean,” ujar Geriyo. Ia melirik sekilas adiknya yang mulai diserang rasa penasaran.
“Kabar apa?” tanya Abimanyu.
Geriyo menghadapkan tubuhnya pada Abimanyu. “Dean udah balik!”
Tiga kata itu membuat tubuh Abimanyu menegang. Bola matanya melebar seketika.
“Kok, bisa?”
“Apanya yang kok bisa?”
Abimanyu diam. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana.