Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 77 : Perdebatan kecil


Hari berganti pagi. Caca mengerjapkan matanya saat merasakan seseorang mengusap kepalanya. Sinar mentari menyapa, begitu juga dengan seseorang yang tidur di sampingnya.


“Selamat pagi,” sapa Abimanyu dengan tangannya setia mengusap kepala sang istri.


Caca mengangkat tangannya dari tubuh Abimanyu. Caca tidak sadar sejak kapan memeluk tubuh itu.


“Udah siang, kamu ada jam kuliah kan?” tanya Abimanyu mengingatkan. Kepalanya menengok pada jam dinding yang sedang menunjukkan pukul enam pagi.


“Aku mandi dulu, ya!” pamit Abimanyu seraya beranjak berdiri.


Suami Caca itu mengambil handuknya yang tergantung di dekat pintu kamar mandi. Sebelum masuk ke dalam, Abimanyu menoleh pada istrinya dan memberikan satu senyuman manis yang bisa membuat siapa saja meleleh.


Terang saja Caca membalas senyum itu sampai tubuh Abimanyu hilang ditelan pintu. Setelahnya Caca menarik selimut, membenamkan kepalanya di sana. Caca masih agak mengantuk, karena semalam ia tidur sangat larut.


Caca bingung dengan dirinya sendiri. Sebab, semalam setelah percakapan mereka selesai mereka beralih ke tempat tidur. Caca yang sedang dilanda rasa bersalah tak berani menatap suaminya. Dengan sangat sengaja Caca memunggungi suaminya. Bukan karena masih marah, melainkan karena Caca tak berani bertatap mata dengan pria itu.


Beberapa waktu belakangan ini Caca selalu tertidur di dalam dekapan Abimanyu. Sepertinya pelukan pemuda itu menjadi candu tersendiri untuknya. Hingga semalam saat Caca tidak mendapat pelukan itu Caca tidak bisa tertidur. Matanya hanya terpejam tanpa berlari ke alam mimpi.


Setelah satu jam berlalu Caca merasakan ada pergerakan dari arah belakangnya. Ia semakin mengeratkan netranya untuk terpejam. Tidak disangka Caca merasakan tangan Abimanyu mengusap kepalanya. Abimanyu tidak tahu bahwa istrinya belum tidur. Caca masih bisa mendengar sebuah kalimat yang kemudian membuatnya tersenyum sebelum kemudian terlelap saat Abimanyu merengkuhnya tanpa permisi.


“Jangan pernah tinggalin aku, Ca. Nyawaku ada dalam diri kamu. Aku harap Tuhan segera membuka hati kamu supaya kamu bisa mencintai aku. Dari sekarang hingga kita tua nanti. I love you.”


Di dalam hatinya, Caca merutuki diri. Gadis itu merasa sangat bersalah dengan tindakannya semalam. Bahkan ia sempat menangis dalam dekapan sang mantan kekasih. Beruntung ia tidak menceritakan dugaannya yang ternyata salah besar.


Lima belas menit berlalu. Abimanyu telah selesai membersihkan diri. Ia pun menyuruh Caca untuk segera mandi. Hari sudah sangat siang, bisa-bisa mereka akan terjebak macet di jalan jika tidak segera berangkat.


Siang harinya Caca berada di perpustakaan kampus. Gadis itu mencari sebuah buku yang bisa ia gunakan sebagai referensinya. Dari balik jejeran rak buku, terlihat Caca sedang mengamati judul-judul buku yang tertata di sana. Lima menit kemudian Caca menemukan buku yang sejak tadi ia cari.


Senyum semringah tercetak di bibir gadis itu. Setelahnya, Caca duduk di kursi kosong di sudut ruangan. Seperti biasa, Caca memasang earphones di telinganya sebelum membaca buku. Beberapa menit berlalu dan Caca sudah tenggelam di dalam buku yang ada di hadapannya.


Terlalu fokus pada bukunya, Caca tidak menyadari ada seseorang yang duduk di depannya. Kepala gadis itu sesekali mengangguk seiring tempo irama lagu yang terdengar di telinganya. Namun, tak berapa lama kemudian gadis itu terdiam saat mendongak dan mendapati ada orang lain di sana. Tatapannya bertemu dengan sosok pemuda yang entah sejak kapan duduk di depannya.


Caca menurunkan earphones-nya, kemudian bertanya, “Kamu udah masuk, De?”


Dean mengulas senyum. “Udah, aku ketinggalan banyak banget. Jadi, aku nggak mau lama-lama di apartemen.” Jawaban Dean disambut anggukan oleh sang mantan kekasih.


“Kamu udah nggak papa?” Mendapati Caca hanya diam saja Dean pun balik bertanya.


Caca mengerjapkan matanya dua kali untuk mencerna pertanyaan Dean, lalu berdeham canggung saat mengingat kejadian semalam.


“Iya, aku nggak papa, kok,” jawab gadis itu lirih.


Tidak ada lagi percakapan di antara dua manusia itu. Caca menjadi sedikit canggung berhadapan dengan Dean setelah kejadian semalam. Setelah mendengar setiap kalimat Abimanyu, Caca ingin berusaha untuk menghargai suaminya dengan tidak terlalu dekat dengan laki-laki lain. Bagaimanapun juga Caca wajib menghormati Abimanyu di mana pun ia berada.


Caca kembali fokus dengan bukunya, sedikit mengabaikan keberadaan Dean yang masih setia duduk di sana sambil memandangi wajah cantik Caca. Tidak ada niat dalam diri Caca untuk mengusir Dean dari hadapannya. Toh, pemuda itu juga tidak mengganggunya.


Dalam diamnya Dean memperhatikan gerak-gerik Caca. Gadis itu terlihat sangat lucu saat sudah fokus dengan buku ataupun pekerjaan. Dean senang memandangi raut konsentrasi Caca, apalagi saat gadis itu membenarkan letak kacamata membuat keanggunan Caca semakin meningkat.


Dean masih sibuk memandangi Caca saat tiba-tiba Abimanyu duduk di samping gadis itu. Raut tak suka tak segan Dean pancarkan saat Abimanyu tiba-tiba mengusap bahu Caca.


Sejenak Caca melirik Dean yang masih ada di tempatnya sebelum membalas sapaan Abimanyu. Senyum Caca terukir manis saat tatapannya beradu dengan suaminya.


“Kamu dari tadi di sini ternyata, pantes aku cariin di kantin nggak ada,” ujar Abimanyu.


Caca kembali melempar senyumnya tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu.


“Lo ngapain sama istri gue?” sinis Abimanyu pada sepupunya. Ia dapat merasakan Caca mencubit pahanya. Mungkin perempuan satu itu tidak suka dengan nada bicara Abimanyu.


Dean mendengkus geli. Ia membuang muka, lalu kembali menatap Abimanyu dengan tatapan mencibir.


“Btw, istri lo ini pacar gue.”


Caca dibuat melotot dengan jawaban Dean.


“Lo nggak inget udah ninggalin dia di hari pernikahan kalian? Itu artinya Caca bukan lagi pacar, lo,” balas Abimanyu tak mau kalah.


Abimanyu menaikkan jari telunjuknya. “Gue peringatin, lo! Lo, nggak usah deket-deket lagi sama Caca, dia udah punya suami dan suami dia ada di depan, lo!” peringat Abimanyu dengan suara sangat lirih.


Salah satu sudut bibir Dean terangkat. “Emangnya kenapa kalau Bulan istri lo? Bulan aja nggak masalah gue ada di sini.”


“Lo–”


“Dean, Abi stop. Ini perpustakaan. Kalian jangan debat di sini.” Caca mengangkat kedua tangannya sebatas dada.


Kedua laki-laki itu diam seketika. Tatapan mereka sangat sengit seakan bisa menghancurkan satu sama lain.


“Ca, dia itu–”


“Abi udah, ya. Aku nggak mau ada keributan di sini,” tukas Caca.


Abimanyu mengembuskan napasnya kasar. Tatapannya masih sangat tajam pada Dean yang saat ini seperti mencibir dirinya.


Dean sedikit mencondongkan tubuhnya pada Caca. “Aku pergi dulu, ya, Bu. Kalau kamu butuh aku seperti semalem kamu tahu aku ada di mana.”


Dean beranjak berdiri. Kemudian keluar dari perpustakaan itu.


Abimanyu jelas mendengar kalimat Dean untuk istrinya. Secara tidak langsung Dean mengatakan semalam Caca pergi menemui pemuda itu. Seperti dihantam batu besar, dada Abimanyu terasa sangat sesak mengetahui semua itu.


“Jadi, semalem kamu nemuin dia?” tanya Abimanyu memastikan.


Tidak ada lagi yang bisa Caca lakukan selain mengangguk dan membenarkan. Ia tidak mau membuat kebohongan yang nanti pastinya akan ada lebih banyak kebohongan lagi.