Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 95 : Parasit


“Kak, boleh minta waktunya sebentar?”


Abimanyu mengangkat kepalanya dari buku. Tatapannya datar menyorot pada Crystal yang ada di hadapannya. Setelah terbongkarnya niat busuk Dean pada sang istri, Abimanyu jadi sedikit sangsi dengan gadis ini. Meskipun Crystal tidak terlibat sama sekali dengan rencana Dean, tetapi gadis ini yang menjadi sebab rencana busuk pemuda itu.


“Kak?”


Abimanyu mengembuskan napasnya kasar. Ia kemudian menutup buku yang baru saja ia baca setelah menandai halamannya.


“Apa?” tanyanya malas.


Mendapati sikap Abimanyu sangat berubah padanya membuat Crystal sedikit kecewa. Ia tahu betul penyebab Abimanyu bersikap demikian.


Crystal menatap ke sekitar. Di dalam perpustakaan ini ada banyak orang meskipun semuanya tidak ada yang bersuara. Namun, Crystal tetap merasa tak nyaman dan hendak mengajak Abimanyu untuk berpindah tempat terlebih dahulu.


“Kak, aku ingin tanya sesuatu, tapi apa bisa kita pindah tempat dulu?” tanya Crystal dengan berbisik.


“Kita ngobrol di sini aja,” tolak Abimanyu. Ia tidak mau terlalu mengakrabi Crystal lagi. Baginya, Crystal harus ia hindari mulai saat ini. Tidak peduli dia putri dari sahabat kedua orang tuanya, yang terpenting Abimanyu tidak mau lagi memiliki hubungan dengan orang yang telah menyakiti Caca.


“Tapi, Kak–”


“Di sini, atau nggak sama sekali!”


Akhirnya mau tak mau Crystal pun tetap bertahan di sana. Helaan napas kecewa tak bisa Crystal sembunyikan.


“Kak, emang bener Kak Abi udah nikah sama Caca?”


Raut penasaran sangat kentara di wajah Crystal. Bola matanya memancarkan harapan Abimanyu akan menampik pertanyaannya. Namun, nyatanya anggukan kepala dari pemuda itu membuat rasa kecewa Crystal semakin membumbung tinggi.


“Dan lo udah pasti tahu alasan gue bisa sampai nikah sama Caca,” ujar Abimanyu menohok.


“Kenapa sih waktu itu Kak Abi mau aja disuruh gantiin Dean? Kak Abi kan bisa nolak?”


“Karena ini pilihan gue, Crys. Lo, nggak punya hak apa pun buat ngelarang gue.”


“Oke, aku emang nggak punya hak untuk ngelarang Kak Abi melakukan apa pun yang ingin Kakak lakukan. Tapi, kenapa waktu itu Kak Abi nggak milih untuk diem aja? Kak Abi ingetkan dulu Caca gimana ke Kakak? Aku yakin sekarang dia bersikap nggak baik ke Kakak. Dia pasti selalu kurang ajar ke Kak Abi. Harusnya waktu itu Kak Abi biarin aja pernikahan itu gagal dan Kak Abi nggak akan punya tanggung jawab sebesar ini di usia Kakak.”


Kening Abimanyu berkerut. Ia merasa apa yang Crystal ucapkan sangat tidak penting. Crystal seperti hanya ingin memprovokasinya saja.


“Crystal, gue tegesin sama, lo. Lo, nggak punya hak buat ngomong kayak gitu ke gue. Ini pilihan gue dan sekarang gue bahagia. Dan untuk sikap Caca ke gue, itu jauh dari yang lo sebutin barusan. Jadi, please! Jangan pernah lo jelek-jelekin Caca di depam gue ataupun orang lain. Lo nggak tahu gimana aslinya Caca. Dan untuk lo, gue minta jangan pernah lagi ganggu kehidupan Caca, karena dia sama sekali nggak pernah ganggu hidup, lo.”


Ucapan Abimanyu bernada tegas itu membuat rasa kecewa Crystal semakin besar. Ia semakin yakin ia tidak memiliki kesempatan lagi untuk dekat dengan pemuda itu, terlebih Abimanyu sudah menikah.


Abimanyu beranjak berdiri. Sebelum mengambil langkah Abimanyu berucap, “Gue tahu lo nggak salah dalam masalah ini. Tapi, mengingat lo yang selalu cari masalah dengan Caca menjadi salah satu alasan gue kayak gini ke lo.”


Setelahnya Abimanyu keluar dari perpustakaan tanpa memedulikan bagaimana perasaan Crystal saat ini.


**


Dean mengentakkan kedua kakinya secara bergantian di atas treadmill pribadinya. Di telinganya terpasang earphones yang memutar beberapa lagu barat favoritnya. Peluh tampak jelas membasahi dahi pemuda itu, menandakan kegiatannya sudah dilakukan sejak beberapa menit yang lalu.


Sore ini Dean cukup santai sehingga bisa meluangkan waktu untuk berolahraga meskipun hanya sebentar. Kesibukannya di perusahaan sang ayah selalu menyita seluruh waktunya. Dean wajib bersyukur saat ini, karena bisa pulang lebih awal.


Tak terasa kedua sudut bibir Dean terangkat sempurna. Bayangan kebersamaan mereka dulu tiba-tiba terlintas kembali di benak Dean.


Hubungan mereka sebagai sepasang kekasih memang sangat singkat. Namun, kenangannya justru menembus hingga sanubari Dean. Semua yang pernah Caca lakukan padanya masih terpatri jelas di dalam kepalanya.


Dean mengembuskan napasnya kasar. Entah kenapa ia tiba-tiba saja merasa rindu kepada gadis itu. Semua perhatian Caca yang tersembunyi di balik sinisnya justru membuat kerinduan Dean semakin menjadi.


Suara bel apartemen menyadarkan Dean dari apa yang baru saja ia pikirkan. Pemuda itu lantas menggelengkan kepalanya dengan cepat. Berusaha mengenyahkan segala bayangan yang sejak tadi berputar-putar di dalam kepalanya.


Suara bel kembali berbunyi. Dean pun mematikan treadmill-nya. Selagi mengambil langkah untuk membuka pintu, Dean menyambar botol air mineral di atas meja. Dean menenggak isi dalam botol itu seraya membuka pintu.


Seseorang di balik pintu langsung masuk tanpa menunggu disuruh oleh pemilik rumah. Dean sama sekali tak keberatan, karena dia sering datang kemari. Dean mengawasi gerak-gerik tamunya yang sejak tadi terlihat sangat kesal. Ia pun menghampirinya dan bertanya ada apa.


“Lo kenapa sih, Crys?”


Crystal berbalik dan menatap kesal pada Dean. Sorot matanya memancarkan setitik emosi, akibat dari percakapannya dengan Abimanyu siang tadi.


“Crys?” Dean menaikkan sebelah alisnya.


“Kenapa sih, lo dulu harus ninggalin Caca di hari pernikahan kalian? Gara-gara, lo, Kak Abi jadi belain Caca terus, De. Bahkan dia sekarang juga benci sama gue, padahal gue nggak salah apa-apa!” cecar Crystal. Gadis itu meluapkan emosinya yang sejak tadi ia tahan selama beberapa jam.


“Gara-gara, lo, kesempatan gue untuk bisa sama Kak Abi juga nggak ada. Asal lo tahu aja, De! Kak Abi udah jatuh cinta sama Caca. Usaha lo untuk bikin Caca sengsara ternyata salah jalan. Lo, yang katanya mau balasin dendam gue nyatanya malah buat gue makin menderita, De!”


Kalimat bernada emosi itu cukup kuat untuk memantik emosi Dean juga. Pemuda itu menaikkan sudut bibirnya. Ia tersenyum miris mendengar cecaran Crystal.


“Abi lagi, Crys? Kenapa sih lo tu nggak pernah sekali aja liat gue? Lo tahu kan gue dari dulu suka sama, lo?”


Kali ini berganti Dean yang menatap tajam pada sosok yang sejak dulu ada dalam hatinya.


“Gue nglakuin semua itu buat, lo Crystal! Gue nggak punya kuasa apa pun untuk membuat semuanya jadi lancar seperti yang ada dalam benak gue.”


Ucapan Dean begitu menohok. Membuat Crystal kehilangan seluruh kosa kata di dalam kepalanya. Gadis itu terdiam cukup lama. Ia tak bisa membalas ucapan Dean. Namun, ia juga tidak bisa menerima apa yang Dean ucapkan. Baginya, Dean tetap yang paling bersalah atas semua sikap Abimanyu padanya saat ini.


“Crys, gue selalu ada buat lo selama ini. Gue selalu ada di samping, lo. Tapi, kenapa lo langsung bersikap kayak gini ke gue cuma karena Abi? Apa pengorbanan gue nggak cukup untuk buat hati lo berpaling ke gue?”


Crystal lagi-lagi tak mampu menjawab pertanyaan Dean. Sebenarnya sejak dulu ia berteman Dean hanya untuk mendekati Abimanyu. Namun, kenyataan mengatakan bahwa Dean membenci sepupunya sendiri. Crystal yang saat itu tidak mungkin menjauhi Dean secara tiba-tiba memilih untuk tetap berteman dengan Dean dan menjadikannya tempat untuk mencurahkan seluruh isi hatinya.


Dean dulu memang sering menyatakan cinta padanya, tetapi pesona Abimanyu selalu mengalahkan segala kebaikan yang Dean berikan padanya. Crystal tak akan pernah bisa jatuh cinta kepada Dean, karena selama ini ia hanya memanfaatkannya saja.


“Lo, juga tahu sebesar apa rasa gue ke Kak Abi kan? Sampai kapan pun gue cuma anggep lo temen, De. Nggak bisa lebih,” jawab Crystal semakin membuat kepala Dean mendidih.


“Kayaknya mulai saat ini mending lo jauhin gue. Gue nggak mau terlibat apa pun sama lo lagi. Lo, cuma parasit buat gue!”


Netra Dean melebar mendengar penuturan Crystal. Ia tidak menyangka pengorbanannya kini ternyata sangat sia-sia. Dean merasa tak terima.


“Lo bilang gue parasit?” Netra Dean menyipit tak suka.


“Harusnya, lo tu ngaca. Abi nggak suka sama lo bukan cuma karena masalah ini. Kelakuan lo ke Caca yang kelewat bates udah pasti jadi salah satu alesannya!”