Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 40 : Menangis


Saat dalam perjalanan Nabila tampak banyak diam. Agaknya wanita itu memikirkan penyebab Abimanyu seperti ini. Ia yakin bukan hanya faktor cuaca saja yang membuat Abimanyu demam separah ini. Pasti ada penyebab lain yang membuat Abimanyu jatuh sakit.


Beberapa saat setelah mereka membelah jalanan yang sangat sepi, akhirnya Arjuna bisa memarkirkan mobilnya di tempat parkir rumah sakit setelah menurunkan Abimanyu di IGD.


“Abi gimana?” tanya Arjuna pada Caca dan Dio. Kini mereka sedang menunggu di luar IGD dan Nabila menemani Abimanyu di dalam sana.


“Belum tahu, Yah. Bunda masih di dalam.” Dio berujar tenang, menyembunyikan kekhawatiran yang juga membelenggunya.


Sedangkan Caca masih diserang kepanikan. Wajah garang ibu mertuanya tadi masih terngiang di kepalanya, membuat Caca semakin merasa ketakutan. Ia tidak punya seseorang untuk ia genggam dan menenangkannya saat ini, sehingga Caca memilih untuk diam saja. Berusaha bersikap tenang.


Nabila keluar dari IGD. Menghampiri Caca, Dio, dan Arjuna. Wanita itu menyuruh Dio untuk masuk dan menunggu kakaknya di sana.


“Ca, kamu inget nggak terakhir Abi makan apa?” tanya Nabila dengan sarkasme.


Caca yang sejak tadi menatap kosong ke depan, kini menatap wajah ibu mertuanya yang terlihat sedikit tidak ramah.


“Kan aku pulangnya lebih malem dari Abi, Bun. Aku nggak tahu dia makan apa,” jawab Caca tanpa sedikit pun keraguan. Nyatanya Abi memang pulang lebih dulu daripada Caca. Gadis itu pun tak tahu apa saja yang Abi konsumsi kecuali saat makan di kantin kemarin. Saat Abi memakan nasi goreng ekstra pedas miliknya.


Tunggu! Jangan-jangan ..., batin Caca gelisah.


“Sejak pulang Abi nggak makan apa pun di rumah. Jadi, kemungkinan terakhir kali makan di kampus, dan apa kamu tahu dia makan apa?” tanya Nabila lagi masih dengan nada sarkasme.


Caca dibuat semakin takut saja jika dugaannya benar. Namun, ia juga tak mau berbohong karena bisa memperburuk keadaan.


“Kalau seinget aku, kemarin Abi makan pesenan aku, Bun ....” Caca menunduk. “Karena aku makan bekal dari Bunda.”


“Pesanan kamu itu apa? Ca yang jelas dong ngomongnya!” bentak Nabila frustrasi


“Bunda!” Arjuna tak mengerti kenapa sejak tadi istrinya terus saja memojokkan Caca. Pria paruh baya itu memegang pundak sang istri. Mengusapnya pelan untuk menenangkan wanita itu.


“Na-nasi goreng ekstra pedes, Bun.” Caca memejamkan mata dan semakin menundukkan kepala saat Nabila kembali membentaknya.


Kepala Caca menggeleng lemah. Ia semakin menunduk, menahan tangisnya yang ingin sekali pecah mendengar teriakan Nabila.


“Bun, jangan salahin Caca, dong. Belum tentu Caca salah,” ucap Arjuna berusaha meredam emosi sang istri yang entah kenapa semakin menjadi.


“Terus siapa yang harus aku salahin? Abi?” Nabila menatap suaminya dengan emosi yang berkilat pada matanya.


“Bukan gitu, Bun.” Arjuna mengusap wajahnya frustrasi.


“Sekarang kamu tahu kan kenapa Abi nggak pernah makan pedas. Seperti ini akibatnya, Ca. Bunda tahu kamu nggak suka sama Abi. Tapi, bukan berarti kamu boleh melakukan ini pada anak Bunda.” Nabila tak bisa mengontrol emosinya. Ia terlalu panik dengan kondisi Abimanyu. Sehingga ia tidak pandang bulu siapa yang tengah ia salahkan.


“Bun, tenangkan diri kamu dulu. Kita bicara baik-baik.” Arjuna menyeret istrinya meninggalkan Caca yang kini sudah berlinang air mata.


Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sungguh ia tidak bermaksud seperti itu. Tadi pagi ia memang lupa dengan pesanan makanannya yang seharusnya tak Abi makan. Namun, bukan salah Caca juga, karena nyatanya sepiring nasi goreng tadi telah tandas dimakan oleh suaminya.


Caca semakin terisak saat ia merasakan seseorang merengkuhnya. Aroma khas dari seseorang itu mampu Caca kenali.


“Jangan nangis, Sayang. Ayah tahu kamu nggak salah.”


Caca hanya mengangguk tanpa menghentikan tangisnya. Tangannya terulur membalas dekapan hangat sang ayah yang entah sejak kapan berada di sana.


***


Gaes, aku nggak tahu bulan Juni ini bisa rutin update atau enggak, karena aku emang lagi sibuk banget di rumah. Kalaupun bisa update mungkin cuma dikit-dikit, nggak bisa banyak. Jadi, harap maklum.


Salam cinta dari An Nisa❤


Jangan lupa like dan komen❤😛