Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 86 : (Bukan) yang pertama


Abimanyu yang tak kuasa menatap bibir istrinya pun kembali ******* bibir gadis itu. Mereka kembali bercumbu selama beberapa menit. Saling mengeratkan dekapan. Semakin menghapus jarak di antara mereka.


“Ca, aku–”


“I’m yours, Bi,” tukas Caca dengan napas tersengal.


Abimanyu merasa linglung dengan jawaban istrinya. Ia pindai netra gadis itu, mencari kejujuran dan cinta yang ternyata terpancar dengan sangat nyata.


Merasa tak sabar dengan Abimanyu yang justru terdiam. Caca pun kembali menyatukan bibir mereka. Kembali menaikkan gairah suaminya.


Keduanya telah tenggelam dalam lautan hasrat. Akal mereka telah terbang melayang meninggalkan dunia. Dengan tak sabar Abimanyu berdiri dengan Caca berada dalam gendongannya. Mereka masih terus bercumbu hingga Abimanyu membaringkan tubuh istrinya di ranjang.


Ciuman mereka terlepas. Abimanyu menyingkirkan anak rambut Caca yang menutupi sebagian wajah cantik gadis itu. Kembali Abimanyu pindai kecantikan istrinya dengan jarak yang lebih dekat dari biasanya.


“Kamu serius menyerahkan diri kamu ke aku?” Di tengah akal sehatnya yang sudah separuh menghilang, Abimanyu masih menyempatkan diri untuk bertanya. Ia tidak mau istrinya melakukan hubungan dengannya dengan terpaksa.


Tangan Caca terulur membelai sebelah pipi suaminya. “Aku istri kamu, Abi. Kamu bebas nglakuin apa aja ke aku dan aku nggak terpaksa,” jawab Caca meyakinkan.


Abimanyu tersenyum. Ia kembali turun dari tempat tidur. Mengunci pintu balkon, menutup gorden, kemudian mematikan lampu kamarnya. Setelah dirasa semuanya aman, Abimanyu kembali menghampiri istrinya yang sudah menunggunya.


Malam ini, kamar Caca menjadi saksi menyatunya dua insan manusia yang dulunya saling membenci. Menyampaikan rasa cinta mereka tanpa kata. Mempererat cinta yang mereka miliki.


Ini adalah kali pertama Abimanyu berhubungan badan dengan seorang wanita dan dengan seseorang yang ia cintai. Namun, setitik kecewa harus hadir dalam benak Abimanyu saat ia tahu ... dirinya bukan yang pertama.


**


Kepulan asap rokok terlihat melayang-layang di sekitar tubuh Abimanyu. Pemuda itu duduk di kursi balkon tempatnya mengawali apa yang baru saja ia lakukan dengan istrinya. Kedua kaki Abimanyu naik ke atas meja seperti yang Caca lakukan beberapa jam yang lalu. Pandangannya menerawang jauh entah ke mana.


Beberapa saat yang lalu ia baru saja selesai berhubungan intim dengan Caca untuk pertama kalinya. Pikirannya berkelana ke mana-mana. Ia jadi teringat dengan apa yang ayah mertuanya sampaikan tadi setelah mereka makan malam.


“Kamu tahu kalau kemarin Caca dan Dean ke sini?”


Abimanyu menggeleng dengan kening terlipat halus. Ia sama sekali tidak tahu istrinya masih sempat pergi bersama Dean tanpa memberitahunya.


Helaan napas Banyu terdengar berat. Pria paruh baya itu meminta maaf pada menantunya dengan apa yang Caca lakukan.


“Ayah juga sempat kecewa dengan Caca saat itu. Ayah juga sempat menasihati istri kamu untuk tidak melakukannya lagi. Maaf, ya Bi. Mungkin kemarin Caca masih bimbang dengan perasaannya,” ucap Banyu sambil menepuk-nepuk bahu Abimanyu.


“Tapi, ayah yakin. Sekarang Caca hanya melihat kamu. Ayah tahu putri ayah. Apalagi kalian sudah mengingat siapa kalian di masa lalu,” kata Banyu dengan seulas senyumnya.


Abimanyu kembali menghisap rokoknya. Entah kenapa rasanya cukup kecewa saat ia tahu ia bukan yang pertama untuk istrinya. Apa dulu Caca secinta itu pada Dean hingga menyerahkan mahkotanya sebelum mereka menikah?.


Abimanyu segera menghentikan pikirannya yang semakin kalut. Seharusnya ia tidak kecewa hanya dengan masalah ini. Namun, hatinya tetap saja tak terima.


“Kenapa kamu di sini?”


Napas Abimanyu tercekat saat Caca melingkarkan tangan pada lehernya. Gadis itu mengecup pipinya dengan lembut. Membuat Abimanyu mau tak mau menyunggingkan senyumnya.


“Kenapa bangun?” Abimanyu tak ingin menjawab pertanyaan sang istri. Ia mencoba menepis rasa kecewa yang hinggap di benaknya.


“Kamu nggak ada, aku jadi kebangun,” jawab Caca seraya menatap wajah Abimanyu dengan sangat dekat.


Tangan Abimanyu terulur meminta istrinya berputar. Ia mendudukkan Caca di atas pangkuannya. Abimanyu menahan pinggang Caca dengan kedua tangannya. Sedangkan Caca melingkarkan tangannya pada tengkuk Abimanyu.


“Kamu kenapa sih?” Sepertinya Caca bisa merasakan perbedaan sikap suaminya meskipun pemuda itu tidak berkata apa pun.


Sesaat Abimanyu bimbang. Ia ingin bertanya, tetapi takut membuat istrinya tak nyaman. Namun, sepertinya benak Abimanyu tak kuasa untuk menahan diri untuk tidak bertanya.


“Aku ingin tanya sama kamu,” ucap Abimanyu setelah terdiam cukup lama.


“Tanya apa?” Caca memindai bola mata suaminya yang memancarkan rasa penasaran yang cukup besar.


Abimanyu menghela napas berat. “Apa Dean laki-laki pertama kamu?”


Caca tersentak kaget dengan pertanyaan suaminya. Ia pun bingung harus menjawab apa.


**


Jangan dihujat, ya Cacanya. Setiap manusia pasti punya kebodohannya sendiri. Maaf kalau part ini cuma dikit dan agak mengecewakan wkwk.


Semoga masih ada yang mau baca cerita ini. Makasih🤭