
“Lo udah lama temenan sama dua temen lo itu?”
Sofi mengangkat kepala. Menatap pemuda yang kini juga tengah menatapnya.
Sembari melanjutkan kunyahannya, Sofi berpikir dan menghitung berapa lama ia berteman dengan Caca dan Maya. Seperti yang pemuda itu maksud.
“Lama sih. Kalau sama Maya itu dari SMP. Kalau sama Caca ketemu waktu SMA,” jawabnya.
“Lama juga, ya. Pantes kalian kelihatan akrab banget,” timpal pemuda itu.
“Caca itu sebenarnya adik kelas aku. Tapi, dia dulu ikut kelas akselerasi waktu SMP. Jadi, ya kita bisa sekelas,” tambah Sofi.
“Caca siswa akselerasi?” tanyanya terkejut. Matanya bahkan membulat seakan tak percaya.
Sofi mengangguk sembari menyeruput minumannya. “Iya, dia itu pinter banget. Bahkan, di kelas itu dia sering debat sama temen-temen yang presentasi. Padahal dia itu usianya paling kecil.”
Semakin tak percaya saja pemuda itu mengetahui kepintaran yang Caca miliki. Ia pikir, Caca hanya gadis biasa yang memang cukup cerdas. Namun, ternyata dia melampaui apa yang ia pikirkan mengenai gadis itu. Ia jadi semakin kagum saja dengan sosok Caca.
“Di antara kalian siapa yang lagi pacaran?” Merasa pembahasan mereka sebelumnya sudah selesai. Pemuda berambut panjang itu kembali mengorek informasi yang ingin ia tahu.
Alis Sofi terangkat. Selama beberapa minggu dekat dengan pemuda itu, Sofi belum pernah ditanya seperti ini. Sofi jadi merasa sedikit aneh, tetapi tetap ia jawab juga pertanyaan itu.
“Nggak ada sih. Aku udah putus empat bulan yang lalu. Maya malah belum pernah pacaran. Caca nggak pacaran lagi, tapi ....” Sofi berpikir sejenak. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa Caca sudah menikah dengan Abimanyu. Dulu, Abimanyu pernah mengancamnya untuk tidak membeberkan hubungan kedua manusia itu ke publik.
“Tapi apa?” tanya pemuda itu penasaran.
“Nggak, maksudnya udah putus juga dari Dean,” jawab Sofi cepat.
Bukankah setelah Dean meninggalkan Caca di hari pernikahan mereka, sudah secara otomatis mereka tidak lagi menjalin hubungan?. Terlebih, Caca sudah menikah dengan Abimanyu. Tak salah jika Sofi menyimpulkan mereka sudah memutuskan hubungan satu sama lain.
“Berarti sekarang Caca jomlo?”
Netra Sofi menyipit. “Kak Jeje kepo banget kayaknya sama Caca?” tanyanya bingung.
Pemuda bernama asli Jayden itu berdeham canggung. Ia menegakkan tubuhnya, kemudian menjawab, “Ya, nggak kepo juga. Dulu kan Caca sama Dean keliatan mesra banget. Aneh aja tiba-tiba putus dan tiba-tiba Dean ngilang dari kampus.”
Jeje mengambil gelasnya yang berisi cairan berwarna oren untuk kemudian ia hisap isinya. Ia tidak ingin terlihat terlalu penasaran dengan kehidupan Caca, meskipun kenyataannya memang seperti itu.
Eh?
Kepala Sofi menggeleng. Menampik pemikirannya yang terakhir. Mana mungkin ia suka dengan Jeje, sedangkan mereka saja baru dekat.
**
Caca menguap lebar sembari meregangkan tubuhnya yang terasa sangat kaku. Sudah tiga jam ia tidak beralih dari tempat duduknya. Pantatnya sudah sangat panas, akibat terlalu lama duduk.
Gadis itu beranjak. Ia mengambil air minum dari kulkas kecil yang ada di ruangannya. Netranya menyorot pada sang suami yang kini tengah duduk di kursi balkon dengan laptop menyala di depannya. Tampaknya pemuda itu juga sedang sibuk dengan tugas kuliahnya.
Tak ingin mengganggu, Caca pun keluar dari ruangan itu tanpa berpamitan. Ia ingin melihat keadaan dapur dan pengunjung hari ini.
Seperti biasa, kursi-kursi itu penuh dengan anak-anak muda seusianya dan juga anak-anak SMA seusia Ata. Mereka berfoto ria dengan kamera ponsel atau pun kamera digital yang sengaja dibawa untuk mengabadikan momen malam ini di sana.
Beberapa bulan yang lalu, salah seorang karyawan Caca mengusulkan memberi spot foto yang estetik untuk menarik daya minat para pengunjung. Caca dan Banyu pun menyetujui ide tersebut, karena saat itu kafe memang mulai sepi. Setelah ide itu direalisasikan, ternyata pengunjung membludak. Mereka bahkan harus menyewa lahan kosong di samping kafe itu untuk tempat parkir.
Caca bersyukur bisa mengelola tempat ini dengan baik. Kafe ini merupakan kafe pertama yang ayahnya dirikan. Kafe ini juga tempat pertama kali kedua orang tuanya bertemu. Kafe ini mempunyai banyak kenangan antara ayah dan ibunya, bahkan orang tua Rasya dan Mika.
Setelah melihat pengunjung di lantai bawah, Caca menyempatkan diri melihat bagian rooftop. Di sana pun sama ramainya. Gadis itu tersenyum bahagia melihat keadaan kafe ini yang semakin hari semakin banyak peminatnya.
Dari arahnya berdiri Caca melihat salah seorang teman SMA-nya berada di sana. Ia melambaikan tangan pada temannya itu kemudian berniat menghampiri. Namun, saat Caca melangkah ke sana ada seseorang yang berjalan sembari memainkan ponselnya. Caca yang kala itu juga tengah fokus menatap temannya pun tanpa sengaja bertabrakan dengan gadis itu.
“Ah, sialan baju gue basah!” umpat perempuan itu saat jus alpukat yang Caca bawa tumpah ke bajunya.
“Maaf, Kak, maaf,” ucap Caca merasa bersalah. Ia meletakkan gelasnya di meja yang ada di dekatnya. Kemudian mendekati perempuan itu, berniat membantu membersihkan bajunya.
“Sialan, lo bikin baju gue basah tahu nggak!” maki gadis itu sembari mengangkat kepalanya.
“Lo sengaja nyiram gue pake itu?” tuduh perempuan itu asal saat tahu yang ada di depannya adalah Caca.
***
Segitu dulu, nanti kalau sempet aku tambah😄
Selamat membaca, dan jangan lupa like dan komen❤