
Senyum Abimanyu tak bisa luntur sejak tadi. Pandangannya lurus pada sang istri yang saat ini menggandeng tangan Naya sembari membawa boneka pada sisi kirinya.
Rencana yang Abimanyu kira akan gagal ternyata berjalan lebih baik dari dugaannya. Bahkan mereka menghabiskan waktu sore tanpa kenal waktu.
Langit sudah sangat gelap saat Abimanyu membuka pintu mobilnya setelah ia meletakkan tas belanja milik Naya dan Caca. Hari ini mereka berdua–lebih tepatnya Naya– menghabiskan banyak uang untuk membeli banyak mainan.
Gadis itu memanfaatkan kebaikan sang tante untuk membeli apa pun yang ia inginkan. Jika biasanya sang ibu melarang, maka tak ada kata tidak dari Caca hari ini.
Caca seperti tidak peduli berapa banyak uang yang dia keluarkan, karena hampir semua barang yang Naya beli memiliki harga yang cukup fantastis untuk anak seusianya. Bahkan Caca sama sekali tak meminta Abimanyu untuk membayarnya. Gadis itu berkata ingin membelikan barang untuk Naya saat ini, karena ia belum tahu kapan lagi akan bersama keponakan cantiknya itu.
“Tidur?” tanya Abimanyu saat Caca baru saja memasang sabuk pengaman pada tubuhnya.
Caca mengangguk. Meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. Mengisyaratkan kepada Abimanyu untuk mengurangi volume suaranya.
Caca membenarkan letak Naya di atas pangkuannya supaya bisa tidur lebih nyaman. Gadis kecil itu meringkuk di dalam dekapan Caca. Padahal mereka baru saja duduk di sana.
“Aku nggak bawa car seat, gimana dong?” tanya Abimanyu. Ia khawatir Caca merasa tidak nyaman selama dalam perjalanan nanti.
“Uda nggak papa. Yang penting jangan ngebut. Takut ke bangun nanti,” jawab Caca sembari mengulas senyum.
“Atau aku aja yang mangku Naya, kamu yang nyetir?” tawar Abimanyu.
Caca terkekeh pelan. “Udah sih nggak papa, Bi,” ucap Caca berusaha meyakinkan.
“Mending sekarang kamu jalan, biar cepet sampai rumah,” suruh Caca.
Abimanyu tak tega melihat istrinya harus membawa Naya sepanjang perjalanan. Gadis itu pasti lelah, apalagi tadi mereka tidak berhenti bermain dan mengelilingi mal. Namun, Abimanyu juga tak bisa berbuat apa-apa jika Caca saja tidak mau digantikan posisinya.
Tak sampai lima menit, Abimanyu sudah membawa mobilnya menerobos gelapnya malam. Sesekali ia melirik istri dan keponakannya.
Dari tempat duduknya, Abimanyu bisa melihat bagaimana sorot mata penuh kasih sayang yang Caca berikan pada putri kakaknya. Ia bersyukur Caca dan Naya bisa akrab secepat itu.
**
Caca pun hanya bisa pasrah, karena Abimanyu memberikan sorot tajam padanya yang sempat ingin menolak.
Langkah kecil Caca membawa gadis itu menuju dapur. Ia mengambil sebotol air mineral dari kulkas dan membawanya ke kamar.
Caca mulai tahu, Abimanyu memiliki kebiasaan minum air putih setelah bepergian. Ia pun berinisiatif membawakan minuman itu supaya Abimanyu tak perlu lagi turun ke dapur dan bisa langsung membersihkan diri.
Di dalam kamar, Abimanyu mengusap-usap kening Naya. Menenangkan gadis kecil itu supaya tidak terbangun. Senyum Abimanyu mengembang menatap wajah cantik keponakannya. Andai saja ia dan Caca memiliki seorang putri mungkin saja akan secantik Naya.
Abimanyu tertawa tanpa suara saat membayangkan sesuatu yang mustahil terjadi. Menilik kembali hubungannya dengan Caca yang masih jalan di tempat. Seperti tidak ada kemajuan sama sekali selain Caca yang lebih bisa lemah lembut dan cukup peduli padanya.
Seperti saat ini. Abimanyu agak terkejut saat Caca tiba-tiba menyodorkan sebotol air mineral padanya.
“Apa?” tanya Abimanyu pura-pura tidak mengerti. Padahal dalam hatinya ia sudah menjerit bahagia.
“Minum,” ucap Caca. Ia meletakkan botol tersebut di nakas. Kemudian melangkah menuju lemari, mengambil pakaian ganti. Caca harus segera membersihkan diri. Tubuhnya terasa sangat lengket saat ini.
Abimanyu meraih botol tersebut. Membuka tutupnya untuk kemudian ia tenggak isinya. Dari atas tempat tidur Abimanyu menatap lekat setiap gerak gerik Caca bahkan sampai tubuh gadis itu hilang ditelan pintu kamar mandi.
**
Waktu masih menunjukkan pukul delapan malam, tetapi netra Caca sudah sangat berat untuk terbuka. Mungkin karena ia terlalu asyik bermain dengan Naya sampai lupa waktu. Hingga tubuhnya terasa sangat lelah sekarang.
Caca merebahkan diri di samping keponakannya. Ia mengusap lembut pipi chubby Naya. Ingin rasanya Caca menggigit pipi itu karena terlalu gemas.
Senyum Caca mengembang. Sejak dulu ia sangat suka dengan anak kecil. Dan baru kali ini ia bisa merasa sangat bahagia bisa menjaga satu anak kecil seharian.
Dulu ia hanya bermain dengan anak kakak sepupunya. Namun, tidak bisa seharian seperti hari ini. Bahkan ini adalah kali pertama Caca tidur bersama seorang anak kecil. Ia tidak tahu harus apa jika gadis kecil itu bangun besok pagi.
Masa bodoh, urusan besok pikir besok, batin Caca kembali memeluk tubuh kecil Naya.
Tak butuh waktu lama. Caca sudah memejamkan mata. Gadis berkacamata itu sudah hampir masuk ke alam mimpi saat sebuah kecupan hadir di keningnya. Tanpa sadar seulas senyum terlukis di bibir Caca.