
Caca mengetuk-ngetukkan penanya di atas meja. Perempuan berkacamata itu menopang dagu. Netranya sesekali melirik pada seorang laki-laki yang kini berbaring tengkurap di atas ranjang dengan banyak buku di sekelilingnya.
Sudah hampir satu jam Caca membuka laptop dan beberapa bukunya. Namun, tidak ada satu kata pun yang ia ketik ataupun tulis di sana. Berulang kali Caca mencoba meraih sedikit konsentrasinya yang sejak tadi pergi entah ke mana, tetapi tetap tidak ada hasil sama sekali.
Jemari lentik Caca membuka satu halaman bukunya. Mencoba kembali membaca apa yang tertulis di sana supaya besok ia bisa menjawab quiz yang akan dosen berikan. Namun, alih-alih paham, Caca justru semakin dibuat gila dengan beberapa kalimat yang sejak kemarin bersarang di kepalanya.
“Lo ngerasa nggak sih kalau Kak Abi makin hari makin perhatian ke lo?”
Caca hanya menatap aneh pada Maya yang entah berbicara apa. Sepertinya gadis itu sedikit mabuk, hingga mengatakan sesuatu yang tidak jelas.
“Coba lo pikirin lagi deh, Ca. Mana ada cowok yang nggak suka tapi rela bawain bekel ke kampus. Nunggu lo keluar kelas selama hampir tiga jam, padahal dia bisa balik sama siapa aja,” tutur Maya tegas. Ia seperti ingin membuka mata Caca agar bisa melihat bagaimana perubahan seorang Abimanyu terhadap gadis itu.
“Lo nggak usah ngada-ngada deh, May–”
“Muka gue keliatan kek ngada-ngada gitu, ya?” tanya Maya emosi.
“Gue setuju sama Maya,” timpal Sofi yang sejak tadi belum membuka suara. “Kak Abi emang banyak berubah sih akhir-akhir ini. Dia kayaknya juga lebih sering berangkat bareng lo deh? Bener nggak, May?”
Maya mengangguk setuju.
Napas Caca berembus pelan. Netranya kembali mencuri pandang pada sang suami yang masih di posisi yang sama sejak tadi.
Caca tidak bisa serta merta percaya pada kedua sahabatnya itu, meskipun apa yang mereka katakan ada benarnya juga. Banyak perubahan yang terjadi pada Abimanyu akhir-akhir ini, terutama setelah pemuda itu berhasil mencuri satu ciuman darinya.
****!
Caca mengumpat tatkala ia merasakan pipinya yang seketika menghangat mengingat ciuman yang pernah Abimanyu berikan. Caca sendiri tidak tahu kenapa ia bisa diam saja menerima ciuman itu.
Demi mengalihkan pikirannya, Caca pun memilih untuk menutup seluruh bukunya. Mematikan laptop, kemudian mengembalikannya ke rak. Caca butuh sedikit udara segar untuk bisa kembali berpikir jernih.
“Mau ke mana?” tanya Abimanyu menyadari sang istri tengah membuka pintu.
**
Di bawah langit malam, Caca duduk sendiri di ayunan. Gadis itu menyelonjorkan kakinya untuk lebih menikmati udara malam yang cukup dingin ini. Posisi yang sangat nikmat untuk seseorang yang sering sibuk seperti Caca.
Perempuan berkacamata itu menatap sekitar. Sepi, tidak ada siapa pun yang ada di sana selain dirinya.
Dio mungkin sedang sleep call dengan kekasihnya. Ayah dan ibu mertuanya mungkin kini tengah bermesraan di dalam kamar pribadi mereka. Penjaga juga tak tampak di sana, karena tentunya mereka bertugas di depan rumah.
Kepala Caca mendongak, menatap langit gelap yang tak ter sinari oleh bintang. Menjernihkan pikiran yang sejak kemarin tak bisa fokus.
Ucapan Maya mungkin benar. Bisa saja Abimanyu mulai menaruh hati padanya. Namun, Caca bukan tipe wanita yang mudah jatuh cinta. Ia membutuhkan banyak waktu untuk benar-benar bisa menetapkan hatinya pada satu nama.
Caca jadi teringat saat dulu Dean mulai mendekatinya. Mereka bahkan memerlukan waktu satu tahun untuk melakukan pendekatan hingga akhirnya Caca bisa menerima pemuda itu.
Terlalu lama memikirkan masa lalunya, Caca tidak sadar saat suaminya sudah ada di sana.
Pemuda itu duduk di depan Caca. Di samping kaki Caca yang tengah berselonjor nyaman. Merasa sang istri tidak memperhatikannya, Abimanyu pun menepuk kaki gadis itu. Sontak Caca terperanjat, ia bahkan memegang dadanya saking terlalu terkejut.
“Abi, apaan sih?” Caca melayangkan sorot mata tajam.
“Kamu sih ngelamun,” ucap Abimanyu, tertawa kecil.
“Mikirin apa sih?” tanya Abimanyu penasaran.
Caca memutar kepala. Menatap sang suami yang kini mencondongkan tubuhnya. Caca bisa melihat sorot penasaran dari pemuda itu terhadapnya.
“Mikirin kamu.”