Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 32


Malam ini, Abimanyu dan Caca kembali menginap di rumah Banyu. Rasa rindu Caca terhadap keluarganya masih belum usai. Ia masih ingin berkumpul dengan kedua adiknya dan juga orang tuanya.


Sejak menikah satu bulan yang lalu, Caca memang belum menginap di rumahnya sendiri. Hanya saja terkadang ayah atau ibunya menemuinya di kafe saat Banyu mengecek pekerjaannya. Terkadang juga Ata dan Bia dengan sengaja mencarinya di sana. Mengganggunya bekerja atau mengajaknya jalan-jalan yang tentunya ditolak oleh Caca.


Malam ini Caca duduk di gazebo taman rumahnya. Ia mengayunkan kaki menikmati udara malam yang begitu segar. Sambil memandang langit yang gelap, Caca bersenandung lirih untuk mengusir rasa sepi yang menghinggapinya.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, kedua adik Caca pasti sudah berada dalam kamarnya begitu pun dengan orang tuanya. Sehingga Caca memilih berada di sana sendiri mencari ketenangan setelah berdebat dengan Aldi sore tadi.


Beberapa kali Caca menghela napas dan membuangnya perlahan, seakan sedang mengobati paru-parunya yang terasa sesak setiap kali ia ingat bahwa saat ini ia bukanlah gadis lajang lagi. Terlebih, ia menikah dengan seseorang yang tidak ia cintai sama sekali.


Terkadang pertanyaan tentang di mana Dean dan kenapa pria itu menghilang masih melintas dalam kepala Caca. Kenangan-kenangan saat mereka bersama dulu kembali berputar. Mengingatkan bagaimana sikap Dean dulu yang selalu membuatnya tersenyum. Tak pernah sekali pun pemuda itu menggoreskan luka padanya. Hingga akhirnya Caca menyerahkan seluruh hatinya pada Dean. Mempercayakan dirinya untuk Dean miliki. Namun, siapa yang menyangka saat hari pernikahan Dean justru menghilang bagai ditelan bumi dan membuat Caca harus menikahi pria lain.


Udara malam semakin menerpa tubuh Caca yang hanya terbalut kaus oblong tipis dan celana selutut. Menghantarkan rasa dingin pada gadis berambut panjang itu. Membuat Caca harus mengusap-usap lengannya sendiri untuk mencari kehangatan.


Caca berjengit saat tiba-tiba merasakan sebuah jaket tebal membalut tubuhnya. Seketika ia menolehkan kepala dan wajah suaminya terpampang dengan seulas senyum lembut pada bibirnya.


“Kok, masih di sini?. Udah larut loh ini. Dingin lagi,” tanya Abimanyu. Pemuda itu memandangi sisi wajah Caca yang terlihat begitu cantik. Namun, sedetik kemudian ia memalingkan muka saat Caca kembali menoleh padanya.


“Kamu dari mana sih? Kok, baru pulang.” Bukannya menjawab Caca malah balik bertanya.


Abimanyu kembali menatap Caca yang kini juga menatapnya. Pandangan mereka bertemu membuat jantung keduanya berdetak lebih cepat dari biasanya.


“Tadi dipanggil ayah suruh pulang bentar ada urusan kerjaan,” jawab Abimanyu. Ia segera memutuskan kontak mata antara dirinya dan Caca atau detak jantungnya akan semakin menggila.


Abimanyu terkekeh. Ia bercerita bahwa tadi sang ayah malah mengusirnya dan menyuruhnya menemui Caca di sana. Padahal hari sudah sangat larut.


Caca tersenyum mendengar cerita sang suami. Ia bersyukur, meskipun sebelumnya ia dan kedua orang tua Abimanyu belum saling kenal, mereka bersikap ramah padanya. Caca merasa memiliki orang tua baru di sana dan bukan hanya sekadar mertua.


“Ayo, masuk! Dingin!” Abimanyu beranjak berdiri dan berjalan mendahului Caca.


**


“Kata ayah kita boleh nginep di sini lebih lama kalau kamu mau.” Abimanyu berucap saat Caca selesai mengoleskan krim malam di wajahnya.


Gadis itu mengangguk, menatap Abimanyu melalui pantulan cermin riasnya. “Kamu nggak papa di sini lebih lama?”


Abimanyu mengedikkan bahunya. “Nggak masalah.” Kepalanya menggeleng kecil saat berbicara.


Caca tersenyum. Ia memang ingin berada di rumah ini lebih lama lagi. Setidaknya satu hari lagi sudah cukup baginya. “Makasih,” ucap Caca.


Saat berdiri dan mengedarkan pandangan, Caca baru teringat mengenai sofanya yang belum juga dikembalikan ke kamarnya oleh sang ayah. Gadis itu menjadi ragu untuk melangkah. Kepalanya mulai berpikir, apakah malam ini mereka harus kembali tidur satu ranjang lagi?. Jawabannya pun sebenarnya sudah pasti iya. Memangnya di mana lagi mereka harus tidur selain di sana?.


Tidak ada pilihan lain. Caca kembali menata gulingnya berada di tengah sebagai batasan antara mereka seperti semalam. Karena seingat Caca cara itu ampuh. Tidak ada yang melewati batas sampai mereka bangun.


Namun, Caca tidak tahu saja, jika sebenarnya dia yang melewati batas yang sudah dia buat sendiri. Caca memeluk tubuh Abimanyu dengan erat semalam. Hanya saja Abimanyu tidak berucap apa pun dan lebih memilih untuk membiarkan Caca tak merasa telah melewati batasnya.