Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 68 : Pesan


Senja merangkak naik. Memperlihatkan langit yang mulai menggelap. Menghadirkan para bintang dan bulan sebagai penghias alam.


Suara ketukan keyboard samar-samar masih terdengar di sebuah ruangan bagian divisi pemasaran. Tampak tiga orang laki-laki duduk anteng di depan layar komputer dengan secangkir coklat hangat atau kopi di sampingnya.


Sesekali salah satu dari mereka mematahkan leher ke kanan ataupun ke kiri untuk mengurangi rasa pegal yang mulai mendera. Bekerja dari pagi hingga melewatkan jam pulang tentu membuat tubuh dilanda rasa lelah. Namun, tanggung jawab untuk segera menyelesaikan pekerjaan supaya tidak menumpuk pada keesokan hari membuat mereka melupakan sejenak apa itu istirahat.


Meraih gelas berisi coklat hangat dengan tangan kanan. Netra Abimanyu tak lepas dari deretan huruf yang terpampang pada layar monitor sembari meminum coklatnya. Ia meletakkan gelas itu kembali ke tempat semula saat ia menemukan kesalahan dalam pengetikannya dan harus segera dibenahi.


Setelah memencet tombol simpan, Abimanyu menyandarkan punggungnya pada kursi. Ia menutup matanya pelan untuk merelaksasikan pikirannya dari pekerjaan hari ini.


Abimanyu tidak tidur, tetapi ia seperti bermimpi kala pipinya merasakan benda kenyal yang cukup basah menghampiri. Aroma parfum yang sangat ia hafal menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya dan membangkitkan dirinya untuk segera membuka mata. Ia mengerjap sejenak, memastikan seseorang yang ada hadapannya ini benar-benar istrinya.


“Kamu ke sini?” tanya Abimanyu seraya mengulas senyum tipis. Sebuah anggukan ia terima sebagai jawaban.


Abimanyu mengambil kursi kosong di samping kubikelnya. Meminta sang istri tercinta untuk duduk di sana.


Sembari meletakkan tas dan juga dua kotak berisi burger ke atas meja, Caca mengamati sekitar ruangan Abimanyu. Ada dua orang pria yang ia yakini berusia sedikit lebih tua dari sang suami yang juga tengah menyelesaikan pekerjaannya.


“Aku buatin coklat dulu, ya!” pamit Abimanyu. Tanpa mendapat persetujuan dari sang istri, Abimanyu sudah lebih dulu melenggang pergi.


Caca tersenyum menatap punggung Abimanyu yang bergerak semakin menjauh. Ia terus memandang pemuda itu hingga ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.


Alis Caca bertaut mendapati sebuah nomor tak dikenal mengirimi sebuah foto kepadanya. Ia yang didera penasaran membuka pesan tersebut. Alangkah terkejutnya saat pesan itu berupa foto yang menunjukkan seorang laki-laki terikat pada kaki dan tangannya. Dia duduk di sebuah kursi kecil di dalam ruangan yang sangat kotor. Caca membulatkan matanya saat tahu siapa pria yang ada dalam foto tersebut.


“Dean,” gumam Caca lirih. Ia hendak membalas pesan dari nomor itu, tetapi suara langkah kaki Abimanyu mengurungkan niatnya.


Fokus Caca kembali pada Abimanyu yang kini kembali dengan satu cangkir coklat hangat di tangannya. Pemuda itu tersenyum dengan tulus kepada Caca. Menyirnakan pesan berisi foto tadi dari ingatannya.


“Kamu ngapain nyusul aku ke sini? Kamu naik apa? Sama siapa? Kamu nggak capek ke sini?”


“Satu-satu tanyanya.” Caca tertawa kecil melihat raut wajah sang suami yang terlihat sangat lucu.


Gadis itu menyilangkan kaki. Bibirnya menyesap coklat hangat yang baru saja Abimanyu buatkan. Namun, sedetik kemudian Caca menjauhkan cangkir itu dari bibirnya.


“Ini boleh aku minum kan?” tanyanya.


“Ya boleh lah!” Abimanyu berdecak seraya memutar bola matanya malas.


Caca terkekeh. Ia kembali menyesap coklat hangat itu sebelum meletakkannya ke atas meja.


“Kamu belum jawab pertanyaan aku, Ca.”


Caca menaikkan kedua alisnya. Seutas senyum manis ia berikan kepada sang suami yang kini tengah asyik memandangnya.


“Nggak papa kan kalau aku nyusul kamu ke sini?”


Sebuah decakan kembali terdengar dari Abimanyu. “Yah, nggak papa. Nggak ada yang larang juga. Aneh aja kamu ke sini nggak bilang-bilang dulu. Kan aku nanti jemput kamu.”


“Aku tuh bosen di kafe. Kamu juga nggak dateng-dateng tadi. Ya, aku ke sini deh sekalian lihat kantor ayah. Kamu pasti juga capek bolak-balik jemput aku,” jawab Caca.


“Terus tadi kamu ke sini naik apa?” tanya Abimanyu lagi.


“Naik taksi, Bi. Udah deh, nggak usah khawatir sama aku. Aku tuh udah gede, aku bisa jaga diri aku sendiri.”


Setelah berusaha menenangkan suaminya, Caca mengambil dua kotak berlogo restoran ternama yang tak lain dari restoran sang ayah. Ia membuka kotak tersebut kemudian memberikannya pada Abimanyu.


“Kamu belum makan kan? Makan ini dulu, ya. Nanti nyampek rumah aku masakin,” ujar Caca.


“Emangnya nggak capek pulang dari sini masak?” tanya Abimanyu.


Gelengan kepala dari sang istri menerbitkan senyum tipis Abimanyu. Ia pun segera menggigit burgernya, karena perutnya tiba-tiba terasa lapar melihat roti berisi daging dan sayuran itu.


Kedua manusia itu saling pandang selagi menikmati makanan pengganjal perut mereka. Mereka bercerita mengenai kegiatan hari ini.


Ingatan tentang wajah Abimanyu kecil memang sudah memudar. Waktu terlalu singkat kala itu untuk mematri wajah Abimanyu dalam kepala Caca. Gadis itu hanya mengingat suara dan caranya tertawa. Ia juga ingat dulu ia sering melempar candaan untuk membuat Abimanyu kecil tertawa. Tidak ada lagi yang ia ingat selain itu.


“Istri lo, Bi?”


Pertanyaan dari salah seorang teman Abimanyu menghentikan percakapan kedua pasangan itu. Mereka sama-sama menoleh. Caca pun menundukkan kepala sebagai tanda menyapa.


“Iya, Mas. Ini istri aku,” jawab Abimanyu. Suaranya terdengar sangat bangga memperkenalkan Caca pada temannya. Ia lalu menoleh pada Caca dan berkata, “Sayang, ini Mas Vega. Teman satu divisi aku. Dia yang ngajarin aku dari awal di sini.”


Caca tersipu mendengar panggilan sayang dari Abimanyu. Namun, secepat mungkin ia menyembunyikan rona merah dari pipinya yang ia yakin akan terlihat.


“Caca, istrinya Abi,” ucap Caca mengalihkan pandangan pada Vega.


Vega pun mengangguk, membalas senyum manis Caca. Ia menepuk bahu Abimanyu.


“Istri lo cantik ya, Bi. Pantes Vanya bilang, lo nggak pernah bales chat dia. Udah punya pawang secantik ini ternyata.” Tawa kecil Vega menutup kalimatnya. Kalimat yang mampu menerbitkan banyak kerutan di dahi Caca.


“Gue balik dulu, ya, Bi.” Vega beralih menatap Caca. “Jagain suaminya ya, Mbak. Di sini banyak yang suka sama suami kamu,” ucapnya diiringi tawa. Vega pun beranjak meninggalkan dua manusia itu.


Abimanyu tampak tenang menatap punggung seniornya yang mulai menjauh. Ia bahkan masih sangat santai menggigit burgernya, tanpa tahu ada seseorang yang kini terlihat tidak nyaman.


“Kenapa?” tanya Abimanyu saat Caca tak mengalihkan pandangan dari dirinya.


“Kamu di-chatin sama temen cewek kamu?” tanya Caca. Ruat wajahnya terlihat jauh berbeda dari saat dia datang tadi.


Abimanyu membenarkan pertanyaan gadis itu. Ia juga mengatakan tidak pernah membalas pesan mereka. Namun, agaknya sang istri tidak percaya. Terlihat dari beberapa kali Caca melirik ponselnya.


Hingga saat satu notifikasi pesan masuk ke ponsel Abimanyu, Caca mengambil benda itu secepat kilat. Ia menatap nyalang pada sang suami yang juga hendak mengambil ponsel tersebut. Tanpa izin si pemilik, Caca menyalakan ponselnya.


Sebuah pesan dari nomor tak dikenal membuat raut muka Caca kembali berubah. Lipatan pada keningnya semakin bertambah, membuat Abimanyu semakin penasaran dengan apa dan siapa yang mengirim pesan kepadanya.


“Siapa sih yang chat?” tanya Abimanyu penasaran.


Caca memandang sekilas pemuda di depannya itu, kemudian kembali menatap layar ponselnya. Ia mencoba menggeser ke atas untuk membuka kunci. Namun, sayangnya ia harus memasukkan kode pin untuk bisa membuka lebih lebar isi ponselnya.


“Pin kamu apa?” tanya Caca ketus.


“Ulang tahun kamu.” Jawaban itu sekilas membuat kerutan Caca mengendur. Ia tidak menyangka Abimanyu tahu tanggal ulang tahunnya.


Benar saja, setelah Caca memasukkan enam digit angka kombinasi antara tanggal lahir, bulan, dan dua angka belakang tahunnya ponsel itu bisa terbuka. Raut muka Caca lagi-lagi mengendur saat melihat wallpaper ponsel sang suami adalah foto dirinya yang diambil secara sembunyi-sembunyi.


“Siapa sih yang chat?” tanya Abimanyu lagi. Ekspresi Caca yang sejak tadi berubah-ubah membuatnya semakin penasaran.


“Nggak tahu, fans kamu di kantor kali,” ketus Caca seraya menyodorkan kembali ponsel sang suami.


Abimanyu meraih ponselnya. Ia membuka aplikasi berbalas pesan miliknya. Ada satu nomor yang sangat ia hafal, karena sangat sering mengiriminya pesan, tetapi tak pernah ia balas. Pesan yang hampir setiap hari masuk itu kembali Abimanyu abaikan.


“Aku nggak pernah bales chat-nya, Ca,” ujar Abimanyu. “Kalau kamu mau, kamu blokir aja nomornya.” Abimanyu memberikan ponselnya kepada Caca. Barangkali saja istrinya itu berkenan untuk memblokir nomor tersebut.


“Nggak perlu! Yang penting kamu nggak bales chat-nya aja.”


Abimanyu tersenyum mendengar jawaban Caca. Ia menggenggam telapak tangan sang istri dengan lembut. Menatap mata Caca yang menyiratkan kecemburuan yang begitu kentara.


“Ca, aku tuh udah punya kamu. Aku nggak akan mungkin tanggepin chat-chat nggak penting dari temen-temen kantor aku.” Tangan Abimanyu membelai pipi Caca. “Asal kamu tahu aja, cewek-cewek di sini itu umurnya jauh lebih tua dari aku dan aku nggak suka sama perempuan yang lebih dewasa. Aku sukanya sama cewek yang usianya lebih muda dari aku, dan bukan lain kamu ini.”


***


Haloha, maaf baru nongol lagi setelah sekian purnama. Semoga bab ini bisa mengobati rindu kalian☺


Jangan lupa like dan komen❤