
“Oke, gini aja. Gimana kalau kita tidur di tempat tidur berdua?”
“Ih, nggak-nggak!” Caca mengibaskan kedua tangannya dengan cepat. Gadis itu menolak keras, bahkan secara terang-terangan menunjukkan ketidaksetujuannya.
“Ngapain juga tidur berdua? Nggak perlu lah. Aku nggak bisa tidur sama kamu.”
“Kenapa? Takut meluk aku tanpa sadar ya?” tanya Abimanyu dengan menaikturunkan alisnya.
Pertanyaan itu mengingatkan Caca saat mereka menginap di rumah Banyu. Selama dua hari terakhir, Caca terbangun dengan posisi memeluk Abimanyu. Gadis itu sangat malu, bahkan saat ini pipinya sudah memerah layaknya kepiting rebus.
“Apaan, sih. Nggak lah!” kilah Caca sembari membuang muka.
Abimanyu tersenyum. Jarinya dengan jail mencolek lengan Caca. Menggoda sang istri yang saat ini masih belum mau menatapnya.
“Abi apaan, sih!” Caca menepis tangan Abimanyu dengan kasar. Membuat Abimanyu menyemburkan tawanya.
Jujur saja, menggoda Caca merupakan hal yang sangat menyenangkan bagi Abimanyu. Raut kesal dengan bibir mengerucut ke depan dan alis bertaut itu selalu berhasil menggelitik perutnya.
“Ya udah kalau kamu nggak mau. Tidur aja di sini, biar tambah capek,” ujar Caca sembari beranjak dari tempat duduknya. Gadis itu segera merebahkan diri, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, kemudian memejamkan mata. Dalam hatinya gadis itu berjanji untuk tidak akan memberikan Abimanyu kesempatan tidur di sana bersamanya.
**
Abimanyu berbaring miring menatap wajah cantik sang istri yang sudah terlelap. Senyumnya mengembang mengingat saat tadi tiba-tiba Caca setuju mereka tidur dalam satu tempat tidur. Katanya, Caca tidak tega melihat Abimanyu tidur di sofa dan Caca yakin Abimanyu tak memperbolehkannya untuk tidur di sana.
Dengan berani Abimanyu menyentuh kulit pipi Caca menggunakan jari telunjuknya. Ini adalah kali pertama pemuda itu menatap wajah sang istri dari jarak dekat dan bisa menyentuhnya tanpa sungkan.
“Cantik,” gumam Abimanyu.
Pemuda itu terkekeh saat Caca menggumam dan bergerak karena terganggu oleh sentuhannya. Meskipun begitu, Caca tak jua membuka matanya. Mungkin terlalu lelah atau memang tak pernah terganggu dengan apa yang terjadi di sekitarnya?.
Abimanyu menarik jarinya. Mengambil selimut yang sedikit jatuh dan membalutkannya ke tubuh Caca. Dan entah saat detik ke berapa Abimanyu baru sadar, bahwa ia baru saja mencium kening istrinya. Pemuda itu tertawa tanpa suara saat keinginannya terwujud tanpa sadar. Ditambah lagi saat Caca sama sekali tak merasa terganggu dengan apa yang ia lakukan semakin membuat dirinya geli sendiri.
Tak ingin terlalu hanyut, Abimanyu pun memutuskan ikut menyelami alam mimpi seperti sang istri. Barang kali saja ia bisa bertemu gadis itu di sana.
“Good night, Queen”
**
Caca melangkah cepat menuju kelasnya. Gadis itu merutuki dirinya sendiri karena bangun kesiangan, padahal hari ini harusnya ada kelas pagi.
Saat sampai di kelasnya, Caca mengatur napas yang tak beraturan. Ia bernapas lega saat ternyata dosennya belum hadir. Setelah duduk di kursinya, gadis itu merebut air minum milik Sofi. Menenggaknya cepat untuk mengusir dahaganya.
“Thanks,” ucap Caca menyodorkan kembali botol minum Sofi yang telah raib isinya.
Sofi menatap cengo pada botol airnya. Ia bahkan masih meminumnya setengah dan dengan rasa tidak bersalah Caca menghabiskannya. Sialan, batin Sofi geram.
“Ca!”
“Udah-udah, nanti aja lo protesnya. Mr. Leon udah masuk,” ucap Caca tanpa rasa berdosa.
Tangan Sofi mengepal geram. Giginya bergemeretuk menahan kesal yang sangat besar.
Di belakangnya, Maya malah terkekeh sendiri melihat tingkah dua sahabatnya itu.
Dua jam kemudian
“Iya, bawel!” balas Caca.
Ketiga gadis itu berdiri. Keluar dari kelas mereka yang sudah kosong. Mereka bertiga berjalan searah dengan tujuan yang selalu sama. Kantin.
“Lo laper banget kayaknya,” ucap Maya pada Caca yang terlihat sedikit pucat dan lemas.
“Gue belum sarapan. Mana tadi lari-lari lagi ke kelas,” jawab Caca dengan ekspresi memelas.
“Eh, beneran?” tanya Sofi yang kini tiba-tiba berubah iba.
Caca mengangguk pelan. Semakin mendramatisi ekspresi mukanya. Namun, sedetik kemudian ia tertawa saat Sofi malah minta maaf padanya, karena hampir marah saat Caca menghabiskan air minumnya
“Ya ampun, udah deh. Gue juga nggak selemah itu kok,” ujar Caca mengundang cebikan di bibir Sofi.
“Tapi gue emang laper sih sekarang. Jadi, ayo cepet-cepet ke kantin atau nanti gue bisa pingsan di sini.” Caca merangkul kedua sahabatnya itu, menyeret mereka agar lebih cepat berjalan.
Setelah sampai di sana, Caca dan kedua sahabatnya memesan makanan. Mereka bergarau seperti biasa sembari menunggu pesanan tiba. Namun, percakapan mereka terinterupsi saat seseorang meletakkan kotak bekal di depan Caca.
Caca pun menoleh, ia mendapati sang suami berdiri di sampingnya dengan seulas senyumnya.
“Apaan?” tanya Caca dengan alisnya yang terangkat sebelah.
Abimanyu menatap sekitar sebelum menjawab, “Titipan bunda. Tadi kamu nggak sarapan kan?”
Caca menggaruk kepalanya. “Tapi aku udah pesen makanan,” beritahu Caca pada sang suami.
“Ya udah, nggak usah dimakan,” jawab Abimanyu enteng.
Caca menatap kotak bekal berwarna biru itu dengan sedih. Di dalamnya berisi nasi dan sayur capcai kesukaannya.
“Tapi sayang kalau ini nggak dimakan. Kasihan bunda juga udah capek-capek nyiapin.”
“Ya terus kamu maunya gimana?” tanya Abimanyu. Ia masih setia berdiri di samping Caca.
Bahu Caca terangkat sedikit, kepalanya menggeleng pelan.
“Ya udah, gini aja. Aku makan pesenan kamu. Kamu makan masakan bunda,” usul Abimanyu setelah berpikir sejenak.
Tak lama setelah Abimanyu mengatakan itu, pesanan Caca, Maya, dan Sofi tiba. Tanpa persetujuan istrinya, Abimanyu duduk di samping gadis itu sembari menyeret piring berisi nasi goreng ke hadapannya.
“Lah, kok duduk sini?” tanya Caca. Kepalanya celingukan melihat sekitar mereka. Beruntung suasana kantin itu lumayan sepi, sehingga tidak ada yang terlalu memperhatikan mereka.
“Nggak boleh emangnya?” Abimanyu beralih menatap Maya dan Sofi. “Gue duduk sini nggak papa kan?” tanyanya pada kedua gadis itu.
“I-iya, Kak. Nggak papa,” jawab Maya gugup.
Caca berdecak. “Ya udah terserah,” ucap gadis itu sembari membuka kotak bekalnya.
Abimanyu tersenyum menang. Tanpa sungkan ia memakan nasi goreng milik Caca. Namun, pada suapan pertama Abimanyu merasakan sesuatu yang sangat luar biasa.
Pedes banget, njir, batinnya. Akan tetapi Abimanyu tak bisa untuk tidak menghabiskan makanan itu. Jadi, dengan menahan gejolak pada lidahnya, Abimanyu menelan sedikit demi sedikit nasi goreng itu sampai tandas.