
Pukul tujuh malam Abimanyu sampai di kediamannya. Ia berjalan di belakang Caca memasuki rumah. Langkahnya tampak gontai. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir. Pikiran Abimanyu yang sudah tak fokus sejak semalam kini semakin ricuh mendengar kabar sepupunya tiba-tiba kembali.
Bagaimana bisa?
Pertanyaan itu terus terngiang dalam kepalanya. Ia sampai tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Pikirannya sudah tidak bisa fokus pada pekerjaan dan beberapa pertanyaan bersarang di kepalanya.
Apakah ini alasan Caca sejak semalam mendiaminya? Lalu bagaimana hubungan mereka selanjutnya?
Abimanyu berharap semua yang kakaknya tadi katakan hanya sebuah guyonan. Abimanyu berharap Dean tidak lagi muncul di hadapan mereka. Jahat memang, tetapi Abimanyu benar-benar tidak akan bisa melepaskan Caca jika gadis itu kembali bertemu dengan sepupunya. Apalagi jika Caca ternyata masih menyimpan rasa pada pemuda itu.
Tidak! Abimanyu tidak siap dan tidak akan pernah siap!
Namun, sepertinya Tuhan sama sekali tidak berpihak padanya. Saat Abimanyu hendak menaiki tangga ia kembali dikejutkan dengan adanya Dean di ruang keluarga bersama seluruh anggota keluarganya. Abimanyu ingin mengabaikan mereka, tetapi panggilan dari ibunya membuat Abimanyu tak bisa ke mana-mana selain mengarahkan kakinya ke sana.
Abimanyu bersama Caca duduk bersebelahan. Berseberangan dengan Dean dan juga orang tuanya. Tatapan Abimanyu berubah tajam melihat wajah Dean yang penuh dengan luka lebam.
“Bi,” panggil Nabila pada putranya.
Abimanyu menoleh dengan malas. Ia tatap ibunya dengan raut muka tak terbaca.
“Dean ke sini ingin minta maaf ke kamu dan Caca,” ujar Nabila. Wanita itu mengusap paha putranya dengan lembut.
Satu decakan keluar dari bibir Abimanyu. Pemuda itu terlihat sangat malas menanggapi. Ia hanya berdeham untuk menjawab kalimat ibunya.
Nabila tidak percaya dengan reaksi Abimanyu. Ia tahu sejak dulu putranya dan Dean memang tidak terlalu dekat. Bahkan Abimanyu sering bercerita mengenai Dean yang selalu tak acuh terhadapnya. Namun, selama itu juga Nabila selalu menanamkan pada putranya untuk tidak membalas sikap Dean. Abimanyu melakukan apa yang ibunya nasihatkan, tetapi entah kenapa kali ini Abimanyu bersikap lain.
Tak ingin berburuk sangka kepada putranya sendiri. Nabila pun menyuruh keponakannya untuk menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke sana.
Dean diam dalam beberapa saat. Ia pandangi sang mantan kekasih yang sejak tadi hanya menunduk. Gadis cantik yang hendak ia nikahi itu kini menjadi istri sepupunya sendiri. Dean merasa tak terima, tetapi ia bisa apa?. Pemuda itu pun beralih menatap Abimanyu. Tatapan keduanya bertemu, sorot tak bersahabat saling mereka lemparkan, dan Dean tahu arti dari tatapan itu.
“Sebelumnya aku ingin minta maaf secara pribadi kepada Bulan. Karena kejadian tidak terduga itu membuat kami tidak bisa bersama. Bulan, tolong maafkan aku. Semua itu bukan kehendakku sendiri. Aku tidak tahu siapa yang tega memisahkan kita, aku juga tidak tahu apa maksudnya melakukan semua ini kepada kita. Tapi, aku harap dia mendapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang dia lakukan pada kita,” ujar Dean panjang lebar.
Caca hanya bisa mengangguk. Ia tidak tahan mendengar apa yang Dean ucapkan. Sedikit rasa untuk pemuda itu tentu masih ada dalam dirinya. Membuat Caca ingin memeluk Dean saat ini juga. Namun, sekuat hati Caca menahannya.
Setelah mengutarakan permintaan maaf kepada mantan kekasihnya, Dean kembali menatap Abimanyu.
“Aku juga minta maaf sama kamu, Bi. Gara-gara aku kamu harus nikah sama calon istri aku, yang mungkin bukan wanita yang kamu inginkan.”
Abimanyu memutar bola matanya malas. Ia sama sekali tidak menghargai permintaan maaf dari Dean. Hatinya seperti tidak bisa memaafkan perbuatan Dean.
“Abi!” tegur Nabila kala kembali melihat reaksi Abimanyu yang di luar dugaannya.
“Apa sih, Bun?” tanya Abimanyu sinis.
“Abi, Om tahu mungkin kamu masih menyimpan dendam pada Dean karena kejadian saat itu, Om sadar semua itu memang merusak beberapa tatanan hidup kamu. Tapi, Om mohon, maafkan Dean! Semua itu bukan kesalahan Dean,” sahut Kean, ayah Dean.
“Benar, Abi. Apa kamu sudah tahu kalau Dean saat itu ternyata diculik? Dia disekap di tempat yang cukup jauh dari pusat kota. Dia dipukuli sampai seperti ini. Tapi untung saja, Dean bisa melarikan diri dan Tuhan memberikan bantuan pada Dean saat itu,” timpal Celin, ibu Dean.
Abimanyu membelalakkan matanya tak percaya. Kemudian, mendengkus seolah benar-benar menyuarakan rasa tak percayanya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Beberapa kali Caca melihat reaksi Abimanyu. Ia tidak menyangka suaminya akan sampai seperti itu. Semua itu justru membuat Caca jadi ragu dengan kepercayaannya kepada sang suami. Namun, Caca juga tak ingin terpengaruh, bisa saja Abimanyu bersikap demikian karena sangat kecewa dengan apa yang telah terjadi di antara mereka.
“Aku tahu mungkin seorang Abimanyu nggak akan percaya dengan apa yang aku katakan.” Kalimat Dean menyita perhatian Abimanyu. “Tapi, di sini aku bener-bener minta maaf sama Abi karena sudah membuat dia terseret dalam masalah kami. Dan kalau Abi ingin aku bertanggung jawab, aku bersedia untuk menggantikan Abi sebagai suami Bulan.”
“Heh!” sentak Abimanyu. Pemuda itu menatap nyalang pada Dean yang duduk tepat di hadapannya.
“Abi!”
“Bun, dia udah kelewat bates ngomongnya!” Dada Abimanyu naik turun menahan gejolak emosi.
“Bunda tahu, Bi. Tapi bukan berarti kamu boleh bentak Dean kayak gitu,” nasihat Nabila penuh penekanan.
“Terserah deh terserah!” Abimanyu beranjak berdiri. “Lo denger ini, De. Gue maafin semua kesalahan nggak masuk akal lo itu dan gue tegesin ke lo kalau Caca selamanya nggak akan pernah gue serahin ke lo!”
Tanpa permisi Abimanyu meninggalkan seluruh keluarganya termasuk sang istri. Ia tidak peduli dengan seruan dari ibu dan ayahnya. Saat ini yang Abimanyu inginkan hanya kesendirian.
Caca bergeming di tempatnya, tidak tahu harus melakukan apa. Gadis itu menatap seluruh keluarga suaminya dan tatapannya terhenti pada sang mantan kekasih. Melihat keadaan pemuda itu membuat Caca semakin iba saja. Namun, Caca juga tidak bisa melakukan apa-apa.
“Maafin Abi, ya, De. Mungkin dia kecewa banget dulu waktu harus gantiin kamu nikahin Caca.”
Deg
Caca merasa ada hantaman besar di dadanya. Fakta yang mulai Caca lupakan. Sekarang Caca mengerti kenapa sejak tadi Abimanyu bersikap demikian.
“Tapi, bunda yakin sekarang Abimanyu mulai terima Caca jadi istrinya. Bunda mohon kamu jangan bilang kayak gitu lagi, ya?”
Ucapan Nabila kali ini bagai sebuah angin sejuk. Caca juga merasakan bagaimana perubahan sikap suaminya selama ini.
Gadis berkacamata itu menatap Dean cukup lama. Ia ingin tahu apa jawaban Dean.
“Iya, Tan. Meskipun ini bukan salah aku, tapi aku tetep harus minta maaf ke Abi. Dan untuk perkataan aku tadi aku juga sungguh-sungguh. Aku nggak bercanda. Aku ...” Dean membalas tatapan Caca. “Aku masih cinta sama Bulan.”
Caca sedikit terenyak dengan pengakuan Dean. Meskipun kemarin ia sudah mendengarnya secara langsung, tetapi ia tetap saja terkejut. Dean begitu berani mengungkapkan perasaannya di depan seluruh keluarganya. Apa memang sebesar itu rasa Dean padanya?. Caca jadi sedikit merasa bersalah saat ini. Dean masih memiliki rasa padanya setelah apa yang dia alami, tetapi Caca justru sebaliknya. Gadis itu mulai melupakan perasannya pada Dean dan mulai menaruh harapan pada Abimanyu. Caca seperti mengkhianati kekasihnya sendiri.
“Dean, kamu harus mulai melupakan perasaan kamu kepada Caca. Caca sudah menjadi istri sepupu kamu sendiri,” ujar Kean menasihati.
Pria paruh baya itu kemudian meminta maaf secara pribadi kepada Caca untuk yang kedua kalinya. Ia juga berkata tidak perlu lagi memikirkan Dean, Caca harus fokus dengan suaminya sendiri. Kean tidak ingin ada perceraian di antara Caca dan Abimanyu hanya karena Dean telah kembali.
“Iya, Om. Saya sudah memaafkan Dean sejak dulu,” jawab Caca seraya menyunggingkan senyum tipis.
Kean dan Celin mengucapkan terima kasih pada mantan calon menantunya. Kemudian mereka berpamitan kepada Nabila dan Arjuna. Mereka kembali meminta maaf atas apa yang dulu terjadi hingga melibatkan salah satu putra mereka terseret.
**
Setelah semua orang pergi, Caca masuk ke dalam kamarnya. Gadis berambut sepunggung itu merasa sangat lelah. Ia ingin segera mandi dan mengistirahatkan diri.
Saat menutup pintu kamar, sayup-sayup terdengar seseorang berbicara di balkon. Caca yakin itu adalah Abimanyu. Memangnya siapa lagi di kamar itu selain mereka?.
Entah kenapa Caca penasaran dengan siapa Abimanyu berbicara. Hingga saat Caca berada tepat di belakang Abimanyu, Caca mendengar sebuah kalimat yang membuatnya goyah untuk percaya pada suaminya.
“Kok bisa-bisanya dia tiba-tiba ada di rumah gue?”
“Gue nggak mau tahu, lo harus cari tahu kenapa Dean bisa-bisanya muncul–”
“Abi!”
**