Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 76 : Jangan tinggalkan aku!


Udara dingin menguasai malam. Mendominasi rasa di sebuah kamar yang berisi sepasang manusia berstatus suami istri.


Di atas sofa yang cukup lebar terdapat Abimanyu dan juga istrinya duduk saling berhadapan. Kebersamaan mereka yang mulai menghangat kini kembali dingin. Tatapan keduanya beradu, pancaran kecewa saling mereka lemparkan satu sama lain.


Tidak tahan dengan suasana yang begitu hening syarat akan kesalahpahaman, Abimanyu pun mulai membuka suara. Tangannya hendak menggenggam tangan mungil sang istri, tetapi urung kala gadis itu menjauhkan tangannya. Abimanyu pasrah, ia tidak ingin memaksakan apa pun saat ini. Ia hanya butuh kepercayaan Caca dengan apa yang akan ia jelaskan.


“Aku akan jelasin semuanya. Kamu dengarkan baik-baik dan jangan menyela,” ucap Abimanyu.


Netranya tak henti mengunci pandangan sang istri. Berharap perempuan itu kembali luluh.


“Aku nggak pernah berusaha menculik Dean. Dia sepupu aku, dan meskipun kami tidak pernah dekat, bukan berarti aku benci sama dia.” Satu kalimat penjelasan mulai Abimanyu luncurkan. Sebelum kembali berucap Abimanyu menghela napas dalam-dalam.


“Jujur, dulu aku memang nggak suka sama kamu. Aku juga tahu yang mau nikah sama Dean adalah kamu. Tapi, bukan berarti juga aku ada niat untuk merusak acara kalian.” Abimanyu menyentuh dadanya. “Aku masih punya hati nurani, Ca. Sumpah demi Tuhan!” Abimanyu mengacungkan tangannya. “Aku tidak terlibat apa pun yang berkaitan dengan kegagalan pernikahan kalian. Aku bahkan mencari keberadaan Dean sebelum akhirnya ketemu sama Om Kean dan Ayah Banyu yang kemudian nyuruh aku nikahin kamu.”


Caca bergeming mendengar cerita suaminya. Tampaknya gadis itu mulai luluh. Ia bisa merasakan kejujuran dari setiap kalimat yang keluar dadi bibir pemuda itu. Namun, saat kembali teringat dengan sepenggal percakapan Abimanyu tadi, Caca kembali goyah.


Seolah tahu dengan isi kepala Caca, Abimanyu kemudian menceritakan tentang siapa yang ia telepon beberapa saat yang lalu.


**


“Halo, Bi.”


“Do, Gue butuh bantuan, lo!” ucap Abimanyu tanpa basi-basi.


“Bantuan apa?” Di seberang sana si kembar Aldo menjauhkan diri dari ayah dan adiknya yang sedang bermain catur.


“Gue pengen lo cari tahu ke mana Dean selama ini ngilang!” pinta Abimanyu.


Aldo mengerutkan keningnya. Sejak ia tahu Abimanyu menikahi Caca, karena menghilangnya Dean, Aldo tidak pernah menanyakan ke mana pria itu pergi. Mereka tidak pernah membahas masalah Dean. Aldo tahu bagaimana hubungan sahabatnya dengan sepupunya itu. Jadi, sangat aneh saat Abimanyu memintanya untuk mencari tahu keberadaan Dean setelah cukup lama menghilang.


“Kenapa? Tumben lo pengen tahu sepupu, lo,” tanya Aldo penasaran.


Abimanyu mengembuskan napasnya kesal. Kemudian, menceritakan apa yang telah terjadi. Mulai dari ia yang diberi kabar tentang kembalinya Dean dan kedatangan Dean di rumahnya. Tak lupa Abimanyu menceritakan tentang Dean yang katanya diculik agar acara pernikahan itu batal.


“Aneh nggak sih menurut, lo?” Abimanyu berdecak. “ Dan lagi. Kok, bisa-bisanya dia tiba-tiba ada di rumah gue.”


“Gue nggak mau tahu, lo harus cari tahu kenapa Dean bisa-bisanya muncul–”


**


“Aku bukan penasaran kenapa dia bisa kabur dari tempat penyekapan itu, Ca. Aku Cuma pengen tahu di mana dia selama ini. Kenapa baru sekarang dia datang,” jelas Abimanyu membuat seluruh urat emosi Caca mengendur.


Abimanyu meraih telapak tangan Caca untuk ia genggam, kali ini Caca tidak menolak. “Aku nggak maksa kamu untuk percaya. Tapi, please! Kamu pikirkan baik-baik apa yang baru aja aku ceritain.”


“Aku ingin tanya satu hal,” ucap Caca setelah sekian menit terdiam.


“Tanyakan apa pun yang ingin kamu tanyakan, Ca. Aku siap untuk menjawab semuanya.” Netra Abimanyu berbinar mendengar suara sang istri meskipun lirih.


“Kenapa kamu kelihatannya nggak seneng Dean balik?”


Pertanyaan yang sejak tadi bercokol di kepalanya membuat Caca memberanikan diri untuk bertanya. Itu juga yang menjadi alasan Caca semakin yakin dengan tuduhannya tadi, meskipun sekarang ia mulai kembali percaya kepada suaminya.


Abimanyu menatap manik mata Caca yang menyiratkan sebuah kesedihan. Genggaman tangannya semakin ia eratkan sebelum menjawab pertanyaan istrinya.


“Sikap aku seperti itu bukan karena aku benci banget sama dia. Aku kecewa sama dia, Ca. Dia udah ninggalin kamu di hari pernikahan kalian.”


“Dan jujur aja, Ca. Aku takut Dean rebut kamu dari aku. Kamu sendiri juga denger kan dia tadi ngomong apa? Dia secara terang-terangan ingin ngambil kamu dari aku. Aku ...” Kalimat Abimanyu terjeda sejenak. “Aku nggak akan rela lepas kamu dari hidup aku,” imbuhnya lirih, tetapi syarat akan kesungguhan.


“Dean seperti itu karena dia masih cinta sama aku, Bi!”


“Aku juga cinta sama kamu, Ca!” tukas Abimanyu.


“Apa kamu nggak bisa rasain perasaan aku ke kamu?” tatapan Abimanyu berubah sendu. Tangannya membawa tangan Caca menyentuh dadanya.


“Di sini, Ca. Di sini aku ngrasain sakit setiap kali kamu bahas Dean. Di sini aku selalu merasa cemburu saat kamu deket sama cowok lain. Tapi, di sini juga aku ngrasain bahagia saat lihat kamu tersenyum.”


Abimanyu mengangsurkan tangannya menyentuh pipi lembut Caca. Dari matanya yang cukup bengkak Abimanyu tahu gadis itu baru saja menangis.


“Aku tulus sama kamu, Ca. Aku rela nungguin kamu jatuh cinta ke aku meskipun butuh waktu ratusan tahun. Tapi, please! Jangan pernah tinggalin aku. Trust me, please.”


Sebulir kristal kembali menetes dari kelopak mata indah Caca. Buru-buru Abimanyu menghapusnya dengan ibu jarinya. Abimanyu tidak akan pernah sanggup melihat gadis yang saat ini ia cintai itu menangis.


“Aku nggak pernah punya niat merusak acara pernikahan kalian. Percaya sama aku, oke?”


Tanpa berucap apa pun lagi, Abimanyu memeluk tubuh sang istri. Ia berharap perempuan itu percaya padanya dan hubungan mereka kembali hangat seperti kemarin.


**


Nah, loh. Bukan Abi ternyata. Kira² siapa yang nglakuin semua itu ke Caca?🤔


Ikuti terus, ya guys ya


Like komennya jangan lupa. Kasih hadiah sama vote juga dong biar akunya semangat nulis. Awal bulan nih🙃