Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 107 : Tragedi


“Bi,” panggil Caca di tengah gelapnya kamar hotel yang dipesan Abimanyu.


Hari sudah menggelap saat Caca sampai di tempat itu.


“Abi,” panggil Caca lagi. Ia tidak bisa menemukan sakelar lampu kamar tersebut. Namun, sedetik kemudian ia melihat bayangan seseorang di balkon kamar itu. Senyumnya pun melebar. Ia bergegas menghampirinya.


“Abi, aku di sini.”


Caca bergeming menatap punggung pria yang sangat ia kenali. Dia bukanlah Abimanyu yang ia cari sejak tadi.


“Halo, Sayang. Lama sekali kita tidak bertemu.”


Pria itu memutar tubuhnya. Menatap Caca dengan senyum mencurigakan.


“Di mana Abi?” tanya Caca, mengabaikan sapaannya.


“Dean! Di mana Abi?” teriak Caca marah karena Dean mengabaikan pertanyaannya.


Dean berdecak malas. “Ngapain sih nyariin dia. Di sini jelas-jelas ada aku, pacar kamu.” Dean melangkahkan kakinya mendekati Caca. Sedangkan Caca justru memundurkan langkahnya.


“Kamu sekarang anti banget ya sama aku,” tegur pria itu seraya menghentikan langkah.


“Dean, please! Di mana Abi dan kenapa bisa kamu yang ada di sini?” tanya Caca sekali lagi. Ia takut terjadi sesuatu pada suaminya. Padahal ia yang justru sedang dalam bahaya.


Dean menghela napas lemah. “Ca, bisa nggak jangan bahas Abi dulu? Aku capek denger kamu sebut nama dia terus.”


Senyum kecil Dean kembali terbit. “Di sini ada aku, Ca. Kita bisa bersenang-senang tanpa ada yang gangguin kita.” Dean kembali mendekat.


“Kamu nggak kangen sama aku?”


“Dean! Hubungan kita udah selesai. Aku udah jadi istri sepupu kamu, dan itu juga karena kamu sendiri,” tegas Caca.


Perempuan itu menegaskan kembali bagaimana status mereka saat ini. Lebih tepatnya Caca ingin memberitahu Dean perasaannya pada pria itu sudah hilang sejak lama.


Dean menggeleng dengan satu sudut bibirnya tertarik ke atas.


“Tapi di antara kita belum pernah ada kata putus, Sayang.” Dean kembali melangkah maju. “Bahkan kamu sempet ke apartemen aku dan ninggalin suami kamu.” Salah satu alis Dean terangkat seolah tengah mencibir Caca.


“Itu karena aku salah paham dengan Abi.” Caca menurunkan volume suaranya. Sepertinya menggunakan otot saat ini tidak berguna. Dean tipe orang yang jika dilarang justru akan semakin tertantang. Ia tahu betul bagaimana karakter mantan calon suaminya ini.


“Dean, aku udah nggak ada rasa sama kamu. Kita nggak mungkin bisa bersama. Tapi, kita masih bisa jadi temen kalau kamu mau.”


Raut muka Caca memelas. Dalam hatinya ia berharap Dean luluh, meskipun kemungkinan tersebut sangat kecil.


“Kita bisa jadi temen baik, De. Bahkan kamu itu kakak ipar aku sekarang. Jadi, hubungan kita bisa deket lagi. Oke? Aku udah nggak benci lagi sama kamu.” Caca memasang senyum lebar. Tawaran itu ia pikirkan secara impulsif, karena ia merasa saat ini sedang dalam bahaya.


Dean bergeming. Tatapannya sayu memandang Caca yang kini juga bergeming di tempatnya. Ia berharap bisa kembali dengan Caca seperti dulu. Seperti saat mereka menjadi sepasang kekasih. Namun, sepertinya memang sudah tak ada harapan lagi.


“De, aku tulus ngajak kamu baikkan. Kita temenan aja, ya. Jangan lagi ada benci di antara kita dan juga antara kamu sama Abi.” Caca memberanikan diri maju satu langkah mendekati Dean.


“Aku yakin, kamu pasti akan menemukan perempuan yang jauh lebih baik daripada aku.”


Caca mengulurkan sebelah tangannya.


“Kita temenan, oke?”


Nanar pria itu memandang tangan Caca. Ia jadi teringat saat dulu mereka bertengkar, Caca tidak gengsi untuk minta maaf dan selalu mengulurkan tangan seperti ini. Kali ini pun sama, Caca kembali mengulurkan tangan, tetapi untuk mengajaknya berteman.


“Boleh aku peluk kamu aja untuk yang terakhir?” pinta Dean dengan tatapan memohon.


Caca tampak berpikir. Berpelukan dengan pria lain saat ia menjalin hubungan dengan seseorang bukan hal yang seharusnya. Namun, sepertinya kali ini ia harus melanggar aturan itu, dengan harapan Dean tidak akan mengganggunya lagi. Caca pun mengangguk.


Senyum Dean mengembang. Kakinya menyeret ke arah Caca dan memeluk tubuh kecil mantan calon istrinya itu.


Caca mengusap punggung Dean. Dalam hatinya ia meminta maaf kepada Abimanyu yang saat ini entah berada di mana. Nanti Caca akan bertanya kepada Dean setelah pria itu benar-benar luluh.


Beberapa detik berlalu. Caca hendak mengurai pelukan mereka. Namun, tiba-tiba ia merasakan sesuatu kecil menancap di lengannya yang terbuka.


“Dean!” teriak Caca. Gadis itu memberontak sedangkan Dean justru semakin mendekap dirinya. Caca bisa mendengar sesuatu jatuh di samping kakinya.


“Kamu milikku, Ca. Nggak ada yang boleh milikin kamu selain aku,” lirih Dean di samping telinga Caca seraya tersenyum miring.


“Dean, apa yang lo masukin ke badan gue?” teriak Caca saat pelukan mereka telah terlepas. Pandangnya tertuju pada jarum suntik yang tergeletak tak berdaya di samping kakinya.


Dean menyeringai. “Sesuatu yang bisa bikin kamu seneng,” jawabnya ambigu.


Lengan bagian atas Caca terasa ngilu. Gadis itu memegangi lengannya seraya menatap tajam dan kecewa pada Dean. Ia pun mengambil langkah menjauhi Dean. Namun, saat ia hendak mengambil tasnya yang ada di atas meja, Caca merasakan sesuatu mendesak dalam tubuhnya.


Beberapa detik kemudian tubuh Caca terasa begitu panas dan gerah. Ia seperti tersengat aliran listrik saat tiba-tiba Dean menyentuh lengannya.


“Dean!” teriak Caca menepis tangan pria itu. Caca gemetar saat tatapan mata mereka beradu dan sesuatu terasa aneh dalam dirinya kala bertatap mata dengan pria itu.


“Kenapa, Sayang?” tanya pria itu dengan santai. Ia kembali menyentuh lengan Caca, tetapi lagi-lagi ditepis.


Caca merasa ini salah. Entah kenapa tiba-tiba libidonya naik begitu saja hanya dengan menatap mata Dean. Rasanya ia tak mampu membendung gairahnya sendiri.


“Kenapa? Kamu butuh aku sekarang?” Dean menyeringai.


“Dean! Apa yang lo masukin ke tubuh gue!” terika Caca lagi. Kembali Caca tepis tangan Dean yang hendak menyentuhnya lagi. Namun, dengan secepat kilat Dean menggenggam tangan Caca dan membuat gadis itu tak bisa lagi bergerak ke mana-mana, meski beberapa kali Caca menarik-narik tangannya.


“Kenapa sih kamu lebih milih Abi daripada aku? Apa hebatnya anak manja itu daripada aku? Dulu kamu cinta banget sama aku sampai-sampai kamu nyerahin kehormatan kamu ke aku. Dan sekarang aku rindu sama tubuh kamu. Akan aku buat kamu jadi milik aku lagi, Ca!”


Tanpa kata-kata lagi Dean menarik tengkuk Caca dan mencium bibir perempuan itu dengan brutal. Caca pun tak bergeming. Ia mendorong tubuh Dean dengan sekuat tenaganya. Namun, alih-alih berusaha lebih kuat, tubuhnya justru berkhianat. Sesuatu di dalam dirinya mendorong Caca untuk membalas ciuman itu. Tubuhnya terasa panas dan ciuman itu membuatnya semakin panas saja.


“Dean tolong, jangan seperti ini,” lirih Caca dengan suara bergetar.


Dean tak menggubris ucapan Caca. Matanya seperti ditutup oleh kabut kebencian hingga hatinya pun tak memiliki belas kasihan. Bahkan Dean dengan kasar membuka seluruh pakaian Caca dan mendorong perempuan itu ke atas tempat tidur. Caca yang sudah tak lagi memiliki tenaga karena tubuhnya bereaksi lain hanya bisa menangis dan memohon ampun pada Dean.


Air mata Caca luruh kala tubuhnya dijamah oleh laki-laki yang bukan suaminya. Bibirnya menggumam kata maaf pada Abimanyu, karena ia tidak bisa lagi menjaga kehormatannya sebagai istrinya. Hari ini ia telah dinodai oleh mantan kekasihnya.


“Abi, tolong aku!”


**


“Lo bisa lebih cepet nggak sih!”


Abimanyu menendang kursi di depannya. Suaranya terdengar lantang penuh kekhawatiran, membuat sopir tersebut menunduk takut.


“Bi! Lo harus tenang,” sahut kakak laki-laki Abimanyu, Geriyo.


“Gue nggak akan pernah bisa tenang sebelum istri gue ketemu, Bang!” teriak Abimanyu dengan sorot mata penuh amarah.


Setelah mendengar bahwa Caca tidak ada di rumah, Abimanyu menghubungi keluarganya. Ia sangat kalut dengan hilangnya Caca. Abimanyu yakin Caca telah dijebak oleh seseorang.


Abimanyu sama sekali tidak bisa berpikir jernih sebelum keluarganya tiba di rumah sang mertua. Beberapa kali Abimanyu menghubungi nomor Caca dengan ponsel adik iparnya. Namun, nahasnya ponsel Caca justru mati. Abimanyu hampir saja membanting ponsel Ata jika saja tidak ditahan oleh Jingga.


Ibu kandung Caca itu berusaha menenangkan sang menantu. Walaupun sebenarnya ia sama kalutnya. Hingga setelah menunggu hampir setengah jam, kedua orang tua dan kakak pertama Abimanyu tiba.


Nabila pun memeluk Abimanyu dengan raut muka penuh rasa khawatir. Wanita itu menenangkan putra ke tiganya sampai benar-benar tenang.


Sedangkan Arjuna, Banyu, dan Geriyo sedang memikirkan bagaimana cara menemukan Caca. Hingga Arjuna teringat beberapa waktu yang lalu, ia pernah memberikan sebuah benda kecil yang bisa digunakan untuk melacak seseorang. Ia memberikan benda tersebut ke seluruh anak dan menantunya untuk dipasang di ponsel mereka, supaya jika ada suatu kejadian yang tidak diharapkan terjadi, ia dan yang lainnya bisa melacak keberadaan mereka.


Arjuna pun meminta Geriyo untuk segera melacak keberadaan ponsel Caca. Tanpa menunggu waktu lama, Geriyo dapat menemukan posisi Caca saat ini. Ia segera menelepon sopirnya agar mengantarkan mereka ke tempat tersebut. Namun, Abimanyu justru hendak pergi ke tempat itu sendiri.


Geriyo pun harus menenangkan sang adik terlebih dahulu dan meminta Abimanyu untuk satu mobil dengannya. Geriyo tidak mau sesuatu terjadi pada adiknya jika berkendara sendiri di tengah kekalutannya.


Geriyo kembali menenangkan adiknya yang masih terus menendang kursi kemudi. Sopir yang membawa mereka tampak semakin ketakutan dan semakin melajukan kendaraan mereka. Lelaki satu anak itu meminta sopir untuk sedikit memelankan laju kendaraan mereka, atau mereka akan ditilang polisi karena melajukan kendaraan dengan kecepatan di atas rata-rata.


Pandangan Abimanyu terbuang pada jalan raya yang sangat lengang. Hari sudah hampir berganti. Istrinya telah pergi sejak sore tadi. Pikiran Abimanyu pun semakin menjadi-jadi. Memikirkan apa yang sedang terjadi pada Caca saat ini.


Suara pintu mobil tertutup terdengar begitu nyaring. Langkah Abimanyu terseret cepat menuju meja resepsionis. Buru-buru Geriyo menyusul sang adik dan sedikit menahannya agar tidak melakukan sesuatu yang berlebihan.


“Biar gue aja.” Geriyo mendahului langkah Abimanyu untuk mendekati resepsionis.


“Ada yang bisa kami bantu?” tanya petugas perempuan itu dengan ramah.


“Saya ingin mengecek, apakah ada yang memesan kamar atas nama Abimanyu Lakeswara?”


Geriyo menyebutkan nama Abimanyu, karena kartu kependudukan Abimanyu juga hilang. Jadi, mungkin saja seseorang yang sedang menjebak Caca menggunakan nama Abimanyu untuk meyakinkan wanita itu.


“Maaf, Pak. Kami tidak bisa memberitahu Anda,” jawab petugas resepsionis tersebut.


“Mbak, kami mohon beri tahu kami. Adik ipar saya sedang dalam bahaya,” balas Geriyo memohon.


“Maaf, Pak. Kami benar-benar tidak bisa membantu Anda untuk membocorkan identitas penyewa kamar hotel kami. Itu sudah kebijakan dari hotel kami.”


Jawaban petugas tersebut membuat Abimanyu naik pitam. Pria itu memukul meja resepsionis dengan sekuat tenaga, hingga beberapa orang yang berlalu lalang menatap ke arah mereka.


“Lo denger nggak sih, istri gue dalam bahaya! Cepet beri tahu gue di mana bajingan itu nyewa kamar di sini!” teriak Abimanyu frustrasi.


“Maaf, Pak. Tapi kami benar-benar tidak bisa membantu Anda.” Kedua petugas tersebut tampak sedikit ketakutan melihat kemarahan Abimanyu.


“Gue nggak peduli sama aturan lo! Sekarang cepet lo kasih tahu gue, kamar nomor berapa bajingan itu.” Abimanyu kembali memukul meja menggunakan telapak tangannya. Netra Abimanyu memancarkan kemarahan dan kekhawatiran. Namun, tak sedikit pun membuat luluh kedua resepsionis itu.


Abimanyu semakin marah mendengar jawaban tersebut. Teriakannya semakin kencang. Bahkan saat ini, ia mengancam para resepsionis tersebut.


Geriyo pun kembali harus menenangkan sang adik. Ia menyeret tubuh Abimanyu sedikit menjauh. Kemudian Banyu dan Arjuna mendekati meja resepsionis dan memohon hal yang sama seperti Abimanyu dan Geriyo.


Namun, jawaban resepsionis tersebut masih sama. Mereka bahkan mengatakan hanya melakukan tugas sesuai aturan. Mereka tidak bisa banyak membantu, meskipun ada rasa iba yang mulai meluluhkan hati mereka kala menatap kacaunya Abimanyu.


Arjuna menyisir seluruh ruangan tersebut. Pandangannya pun terhenti pada dinding belakang meja resepsionis. Di sana tertuliskan nama hotel tersebut. Arjuna tidak asing dengan nama hotel itu. Ia pun segera mencari tahu siapa pemilik hotel tersebut.


Hanya memerlukan waktu beberapa detik. Kini Arjuna sudah menghubungi nomor pemilik hotel itu. Beruntung sekali dulu ia pernah bekerja sama dengan hotel ini. Tentunya ini adalah salah satu jalan yang diberikan Tuhan untuk memudahkan mereka mencari Caca.


Beberapa menit kemudian seorang pria berusia hampir tujuh puluh tahun menghampiri mereka. Pria itu merupakan pemilik hotel ini. Setelah mendengar penjelasan dari Arjuna, pria itu meminta resepsionis untuk mencari tahu daftar nama orang-orang yang memesan hotel pada hari itu.


Seperti dugaan Geriyo. Nama Abimanyu tercantum sebagai penyewa salah satu hotel itu selama tiga hari. Resepsionis juga mengatakan, seseorang yang menyewa itu meminta mereka memberikan kunci kamar apabila ada seorang perempuan bernama Cahaya Bulan menanyakan nomor kamar tersebut.


Tanpa menunggu yang lain Abimanyu melesat menuju lift. Semua orang pun segera mengikuti Abimanyu. Mereka takut Abimanyu akan bertindak sesuka hatinya jika sudah menemukan Caca.


“Cepet buka pintu ini!” teriak Abimanyu kala ia dan semuanya telah berada di depan pintu kamar yang mungkin saja ada Caca di dalamnya.


Emosi Abimanyu benar-benar tidak bisa dikendalikan lagi. Ia terus saja memaki petugas hotel yang tengah membuka pintu kamar tersebut. Hingga saat pintu itu terbuka dan Abimanyu masuk ke dalam sana, seluruh emosinya semakin tak terkendali melihat Dean berbaring di samping istrinya.


“Bajingan!”


**


Yeay, akhirnya bisa update lagi. Semoga masih ada yang mau baca🤭


Maaf baru update lagi, aku lagi proses skripsi mentemen, jadi fokus kuliah dulu. Aku harap kalian ngerti.


Terima kasih buat yang masih nungguin😍