
Setelah beberapa saat saling merengkuh satu sama lain. Caca dapat mengusai dirinya. Isak kecil gadis itu masih sedikit terdengar, meskipun sangat lirih.
Banyu dan Jingga yang dikabari oleh Dio melalui Ata segera meluncur ke rumah sakit dini hari itu juga. Untung saja, jalanan sangat lenggang sehingga Banyu bisa membawa mobilnya dengan kecepatan maksimal.
Mereka sampai di sana saat Nabila menyuruh Dio masuk ke ruang IGD. Kedua orang tua Caca itu juga melihat bagaimana Nabila membentak putri mereka. Ada rasa sesak yang hinggap di dada mereka saat melihat hal tersebut. Namun, mereka juga mengerti alasan Nabila bersikap seperti itu.
Jingga mengusap lengan putrinya dengan lembut. Membalutkan sebuah jaket yang sengaja ia bawa dari rumah. Saat mengabari tadi, Dio mengatakan putrinya hanya memakai kaus oblong dan celana selutut saja saat pergi ke rumah sakit.
“Bunda kamu hanya terlalu khawatir dengan Abi sampai beliau berkata seperti itu ke kamu.” Jingga mencoba memberikan pengertian pada putrinya. Ia yang tahu apa yang terjadi di masa lalu tentu mengerti bagaimana perasaan Nabila saat ini.
“Tapi nggak perlu dengan bentak-bentak aku, Ma.” Saat membahas Nabila kembali, tangis Caca tak bisa terbendung lagi. “Nggak perlu nuduh aku yang enggak-enggak juga,” lanjut Caca kembali meneteskan air mata.
Jingga meraih kepala putrinya untuk ia dekap. Mengusap punggung gadis itu untuk kembali menenangkannya.
“Saat kecil dulu Abi pernah seperti ini dan bunda kamu nggak bisa berbuat apa-apa selain menangisi kondisi Abi, karena Bu Nabila juga sedang dirawat di rumah sakit. Saat itu Abi seperti hampir menemui ajalnya. Dia demam tinggi gara-gara makan makanan yang sangat pedas selama lima hari tanpa jeda. Untung saja keajaiban Tuhan datang dan membawa Abimanyu hidup sampai sekarang.
“Itulah kenapa mama tidak terkejut dengan sikap bunda kamu. Ya, meskipun memang sedikit keterlaluan. Tapi, mama yakin Kak Caca lebih dari sekadar kuat dengan apa yang Bu Nabila katakan.”
**
Setelah hampir setengah jam Abimanyu berada di IGD untuk diinfus dan melihat perkembangannya, akhirnya dokter memutuskan untuk merawat inap Abimanyu setidaknya satu malam.
Pemuda itu memerlukan perawatan yang sedikit lebih intens. Supaya demamnya bisa benar-benar pulih dan boleh pulang ke rumah.
Nabila menengok ke arah pintu kamar tempat Abimanyu dirawat. Sang menantu yang sejak tadi ia salahkan masuk dengan canggung bersama kedua orang tuanya.
Setelah beberapa kali diyakinkan oleh ayah dan ibunya, Caca memberanikan diri melihat kondisi Abimanyu yang saat ini sudah mendapatkan kamar sendiri. Perempuan itu mendekati ranjang sang suami dengan langkah pelan. Ada sedikit keraguan dalam setiap langkah yang Caca bawa. Ia takut ibu mertuanya kembali memarahi dan menyuruhnya pergi dari kamar itu. Caca hanya bisa tersenyum canggung pada Nabila sebelum akhirnya memilih untuk menatap Abimanyu saja yang kini sudah sadar sepenuhnya.
“Kamu udah mendingan?” tanya Caca basa-basi. Tangannya secara refleks menempel ke kulit pipi Abimanyu untuk melihat kondisinya. Caca bernapas lega saat ternyata suhu tubuh Abimanyu sudah mulai menurun.
Kepala Abimanyu mengangguk lemah. Pemuda itu tersenyum kecil mendapat perhatian dari istrinya.
Caca menatap Nabila yang berdiri di seberangnya. Ia masih merasa takut dengan wanita itu. Bahkan Caca menahan napas, saat kini Nabila berjalan mendekat ke arahnya.
Namun, rasa takut Caca kemudian sirna kala Nabila memeluknya dengan erat. Rasanya Caca ingin kembali menangis saat Nabila menggumamkan kata maaf.
“Maaf, ya, Ca. Nggak seharusnya bunda ngomong gitu ke kamu. Bunda cuma terlalu khawatir dengan Abi.”
Tadi, setelah Nabila memarahi Caca, Arjuna membawanya ke tempat sepi. Dia menenangkan Nabila terlebih dahulu. Arjuna tahu kekhawatiran seperti apa yang Nabila rasakan, tetapi Nabila juga tidak boleh menghakimi Caca seperti tadi. Arjuna menasihati Nabila sambil memeluk wanita itu, hingga akhirnya Nabila sadar dan menyesal dengan apa yang sudah keluar dari bibirnya pada sang menantu.
Caca membalas pelukan Nabila. Ia mengusap punggung wanita itu dengan lembut. “Aku ngerti kok, Bun. Aku juga minta maaf udah bikin Abi kayak gini. Harusnya aku nggak biarin Abi makan makanan aku begitu aja kemarin.”
“Maaf, ya, bunda terlalu kasar sama kamu,” ucap Nabila lagi membelai pipi Caca penuh kasih sayang.
“Iya, Bunda.” Caca memberikan satu senyum manisnya pada sang ibu mertua. Memberitahu wanita itu bahwa ia sudah baik-baik saja.
**
“Kamu laper?” tanya Caca saat keluar dari kamar mandi dan mendapati suaminya hendak meraih roti yang ada di atas meja di samping ranjangnya.
“Lumayan,” jawab Abimanyu seraya menggigit roti tersebut.
“Ayah sama bunda mana?” tanya Caca. Ia baru menyadari tidak ada siapa pun di sana selain dirinya dan Abimanyu.
“Pulang, Ayah ada kerjaan yang nggak bisa ditinggal, bunda juga harus ke toko bentar. Ada yang harus diurus.”
Caca hanya ber-oh saja kemudian sibuk dengan ponselnya untuk mengurus sesuatu.
“Kamu nggak pulang sekalian?” tanya Abimanyu membuat Caca seketika menoleh padanya.
“Kamu ngusir aku?” tanya Caca balik dengan menyipitkan kedua matanya.
Abimanyu menaikkan kedua alisnya bingung. “Enggak ngusir. Kan hari ini harusnya kamu ada kuliah,” jelas Abimanyu kikuk.
Caca berdecak. “Kamu aja masih di sini. Masa aku berangkat kuliah? Kamu mau di sini sendiri?” gerutu Caca dengan kesal.
Abimanyu memperlihatkan deretan gigi putihnya. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Kalau kamu mau masuk kuliah nggak papa, kok. Aku di sini sendiri nggak masalah,” tutur Abimanyu.
Netra Caca mendelik tajam, membuat Abimanyu tiba-tiba merasa takut.
“Nggak usah ngaco kamu!” sungut gadis itu. Ia meletakkan ponselnya ke atas meja. Tanpa berpamitan, Caca keluar meninggalkan Abimanyu sendiri di sana.
Abimanyu termenung di tempatnya. Menerka ke mana gadis itu akan pergi. Abimanyu takut Caca marah karena tersinggung dengan ucapannya.
***
InsyaaAllah mulai besok aku rutinin up antara jam 18.00-19.00. Kalau jam segitu belum ada bab baru berarti libur🙃
Jangan lupa like dan komen. Hadiah sama vote juga boleh dihibahkan ke aku ya😛