Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 80 : Maaf


“Enggak, Bi. Aku Cuma kaget aja Dean punya temen cewek sedeket itu. Dia nggak pernah cerita punya temen deket.”


Jawaban Caca membawa angin segar pada diri Abimanyu. Pemuda itu hampir saja sesak napas saat Caca kembali menanyakan tentang Dean. Sepertinya memang agak sulit untuk menghapus nama Dean dari hati Caca. Abimanyu harus berusaha lebih keras untuk memenuhi pikiran Caca dengan namanya.


“Kamu kali yang cemburu,” ucap Caca menggoda.


“Aku? Cemburu? Sama siapa?” Kedua alis Abimanyu naik beberapa senti.


Caca tersenyum menggoda. “Bukannya Crystal juga deket sama kamu?” Caca menaikturunkan kedua alisnya.


Bola mata Abimanyu berputra malas. Kedua tangan Abimanyu menekan pipi Caca sampai bibirnya maju beberapa senti.


“Denger, ya Cahaya Bulan istriku. Aku nggak sedeket itu sama Crystal. Aku sama dia cuma temen. Aku cemburunya kalau lihat kamu deket-deket sama cowok lain,” ujar Abimanyu. Tatapannya sangat gemas dengan wajah Caca yang semakin lucu saat seperti ini.


Hanya dengan kalimat itu saja, hampir seluruh permukaan wajah Caca memerah. Membuat Abimanyu tertawa kecil, kemudian melepaskan tangannya dari wajah gadis itu.


“Ini pipi kamu kenapa tiba-tiba merah?”


Sontak saja Caca menutupi kedua pipinya dengan kedua tangan. Ia melebarkan kedua bola matanya untuk memperingati Abimanyu agar tidak lagi menggodanya.


Tawa Abimanyu semakin keras sampai-sampai beberapa mahasiswa yang berdiri tidak jauh dari mereka menatap penuh tanya.


Caca mendesis kesal. Ia yang mulai merasa malu segera menaiki tangga, meninggalkan Abimanyu yang masih terus menertawakannya.


Melihat sang istri melangkah pergi, Abimanyu segera mengikutinya. Dengan langkahnya yang lebar, Abimanyu bisa dengan cepat berada di samping gadis itu. Lagi-lagi ia menggoda Caca, sampai gadis itu benar-benar kesal. Caca memukul lengan Abimanyu untuk meluapkan rasa kesalnya.


**


Caca : Nanti nggak usah jemput aku. Ayah nyuruh aku ke restoran yang ada di deket rumah ayah. Nanti aku pulang sendiri aja.


Abimanyu : Oke, Sayang. Hati-hati ❤


Kedua sudut bibir Caca terangkat melihat balasan pesan dari Abimanyu. Gadis itu selalu bersemu saat Abimanyu memanggilnya sayang.


Huh! Udah gila gue digituin aja muka gue anget. Astaga jantung gue deg-degan banget lagi.


Caca mengipasi wajahnya dengan kedua tangan. Ia meraba pipinya yang mungkin saja mulai memerah. Ia juga menyentuh dadanya. Irama jantungnya begitu cepat seperti hampir keluar dari tempatnya. Setelah merasa dirinya sudah kembali normal, Caca memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tak berselang lama sebuah mobil taksi berhenti di depan Caca. Gadis itu pun segera masuk ke dalam mobil tersebut kemudian melaju pergi.


Membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk Caca sampai di restoran milik Banyu. Gadis itu turun setelah membayar ongkos taksi. Caca tidak perlu lagi bertanya ke mana ia harus melangkah, karena ayahnya sudah memberitahu apa yang harus Caca lakukan di sana.


Hari ini Banyu meminta Caca menemui salah satu kliennya. Caca harus menunjukkan beberapa sudut bagian restoran yang bisa digunakan untuk acara yang ingin kliennya adakan di sana. Caca tidak pernah keberatan saat Banyu memintanya untuk menangani klien. Bagi Caca semua itu bisa menambah pengalamannya. Caca suka dengan hal baru dan bertemu dengan orang baru.


Saat masuk ke dalam restoran, Caca menelepon nomor klien yang sudah Banyu kirimkan padanya. Gadis itu memindai seluruh isi restoran. Beberapa detik kemudian ia menemukan keberadaan kliennya. Caca pun menutup telepon, lalu menghampiri orang itu. Sepasang suami-istri yang telah lanjut usia.


**


Caca mencium tangan kedua kliennya saat mereka berpamitan untuk pulang. Sudah satu jam Caca menemani kedua orang itu untuk berkeliling restoran dan mereka telah mencapai kesepakatan.


Senyum Caca mengembang menatap kepergian dua sejoli itu. Di usia pernikahan mereka yang sudah menginjak empat puluh tahun, mereka tetap terlihat harmonis. Caca baru tahu mereka menyewa restoran ini untuk merayakan hari jadi pernikahan mereka. Sepasang suami-istri itu ingin merayakannya bersama sanak-saudara mereka dan ingin pesta yang meriah.


Kepala Caca menggeleng. Tawa kecilnya keluar kala ingat hubungannya dengan Abimanyu saja bisa dikatakan baru dimulai. Sepertinya Caca harus segera memantapkan dirinya untuk menetapkan Abimanyu sebagai raja di hatinya.


Caca kembali duduk di kursinya. Ia tidak langsung pulang setelah kliennya pergi. Gadis itu ingin bersantai di sana untuk sementara. Toh, setelah ini ia akan kembali ke rumah. Pekerjaannya sudah selesai, tinggal merekap kembali apa yang harus dipersiapkan di acara pesta tersebut untuk kemudian ia berikan laporannya pada Banyu.


Tangan Caca terangkat, bermaksud memanggil pelayan. Ia memesan lagi makanan ringan dan minuman dingin untuk menemaninya di sana. Gadis itu mengucapkan terima kasih kepada pelayan tersebut setelah mencatat pesanannya.


Fokus Caca kembali pada buku kecil di hadapannya. Gadis itu membaca kembali hasil diskusinya tadi, kemudian menulis ulang apa saja yang menurutnya penting untuk dicatat.


Bibir Caca kembali tersenyum saat pesanannya datang. Ia mengalihkan pandangannya sejenak ke luar restoran. Tempatnya duduk saat ini berhadapan langsung dengan jalan dan juga tempat parkir restoran. Dinding kaca di sana membuat Caca bisa melihat keramaian jalan raya.


Namun, fokus Caca bukan pada jalan raya, tetapi pada sebuah mobil yang sangat ia kenali masuk ke pelataran restoran. Caca masih terus memperhatikan mobil tersebut hingga sang pemilik keluar. Benar seperti dugaan Caca, mobil itu adalah mobil Dean. Kening Caca mengernyit kala Dean memutari mobilnya kemudian membuka pintu penumpang. Bibir Caca terbuka melihat Crystal keluar dari sana.


“Dean? Crystal?”


**


Matahari tenggelam. Menyisakan semburat oranye di langit sore ini. Jalan raya mulai ramai pengendara. Peluh sehabis bekerja menemani mereka pulang ke rumah.


Abimanyu baru saja sampai di rumahnya. Langkahnya pelan, terayun tenang menuju kamar. Seperti yang Caca katakan melalui pesan teks tadi, bahwa Abimanyu tak perlu menjemputnya, karena Caca akan pulang lebih cepat. Saat ini Abimanyu yakin istrinya sudah berada di rumah dan mungkin sedang istirahat di kamar.


Kenop pintu kamar Abimanyu tekan, kemudian mendorong daun pintu itu hingga terbuka lebar. Abimanyu menyisir seluruh isi kamarnya, dan pandangannya jatuh di balkon. Di sana istrinya sedang duduk diam sambil menatap langit.


Tak butuh waktu lama untuk Abimanyu sampai di samping istrinya. Ia duduk di samping gadis itu, tetapi nyatanya Caca tidak merespons sama sekali. Abimanyu melonggokkan kepalanya menatap tepat di depan wajah gadis itu. Hasilnya masih sama, Caca tidak merespons sama sekali. Gadis itu melamun.


Caca baru tersadar saat Abimanyu menepukkan kedua tangannya di depan wajah Caca.


“Nglamunin apa sih?” tanya Abimanyu.


Caca hanya tersenyum untuk menjawabnya. Kepalanya menggeleng pelan.


“Kenapa sih? Cerita dong kalau ada masalah.”


Dengan setengah memaksa, Abimanyu menghadapkan tubuh Caca padanya. Ia mengarahkan kepala Caca agar netra mereka saling tatap.


“Kenapa? Ada masalah apa sampai kamu nglamun gitu?” desak Abimanyu.


Menatap wajah Abimanyu membuat Caca luluh. Ia yang tadinya ingin menyimpan sendiri keluhnya, berakhir gagal.


“Maaf,” ucap Caca dengan bibir bergetar.


Abimanyu yang menyadari bahwa ada yang tidak baik-baik saja pada istrinya segera menggenggam tangan Caca.


“Maaf kenapa, Ca?”


“Maaf,” ucap Caca lagi. Kali ini Abimanyu bisa melihat mata gadis itu berkaca-kaca.


Tidak tega melihat keadaan istrinya, Abimanyu pun segera memeluk Caca dengan erat. Pada saat itu juga tangis Caca pecah.