Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 91 : Cemburu


“Abimanyu?”


Si pemilik nama mengangkat kepalanya. Menatap pada seorang gadis cantik yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Abimanyu menyipitkan mata, kemudian tersenyum lebar saat sudah mengenali siapa gadis itu.


“Lexa?” tanyanya kemudian.


Gadis itu mengangguk dengan semangat. “Kamu apa kabar?” tanya gadis bernama Alexa itu.


Abimanyu meletakkan sendoknya di atas piring. Mengurungkan niatnya untuk menikmati hidangan yang tadi ia ambil.


“Aku baik, kamu gimana kabarnya?” tanya Abimanyu juga.


“Aku juga baik,” jawab gadis itu penuh semangat. “Ih, lama banget kita nggak ketemu, kamu makin ganteng aja, Bi,” ucap gadis itu membuat salah seorang gadis lain tiba-tiba merasa seperti terbakar.


Abimanyu tertawa mendengar pujian temannya itu. Tanpa membalas pujian Alexa, Abimanyu menanyakan bagaimana kuliah gadis itu di luar negeri. Namun, sebelum ada jawaban dari Alexa, suara deheman dari Caca mengalihkan perhatian mereka berdua.


Senyum Caca terukir lebar. Namun, netranya menajam menatap sang suami yang kini juga menatapnya. Caca berusaha menyembunyikan rasa kesal yang menyeruak ke dalam dadanya dengan senyuman itu.


“Sayang, ini siapa?” tanya Caca seraya mengambil telapak tangan Abimanyu yang menggantung di bawah meja. Kakinya menendang kaki sang suami dengan cukup keras, hingga menimbulkan ringisan pada bibir pemuda itu.


Abimanyu berdeham. Menatap tangannya sekilas. Mati-matian Abimanyu menahan diri untuk tidak meringis merasakan nyeri pada jarinya yang diremas kuat oleh Caca.


“Ehm, ini ....” Abimanyu membasahi bibirnya. “Ini temen SMA aku, namanya Alexa,” ucapnya kemudian.


Alexa menaikkan kedua alisnya saat bertatap mata dengan Abimanyu. Ia kemudian beralih pada satu orang gadis di samping temannya itu.


“Hai, aku Alexa. Aku temen deketnya Abi di SMA,” ucap gadis itu seraya menyunggingkan senyumnya.


Caca kembali memasang senyum lebar. Gadis itu menarik tangannya dari jari-jari Abimanyu untuk membalas uluran tangan gadis manis itu.


“Hai, juga. Aku Caca, istrinya Abi,” balas Caca dengan menekan kata istri.


Gadis bernama Alexa itu terperangah. Tatapannya beralih pada Abimanyu yang sedang menganggukkan kepala. Namun, sepertinya Alexa tak percaya hingga bertanya pada Abimanyu tentang kebenaran itu.


“Kamu udah nikah, Bi?”


“Iya, ini istri aku,” jawab Abimanyu.


“Kok, kamu nggak ngasih tahu aku?”


Pertanyaan yang meluncur dari bibir Alexa membuat Caca merasa sedikit tak suka. Gadis itu bertanya seolah ia adalah wanita berharga di hidup Abimanyu. Tiba-tiba saja Caca merasakan hawa panas di sekitarnya dan ingin pergi dari sana.


Abimanyu tampak gelagapan menjawab pertanyaan Alexa. Ia sedikit memutar otaknya agar mendapatkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan gadis itu.


“Pernikahan kami diadakan secara sederhana. Jadi, nggak ada temen yang diundang,” sahut Caca memberi jawaban.


Kerutan di kening Alexa terlihat sangat jelas, seperti tidak percaya dengan jawaban Caca. Alexa berteman cukup lama dengan Abimanyu, ia tentu saja tahu latar belakang keluarga pemuda itu. Rasanya sangat tidak mungkin jika keluarga Abimanyu mengadakan pernikahan putra mereka dengan sederhana. Bahkan di pernikahan kakak Abimanyu saja, Alexa diundang dan Alexa jelas tahu pernikahan itu sangat mewah. Namun, Alexa juga tak bisa untuk bertanya lebih dalam lagi. Ia tidak sedekat dulu lagi dengan pemuda itu.


“Oh, seperti itu.” Alexa memilih untuk percaya. Entah kenapa tiba-tiba kecanggungan mendera dirinya.


“Kamu, kok bisa ada di sini, Bi?” Demi menghapus kecanggungan itu, Alexa menanyakan apa yang sejak tadi ada di kepalanya.


“Sebenernya yang diundang ayah mertua aku, tapi karena beliau lagi nggak bisa beliau minta istri aku yang ke sini. Kebetulan istri aku juga kenal sama yang punya acara,” jelas Abimanyu. Ia pun balik bertanya kenapa Alexa juga bisa ada di sana, padahal saat ini gadis itu sedang menempuh pendidikan di luar negeri.


“Oh, Om Danu ... ah maksudnya yang punya acara ini adiknya papa aku. Kebetulan aku deket banget sama mereka dan mumpung lagi liburan aku nyempetin dateng ke sini,” jawab Alexa.


Senyum di bibir gadis itu sejak tadi tidak luntur sama sekali. Membuat Caca merasa semakin kesal saja. Ia kembali meremas jari Abimanyu saat pemuda itu kembali bertanya-tanya tentang gadis bernama Alexa itu.


Sekuat tenaga Abimanyu menahan ekspresinya agar tidak terlihat kesakitan. Sungguh, tenaga Caca cukup besar untuk bisa mematahkan tulang jarinya. Sekilas Abimanyu menatap Caca untuk melepaskan tangan mereka. Namun, bukannya dilepas, Caca justru semakin meremasnya. Yang membuat Abimanyu ingin tertawa dan menangis secara bersamaan adalah sikap tenang Caca. Istrinya itu tampak biasa saja, bahkan ia masih bisa memasukkan satu sendok puding ke dalam mulutnya tanpa merasa berdosa.


Setelah beberapa saat mereka berbincang, Alexa dipanggil oleh sanak saudaranya. Gadis berambut sebahu itu pun mau tak mau berpamitan pada Caca dan Abimanyu, meskipun sangat tidak rela.


“Aku ke sana dulu, ya. Kalian nikmati pestanya.”


Sinis mata Caca menatap kepergian Alexa. Dengan gerakan super kasar Caca menghempaskan telapak tangan Abimanyu. Beberapa kali gadis itu menyendok kasar pada puding di hadapannya hingga menimbulkan suara. Bahkan satu gelas minuman berwarna merah yang ada di mejanya ia tenggak habis dalam satu kali minum.


Di tempatnya saat ini, Abimanyu menggaruk kepala belakangnya. Sebelumnya ia tidak pernah melihat Caca seperti itu. Abimanyu jadi bingung sendiri harus bagaimana. Ia pun akhirnya memanggil Caca dengan suara yang sangat lembut sambil berusaha meraih telapak tangan gadis itu.


“Sayang,” panggil Abimanyu. Pemuda itu tersentak kaget kala Caca menepis tangannya.


“Nggak usah panggil-panggil sayang!” sentak Caca ketus.


Abimanyu mengulum senyumnya. Ia tahu Caca sedang cemburu. Namun, ia juga tidak tahu harus bagaimana. Hingga Abimanyu memilih untuk berpura-pura bertanya kenapa gadis itu tiba-tiba bersikap seperti itu. Padahal tadinya gadis itu sangat anggun.


“Jadi, menurut kamu aku sekarang nggak anggun?” tanya Caca dengan mata menyipit.


Abimanyu hanya mengerjap sekilas. Kenapa jadi begini?, batinnya.


“Enggak gitu, Sayang.”


“Terus gimana? Anggun itu kayak temen deket SMA kamu itu?” tanya Caca dengan menekan kata teman dekat seperti saat Alexa memperkenalkan diri tadi.


Caca mendengkus kasar. Ia beranjak tanpa aba-aba, membuat Abimanyu semakin bingung saja. Netra Caca berkeliling mencari pintu yang mungkin bisa membawanya ke suatu tempat yang bisa mendinginkan hati dan juga kepalanya.


Beberapa meter di samping kanannya ada sebuah tangga yang mengarah pada sebuah balkon. Tanpa mengajak suaminya Caca mengarahkan langkahnya ke sana. Satu persatu tangga ia tapaki, hingga ia dapat berdiri di tepi balkon hotel yang mungkin memang sengaja dibuat untuk melihat pemandangan di sekitar sana.


Caca menghirup udara dengan kasar. Ia benci dengan perasaan ini. Caca tidak suka saat merasa cemburu. Ya, Caca mengakui bahwa ia cemburu. Gadis bernama Alexa itu begitu menyebalkan baginya. Gadis cantik berkulit sawo matang itu mengajak bicara suaminya seolah ia tidak ada di sana. Caca benar-benar kesal mengingat gadis itu kembali.


Geraman kesal lolos dari bibir Caca. Gadis itu hampir saja melemparkan tas tangan yang sejak tadi ia jadikan pelampiasan. Namun, semuanya urung saat ia merasakan dekapan hangat dari arah belakang. Aroma parfum yang sudah ia hafal membuat Caca tahu siapa pelakunya.


Caca tidak bergeming. Gadis itu meronta, meminta Abimanyu melepaskannya. Namun, bukannya menurut, Abimanyu justru semakin mengeratkan tangannya ada pinggang sang istri.


“Abi, kamu tu apa-apaan, sih!” sentak Caca kesal. “Lepas, dong! Nanti kalau ada yang liat gimana? Malu tahu!” imbuh gadis itu.


Abimanyu tertawa kecil. “Kamu lucu, ya, kalau lagi cemburu,” ucap pemuda itu.


Bola mata Caca berputar malas. Ia tak ingin menanggapi ucapan suaminya. Bahkan saat ini ia sudah tenang dan tidak lagi meronta untuk dilepaskan. Caca tiba-tiba malas berbicara.


“Alexa itu temen deket aku waktu SMA. Aku sama dia cuma temen, kok. Nggak lebih,” jelas Abimanyu tiba-tiba.


“Aku juga nggak tanya, kok!” sahut Caca masih dengan nada ketus. Namun, sudut hatinya tiba-tiba merasa lega.


Abimanyu kembali tersenyum. Ia menumpukan dagunya pada bahu Caca. Matanya memandang lurus ke depan. Hawa dingin yang tiba-tiba saja menerpa mereka membuat Abimanyu semakin mengeratkan dekapannya.


“Aku tahu kamu nggak peduli. Tapi, aku juga nggak mau kalau kamu diem-diem salah paham.”


Kepala Abimanyu melonggok untuk melihat ekspresi Caca. Namun, gadis itu justru membuang tatapannya. Abimanyu hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang begitu menggemaskan.


“Mau pulang?” tawarnya kemudian.


Caca melirik sekilas sebelum menolak tawaran tersebut.


“Masih jam delapan, kok ngajak pulang,” gerutu gadis itu.


“Aku nggak mau kalau kamu merasa nggak nyaman di sini.” Abimanyu menjelaskan alasannya memberikan tawaran tersebut.


Caca berdecak sebal. Ia kembali menatap ke depan seperti suaminya. Tanpa sadar Caca menyandarkan kepalanya pada kepala Abimanyu. Rasa nyaman itu kembali menggelegak ke dalam sanubarinya.


“Dia suka sama kamu, ya, Bi?” tanya Caca. Netranya tertutup menikmati suasana malam ini.


“Hm? Kenapa tanya kayak gitu?” tanya Abimanyu bingung. “Nggak mungkin lah dia suka sama aku. Orang dulu dia pacaran sama temen aku. Ya, meskipun sekarang mereka udah putus, sih.”


“Temen kamu siapa? Aku kenal nggak?” Entah kenapa tiba-tiba saja Caca merasa penasaran.


“Aldo. Alexa dulu pacaran sama Aldo. Tapi, karena Alexa harus kuliah di luar negeri Aldo minta putus. Dia bilang nggak bisa kalau harus LDR-an.”


“Ih, Aldo cemen banget!” omel gadis itu.


“Tapi, kayaknya dia suka sama kamu, deh, Bi. Soalnya dia tu–”


“Udah, sih! Nggak usah dibahas. Entar kamu tiba-tiba ngambek lagi kalau bahas dia,” tukas Abimanyu.


Caca memberengut. Ia memukul lengan suaminya kemudian mencubitnya dengan cukup keras. Caca seperti tak peduli dengan Abimanyu yang saat ini meringis kesakitan.


“Sakit, Sayang!” keluh Abimanyu seraya mengusap tangannya.


“Biarin! Kamu nyebelin, sih,” gerutu Caca seraya mendengkus.


“Aduh, berdarah lagi.”


“Hah? Masa sih?”


Dengan panik Caca memeriksa punggung tangan suaminya. Namun, ia tidak menemukan setetes darah pun dari sana. Dan tawa yang keluar dari bibir Abimanyu membuat Caca sadar, bahwa ia sedang ditipu.


“Nyebelin banget sih, kamu!”


Caca kemudian memukuli lengan suaminya dengan keras. Kemudian pergi meninggalkan pemuda itu lagi.


**


Halo, mau nyapa sebentar, ya. Hehe


Makasih banget buat kalian yang masih setia nunggu novel ini. Aku tahu beberapa dari kalian kecewa dengan tokoh Cacaku, sampe kayaknya banyak yang nggak mau baca lagi. Tapi, ya udahlah nggak papa. Aku memang sedang ingin menulis tokoh yang memiliki banyak kekurangan di balik kepintarannya, haha


Buat yang masih setia baca cerita Caca dan Abi, sekali lagi aku ucapin terima kasih.


Yang mau follow ig ku juga boleh lo, cari aja @an_nisa205


Terima kasih🤗


Salam cinta dari An Nisa❤