
“Ante Aca, ada bandut, Ante Aca.”
Naya, gadis kecil berusia dua setengah tahun itu berteriak girang saat melihat pengamen jalanan yang menggunakan kostum karakter sebuah kartun di seberang jalan. Saat ini mereka berada di dalam mobil. Caca bersikeras mengajak Abimanyu keluar dari rumah. Hitung-hitung menghibur Naya supaya tidak mencari ibunya.
“Badut Naya, bukan bandut,” koreksi Caca diiringi tawa.
“Bandut Ante,” ucap Naya kukuh.
“Badut, Dek,” sahut Abimanyu dari belakang kemudi.
Caca hanya tertawa menanggapi Naya yang tidak mau kalah. Gadis itu sangat keras kepala, tetapi juga menggemaskan dan pintar.
“Kita mau ke mana, Ante?” tanya gadis kecil itu antusias. Perdebatannya dengan sang om sudah usai sejak beberapa detik yang lalu. Naya pun membalikkan tubuhnya menghadap Caca. Bola matanya yang sangat bening menambah kadar kecantikan gadis itu.
“Naya maunya ke mana?” tanya Caca balik. Tangannya memegangi pinggang Naya yang duduk di pangkuannya.
Jari telunjuk Naya mengetuk-ngetuk dagunya. Ia tampak memikirkan tempat yang ingin ia kunjungi.
Abimanyu dan Caca terkekeh bersamaan melihat tingkah gadis kecil itu. Mereka sangat gemas dengan tingkah Naya yang berlagak seperti orang dewasa.
Naya mengacungkan jari telunjuknya ke atas kepala dibarengi dengan bibirnya terbuka lebar.
“Aha, Aya punya edi,” ucap gadis itu membuat Caca dan Abimanyu tergelak bersamaan.
“Ide, Nay. Bukan edi,” ucap Abimanyu sembari mengacak-acak rambut keponakannya.
“Ih Om Abi, lambut Aya jadi belantakan, nih.” Naya menepis tangan Abimanyu. Bibirnya maju beberapa senti sembari merapikan rambutnya kembali.
Caca masih tertawa melihat kelakuan Naya. Bisa-bisanya gadis sekecil itu melawak. Caca tak habis pikir di mana Naya bisa mendapatkan kosa kata seperti itu.
“Ih, Ante! Udah dong ketawanya,” rengek Naya yang kini masih kesal gara-gara Abimanyu mengacak-acak rambutnya.
Seketika itu juga Caca merapatkan bibirnya. Menahan tawa yang sejatinya ingin meledak.
Naya tahu Ante Cacanya masih mengulum tawa. Ia melipat kedua tangannya di atas dada. Berpura-pura merajuk agar Caca tidak tertawa lagi.
“Oke-oke, Ante udah nggak ketawa lagi,” ucap Caca. Sedetik kemudian ia memejamkan mata. Menghirup udara cukup dalam sebelum mengembuskannya perlahan.
“Nah, sekarang Naya bilang. Naya dapat ide untuk pergi ke mana?”
“Aya engen ke timejone, Ante. Boleh, ya? ya? ya? ya?” tanya gadis itu sambil menggoyangkan lengan Caca.
Bibir Caca mengulas senyum. Ia mengusap rambut hitam Naya dengan lembut, seraya mengiyakan permintaannya.
Gadis itu berteriak girang. Ia menaik turunkan tubuhnya dan mengangkat kedua tangannya setinggi mungkin.
“Jangan lompat-lompat, Nay. Nanti kamu jatuh,” ujar Abimanyu menekan pelan pundak sang keponakan, tetapi matanya tetap fokus menatap jalan.
**
“Om, esc klim, Om, esc klim.”
Naya menunjuk kedai es krim yang tak jauh dari pandangan matanya. Tubuhnya mencondong ke depan meminta Abimanyu membawanya ke sana.
“Katanya tadi mau ke timezone.” Abimanyu menghentikan langkah, menatap Naya yang berada di gendongannya.
“Iya, esc klim dulu, Om,” jawab gadis itu. Ia berusaha menurunkan tubuhnya, tetapi tidak berhasil karena Abimanyu memeganginya dengan erat.
“Jangan gerak-gerak. Nanti jatuh, Nay!” peringat Abimanyu. Langkahnya pun menuruti permintaan sang keponakan. Membawanya ke kedai es krim yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Setelah mendapatkan tempat duduk, Abimanyu mendudukkan Naya di kursi sampingnya yang juga bersebelahan dengan tempat duduk Caca. Tak lama kemudian es krim yang sudah mereka pesan tiba. Naya tampak sangat bersemangat saat es krim coklat favoritnya tersaji di depan mata.
Caca tersenyum. Ia pun berinisiatif menyuapi Naya yang memang belum bisa makan sendiri. Sesekali Caca menyuapkan satu sendok es krim ke dalam mulutnya sendiri. Menikmati rasa manis bercampur dingin. Begitu nikmat dan pas untuk udara yang cukup panas hari ini.
“Kamu nggak pesen, Bi?” tanya Caca sebelum menyuapkan satu sendok es krim ke dalam mulutnya.
Abimanyu yang sejak tadi menatap wajah cantik sang istri kini sedikit terenyak saat perempuan itu tiba-tiba bertanya. Namun, sedetik kemudian ia menggeleng. Tangannya terulur mengambil selembar tisu yang ada di atas meja dan mengusap sudut bibir Caca yang terdapat sedikit sisa es krim di sana.
“Aku nggak terlalu suka es krim,” jawab Abimanyu.
Netra Caca mengerjap. Ia terpaku sesaat dengan apa yang Abimanyu lakukan. Entah kenapa akalnya tiba-tiba sedikit menghilang dari tempatnya.
“Ante Aca, Aya mau lagi.” Naya menepuk-nepuk lengan Caca, membuat gadis itu tersadar.
Caca berdeham canggung, kemudian kembali fokus pada sosok kecil yang ada di antara mereka. Dengan telaten Caca menyuapi Naya lagi sampai es krim mereka sama-sama habis.