Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 56 : Pertama kali


“Mami! Mami!”


“Iya, Sayang kita ke mami, ya.” Caca mengusap kepala Naya. Berusaha menenangkan gadis kecil itu supaya berhenti menangis.


Sejak pukul empat pagi tadi, Naya terbangun. Dia menangis sesenggukan, karena tak mendapati ibunya berada di sampingnya dan justru hanya ada om dan tantenya saja. Suara tangis gadis kecil itu sontak membangunkan Abimanyu dan Caca. Bahkan Dio sampai terbangun juga karenanya.


“Naya mau sama Om Dio aja?” tawar Dio yang saat ini duduk di kursi belakang.


Mereka memutuskan membawa Naya bertemu ibunya. Tidak ada siapa pun di rumah, membuat mereka kelabakan sendiri.


Nabila dan Arjun juga belum pulang dari luar kota. Mereka baru bisa kembali esok hari, karena pertemuan Arjun hari kemarin benar-benar tidak bisa ditunda.


“Endak, Aya mau mami,” jawab gadis kecil itu sembari menggelengkan kepalanya. Ia masih menangis histeris di dalam pelukan Caca.


“Naya sayang, kita ketemu mami, ya, tapi kamu diem dulu.” Kali ini Abimanyu yang bicara. Pemuda itu tak bisa lagi berkonsentrasi mendengar tangis keponakannya.


“Aya mau mami, Aya mau mami,” ucap Naya lagi semakin erat memeluk tubuh tantenya.


“Iya, iya kita ketemu mami,” balas Caca. Ia kemudian menyuruh Abimanyu untuk sedikit menambah kecepatan laju mobil mereka agar bisa segera sampai rumah sakit.


Sepuluh menit kemudian Abimanyu memasuki pelataran rumah sakit. Pemuda itu memarkirkan mobilnya dengan rapi sebelum turun dan mencari ruangan tempat kakak iparnya dirawat.


“Itu maminya Naya.” Caca mengangsurkan telunjuknya pada seorang wanita yang telah menunggu mereka di ujung koridor. Wanita itu terlihat masih berantakan, sepertinya baru bangun saat Dio menelepon wanita itu beberapa menit yang lalu.


“Mami!” Naya mengangkat kedua tangannya, meminta agar digendong ibunya.


“Sini, Sayang!” Kharris mengambil alih Naya. Ia mencium pipi putri semata wayangnya dengan penuh sayang. Seketika itu juga tangis Naya berhenti.


Gadis kecil itu terlihat memejamkan mata. Menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu.


“Maaf, ya, udah ngrepotin kalian,” ucap Kharris tulus. Ia mengajak ketiga adiknya untuk masuk ke dalam ruangan tempat suaminya dirawat.


“Naya emang masih sering nangis kalau bangun tidur. Biasanya aku kasih susu biar dia nggak nangis. Tapi, kayaknya aku lupa nggak ngasih tahu kalian,” tutur Kharris sembari mendudukkan diri di sofa ruangan itu.


Caca meringis. “Aku tadi bingung harus gimana, Kak, jadi aku bawa aja kemari. Soalnya dari tadi manggil mami terus.”


Kharris tertawa. “Iya nggak papa, Ca. Aku juga udah kangen sama Naya.” Masih dengan menggendong putrinya, Kharris mengambilkan sebotol air mineral besar dan gelas untuk ketiga adiknya.


Wanita bermata biru itu terkekeh melihat adik bungsunya yang sudah merebahkan tubuh di atas lantai yang beralaskan tikar.


“Ngggak usah ganggu gue!” seru Dio tanpa mau membuka matanya.


Sontak semua penghuni ruangan itu tertawa. Tak terkecuali suami Kharris yang saat ini juga sudah terbangun.


**


“Ngantuk, Bi.” Caca menyandarkan kepalanya di bahu Abimanyu.


Saat ini mereka sedang duduk di kursi panjang, tempat mengantre obat. Kharris meminta tolong pada kedua pasangan itu untuk mengambilkan obat suaminya. Wanita beranak satu itu harus memandikan putrinya yang sudah ceria kembali.


Abimanyu tersenyum. Ia membelai kepala Caca dengan lembut. Menciptakan kenyamanan kepada Caca yang terlihat sangat kelelahan. Namun, semua itu tak berlangsung lama, karena nama kakak iparnya sudah dipanggil oleh salah seorang apoteker di sana.


“Aku ambil obat Bang Edgar dulu,” pamit Abimanyu. Bibirnya mengecup puncak kepala Caca sekilas sebelum kepala gadis itu terangkat dari bahunya.


Caca berdecak saat merasakan gelenyar aneh pada tubuhnya setelah apa yang Abimanyu lakukan. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan seperti ingin melompat keluar.


Netra gadis itu kembali memejam, berusaha menetralkan detak jantungnya agar kembali berjalan normal. Namun, semuanya gagal saat Abimanyu sudah kembali dan menggenggam tangannya.


“Tangan kamu dingin banget. Kamu sakit?”


Abimanyu meletakkan punggung tangannya di kening Caca, takut jika istrinya itu demam.


“Nggak panas,” ujarnya lagi setelah tidak merasakan suhu tinggi di kening gadis itu.


“Aku memang nggak sakit, Bi,” tutur Caca malas.


Pemuda itu tidak tahu saja, jika saat ini Caca tengah menahan gejolak di dadanya yang tidak tahu berasal dari mana.


“Terus?”


Caca berdecak. “Ya, tanganku emang udah biasa kayak gini,” dustanya. Ini adalah kali pertama Caca merasakan telapak tangannya dingin tanpa sebab apa pun.


Senyum Abimanyu terukir kecil. Ia meraih telapak tangan sang istri untuk ia genggam. “Ya udah, kalau gitu biar aku angetin,” ujarnya sembari menarik gadis itu untuk beranjak dari sana.


Jantung Caca semakin berpacu saat tangan mereka bersentuhan dengan sengaja untuk pertama kali.