
Raja berbadan besar itu jatuh berlutut kemudian roboh kearah depan, terkulai membentur tanah. Samar-samar asap hitam tipis keluar dari tubuhnya. Raja penyihir akhirnya telah tewas.
Jendral menghembuskan nafas panjang seiring dengan nafasnya yang tersengal. Razel yang lemas berlutut, juga menghela nafas lega.
Mereka lega dengan kemenangan yang lagi-lagi dapat di raih.
“ Razel, kau tidak apa-apa? “ Jendral yang mendekati Razel bertanya sambil menatap wajahnya.
“ Aku tidak apa-apa..” ujar pelayannya itu sembari tersenyum pada tuannya.
“ Terimakasih untuk yang tadi “
“ Itu bukan apa-apa tuan “
Dari kejauhan Raja Zaimon terlihat membopong Merlin yang masih tak sadarkan diri. Gardden dan pasukan ada di belakangnya.
Jendral langsung berlari menghampiri Merlin, kemudian Raja Zaimon menyerahkan Merlin kepada Jendral.
“ Bagaimana kondisinya? “ tanya Jendral pada Raja Zaimon.
“ Dia masih tidak sadarkan diri “ jawab Raja Zaimon.
“ Kau sudah mengalahkan Raja penyihir, LORD? “ tatapan Raja Zaimon mengarah ke sosok tubuh besar tanpa kepala dengan darah disekitarannya yang masih terlungkup di tanah.
“ Yah, seperti yang kau lihat “ jawab Jendral yang masih memapah istrinya.
‘ Tidak salah Merlin memilih pria ini untuk menjadi pasangannya, dia memang hebat’ Raja Zaimon bergumam memuji Jendral dalam batinnya sambil menatap pria yang tengah memandangi istrinya.
“ Ayo kembali ke kapal! “ perintah Jendral.
Tiba-tiba sebuah bayangan besar berada di atas mereka, mereka serempak mendongak keatas, ternyata Wyen yang tengah terbang rendah mengitari mereka, seolah mengatakan 'aku mendapat bawahan'...karena di belakangnya ratusan naga merah yang ukurannya lebih kecil dari Wyen berterbangan di udara mengikuti kemanapun Wyen terbang.
" Hey!, kau sudah memilik pasukan Wyen!! " teriak Jendral dari tempatnya.
Gardden yang diikuti beberapa pasukan di belakangnya membuat Jendral mengerutkan keningnya ketika ia melihatnya.
“ Gard, siapa mereka yang dibelakang mu, apa kau juga memiliki pasukan baru seperti Wyen? “ tanya Jendral yang menoleh ke Gardden sambil membopong tubuh istrinya.
“ Yaa, bisa di bilang begitu. Aku baru akan meminta izin darimu, tapi karena kau sudah bertanya lebih dulu, yah baiklah aku harus menjelaskannya….Mereka adalah pasukan bayangan, mereka tidak punya tuan lagi..mereka ingin ikut dengan kita dan menjadi pasukanku, kau mengizinkan bukan LORD Luzen? “ jawabnya sumringah sambil menunjuk ke belakang dengan ibu jarinya.
Gardden terlihat senang mendapat pasukan hebat dari pulau Deiru.
“ Yaah, terserah kau sajalah..asal kau jelaskan peraturannya pada mereka “ ujar Jendral.
Tanpa waktu lama, Gardden menoleh kearah pasukan bayangan.
“ APA KALIAN SUDAH MENGERTI PERATURAN YANG KUJELASKAN TADI HAH?!!” Gardden berteriak kepada puluhan pasukan bayangan yang ada di belakangnya.
“ YAH! KAMI SUDAH MENGERTI TUAN!! “ jawab mereka serempak.
“ Nah, kau dengar sendiri LORD, mereka sudah mengerti “ ucap Gardden santai.
Jendral hanya menggeleng dan sedikit tersenyum. Kemudian mereka kembali ke kapal.
Di dalam kabin kapal, Merlin di ranjang sederhana masih tertidur dengan selimut membentang menutupi tubuhnya.
Jendral, Razel, Gardden dan Denzu berada dalam ruangan tersebut agak cemas menunggu Merlin sadar dari pingsannya.
Para penyihir putih telah berusaha merapalkan beberapa mantra untuk membuatnya sadar, tetapi hal itu belum membuahkan hasil.
Sampai malam menjelang, Merlin tak kunjung sadar. Jendral dan yang lain berkumpul di geladak atas untuk beristirahat sambil membahas bagaimana caranya agar Merlin bisa kembali sadar.
Razel ditugaskan Jendral untuk membawakan bejana berisi air hangat dan handuk kecil untuk membasuh wajah dan tubuh Merlin.
Wanita itu memasuki ruangan tempat Merlin tertidur.
Razel duduk di sisi ranjang mungil tersebut, ia memandangi wajah Merlin dan matanya yang masih terpejam.
Pelayan wanita itu menyelupkan handuk kecil ke bejana air kemudian memerasnya, ia mulai mengelap wajah nyonyanya dengan lembut.
“ Nyonya Merlin, sadarlah..kami semua cemas dengan keadaan anda, apalagi tuan yang sudah rindu ingin bertemu denganmu nyonya. Ohya nyonya, apa kau tahu betapa gagahnya tuan ketika melawan Raja penyihir, dia sampai beberapa kali terpental dan terluka karena serangan Raja penyihir jahat itu. Tuan mengerahkan seribu prajurit hanya untuk menjemput nyonya seorang, dia sangat mencintaimu nyonya..dia juga pernah berkata padaku, bahwa tidak ada wanita yang dapat menggantikan nyonya, anda adalah belahan jiwanya…aah tuan sangat romantis ya nyonya, oya tuan juga pernah ingin memberi nyonya sebuah bunga lily yang indah, tetapi karena kesibukannya dia lupa dan menyimpannya terlalu lama, hingga bunga itu layu, kemudian menyuruhku untuk membuangnya, dan itu dilakukannya sampai tiga kali dengan bunga yang berbeda jenisnya, hahaha..tuan terkadang memang seperti itu ya…”
Razel bercerita pada Merlin yang masih terpejam karena pingsannya, seolah ia bercerita pada anak-anak menjelang tidur.
Razel bercerita sambil masih membasuh bagian tubuh Merlin yang lain dengan handuk hangat.
Akhirnya Razel selesai dengan tugasnya. Ia merapihkan kembali selimut yang menutupi sebagian tubuh Merlin.
“ Cepat sembuh dan cepat sadar ya nyonya, kami semua menunggumu… “ ucap Razel lembut.
Kemudian ia keluar ruangan dan menutup pintu dengan hati-hati.
Dengan perlahan Merlin membuka matanya, ia tersenyum sendiri.
‘ Kau memang baik Razel…dan aku juga mencintai suamiku, ya dia adalah pria yang hebat..’ gumam Merlin dalam batinnya.
Ternyata Merlin sudah sadar beberapa menit yang lalu ketika Razel masih bersamanya, ia mendengar semua cerita Razel tentang suaminya tetapi Merlin sengaja tidak membuka matanya, seolah ia ingin mendengar semua cerita Razel.
Tak berselang lama Jendral memasuki ruang kamar tempat Merlin tertidur. Pria itu perlahan mendekati istrinya, ia duduk di kursi kayu di dekat ranjang, kemudian mengelus kening dan rambutnya dengan lembut.
“ Merlin, sadarlah…kau membuatku khawatir “ ujar Jendral perlahan.
Kemudian Merlin membuka matanya dan tersenyum pada suaminya.
“ Tuan, lain kali jika ingin memberiku bunga cepatlah kau berikan, jangan sampai bunganya menjadi layu.. “
Jendral dibuat kaget dengan sadarnya Merlin juga kata-katanya yang aneh.
“ Merlin!, kau sudah sadar?! “ pria itu langsung memegang pipi Merlin.
“ Ya tuan, aku tidak apa-apa..jangan khawatirkan aku..” sahut Merlin yang jemarinya langsung meraih jemari Jendral yang masih menyentuh pipinya.
“ Apa ada yang kau rasa sakit? “ tanya Jendral sedikit cemas.
“ Tidak ada tuan, aku baik-baik saja “ jawab istrinya.
Jendral mencium punggung tangan Merlin.
“ Aku sangat mengkhawatirkanmu..” ujar Jendral.
“ Oya, apa maksud perkatannmu tadi?, tentang bunga? “ pria itu bertanya.
“ Kau selalu menunda memberi istrimu bunga bukan, hingga bunga itu layu? “ jawab Merlin sedikit tersenyum.
“ Pasti Razel yang memberitahumu..,Ah..ya, maafkan aku Merlin, baiklah, lain kali aku akan segera memberikan bunganya padamu..” mata Jendral membinar, tersirat kegembiraan di wajahnya melihat istrinya yang telah sadar.
Mereka kembali mengarungi lautan lepas, dan kembali pulang ke tempat mereka yang damai.