Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 92 - PERJALANAN KE PULAU KEMATIAN


Kemudian Jendral menoleh kearah Gardden.


“ Gardden, apa sudah kau atasi yang di dermaga? “ tanya Jendral.


“ Yah, semua sudah beres “


“ Hey, apa kau tidak melihat seseorang yang membawa Merlin ke dermaga? “ tanya Jendral kembali.


“ Tidak sama sekali, jika aku melihatnya sudah pasti aku akan menangkapnya Luzen..”


“ Ya, benar juga..tapi kalau begitu kemana orang itu membawa Merlin jika tidak lewat dermaga? “ Jendral mengerutkan keningnya berfikir sejenak.


“ Aku juga tidak tahu, tapi sebaiknya kita ke pulau itu, untuk memastikan “ ujar Gardden.


“ Ya, baiklah. “.


Sore hampir menjelang, seorang prajurit melaporkan bahwa kapal-kapal sudah di persiapkan di dermaga.


Jendral dan pasukannya sudah siap dan menuju dermaga.


Di dermaga, ratusan kapal perang telah siap dengan persenjataan lengkap. Begitu juga dengan kapal perang kerajaan Zaimon, siap berangkat mengarungi lautan luas.


Akhirnya setelah Raja Zaimon dan pasukannya datang, dengan mengerahkan seribu prajurit siap tempur, mereka mengarungi samudra menuju pulau Kematian, pulau Deiru.


Jendral menggunakan kapal besar dan berada paling depan, sedangkan kapal Raja Zaimon ada di tengah-tengah para pasukan Hazmut.


Di kapal milik Jendral, Will yang tangannya terikat dipaksa menjadi pemandu jalan menuju pulau Deiru.


Will mengarahkan kapal mereka menuju utara.


“ Apa kau yakin pulau itu mengarah ke utara?” tanya Ziggo kepada Will di depan para prajurit dan teman-temannya.


“ Ya, memang kesana arahnya “ ujar Will engan kondisi yang sudah tidak karuan karena dipukuli oleh prajurit Jendral.


Gardden kemudian mendekati Ziggo.


“ Apa kau tidak yakin dengan arahan bajingan itu? “ bisik Gardden pada Ziggo.


“ Ya, aku ragu dengannya. Aku melihat anak buahnya saling memandang, sepertinya dia sedang membodohi kita “ sahut Ziggo yang juga berbisik pada Gardden.


“ Hmm…aku akan beritahu Jendral “ ucap Gardden.


Setelah Gardden memberitahu Jendral, Jendral keluar dari dalam kapal menuju geladak kapal utama.


“ Ziggo! Perintahkan yang lain untuk berhenti dulu! “


Akhirnya semua kapal behenti sejenak.


Jendral naik ke sisi bagian depan kapal.


“ Hey para anak buah Will brengsek ini!, jika ada dari kalian yang jujur memberitahu pada kami arah yang sebenarnya ke pulau Deiru, maka aku akan memberinya satu peti koin emas! Jika kalian mau hadiah ini, maka berdirilah! “ Jendral berteriak lantang kepada seluruh awak dan anak buah Will yang ikut serta di kapal tersebut.


Mereka menjadi tawanan dengan tangan diikat ke belakang dan mereka duduk di sisi pinggir di geladak kapal.


Seluruh anak buah Will saling melempar pandang. Ada dari mereka yang mungkin ingin memberitahu Jendral tetapi takut dengan Will, ada juga yang seolah tidak perduli.


Tetapi banyak juga yang bersedia memberitahu Jendral arah yang sesungguhnya demi koin emas.


Dari seluruh anak buah Will, tujuh diantaranya berdiri dan bersedia memberitahu yang sebenarnya.


“ Hey kalian para pengkhianat! Lihat saja hukuman yang akan kalian dapat dari Raja nanti! “ ancam Will yang tengah di pegang oleh salah satu prajurit Jendral.


Tetapi anak buah Will tersebut tidak perduli dengan teriakkan dan ancaman pemimpinnya.


Akhirnya dari ke tujuh pria tersebut di lepaskan ikatannya dan di bawa satu-persatu masuk ke geladak bawah untuk di tanya.


Jawaban mereka semua sama. Memang ternyata Will telah membohongi Jendral dan pasukannya, mereka bukan menuju pulau Deiru, tetapi mereka menuju pulau tandus, yaitu pulau tak berpenghuni yang terdapat banyak hewan buas.


Akhirnya seluruh kapal diperintahkan untuk memutar kapal berbalik arah menuju kearah selatan.


Di luar geladak, Jendral, Gardden, Ziggo, Razel dan para awak kapal dan pasukan di kapal utama itu menyaksikan Will yang tangannya masih terikat, ditambah diikat di bagian kakinya.


“ Tunggu!!, apa yang kalian lakukan?! Kalian sudah gila!! “ teriakan Will tidak di gubris sama sekali oleh mereka yang dengan santai memperlakukan Will seperti itu.


“ Semoga kau beruntung bertemu hiu di dalam sana, tenang saja, darahmu akan tercium oleh mereka.. “ Jendral menepuk-nepuk pipi Will dengan sedkit keras.


“ Kalian akan mendapatkan balasan dari perbua-…”


“ Lemparkan!... “


ujar Jendral pada prajuritnya sambil menyarungkan lagi pedangnya.


“ Tidaaakk!!.. Jangaann!! “


BYUUR!!!...


Will sang penipu di lemparkan ke tengah laut dengan tangan dan kaki terikat, juga luka yang masih segar.


Akhirnya mereka menuju pulau Deiru dengan arah yang benar.


Perjalanan mereka akan menempuh waktu dua hari dua malam di tengah lautan luas.


Ketika malam mulai merayap, Jendral bersandar di sisi kapal, memandang lautan luas di suasana yang gelap. Rambutnya mengibas diterpa angin malam.


“ Kau memikirkan nyonya, tuan? “


Suara Razel membuyarkan lamunan Jendral. Pria itu menoleh kearah pelayannya.


“ Aku memikirkan semuanya…” pandangannya kembali ke lautan.


“ Kau tidak sendirian tuan…kami semua ada di sisimu “ ujar Razel yang juga mulai bersandar pada sisi kapal.


“ Kau belum tidur? “ tanya Jendral menoleh kearah Razel kembali.


“ Aku belum mengantuk “ jawab wanita itu yang rambutnya mulai menari terhempas hembusan angin.


“ Razel, kenapa kau masih menjadi pelayanku, aku sudah menghapus perbudakan, seharusnya kau bisa memilih untuk menjadi orang merdeka “ kali ini Jendral tampak serius memandang wajah pelayannya.


“ Benarkah aku bebas memilih tuan?..” Razel juga memandang wajah tuannya.


“ Ya, kau bebas memilih “


“ Maka aku akan memilih menjadi pelayanmu yang setia tuan “ Razel mengalihkan pandangannya kearah lautan.


“ Hmm, Bagaimana kalau..” suara Jendral terputus kemudian pria itu menunduk.


“ Ehm!, Bagaimana kalau kau kunikahi saja? “ spontan Razel menoleh dengan cepat kearah Jendral.


“ Hah?..menikah?..tidak tuan, aku tidak akan mengecewakan nyonya Merlin “ ujar Razel serius.


“ Kau tidak mengecewakan siapapun Razel, bahkan kita sudah satu ranjang..apa bedanya? “ kali ini Jendral menghadapkan tubuhnya kearah Razel.


“ Tuan, tolong mengerti aku.., aku akan tetap melayanimu sampai kapanpun, apapun keinginanmu akan ku lakukan, tetapi aku ingin tetap mengabdi sebagai pelayanmu, bukan sebagai istrimu “


“ Kau memang aneh..” Jendral menghela nafas dan sedikit menggeleng.


“ Tuan, apa kau tahu…kau adalah satu-satunya alasanku untuk terus melanjutkan hidupku, semenjak aku di jadikan budak aku sudah beberapa kali mengalami pelecehan, untungnya nasib baik masih berpihak padaku, sehingga kehormatanku bisa kuberikan pada orang yang benar-benar ku cintai “


“ Orang yang kau cintai? “ Jendral mengerutkan keningnya. Razel hanya tersenyum.


“ Bukankah kau telah memberikan kehormatanmu pada..ku? “ wajah Jendral masih menyiratkan kebingungan.


“ Iya tuan, itu benar…”


“ Apa berarti aku orang yang kau cintai? “ tanya Jendral polos.


“ Kau memang aneh, tuan..” dengan tertawa kecil, Razel berlalu meninggalkan tuannya.


“ Hey!, Kau belum jawab pertanyaanku! “ Razel tidak menggubris pertanyaan Jendral, wanita itu melenggang berjalan membelakangi Jendral.