
Beberapa saat berlalu, Gardden menemui Jendral diatas benteng. Jendral melipat kedua tangannya pada sisi tembok benteng, rambutnya melambai di terpa angin, tatapannya kosong, ia melihat kearah desa di bawahnya yang menghampar dan sudah dipenuhi rumah warga.
“ Luzen, ada yang ingin bicara padamu..” Gardden menyentuh pundak Jendral.
“ Gardden? Siapa yang ingin bicara?” Jendral spontan menoleh keaeah Gardden.
“ Hey! Sini kau!” Gardden menyuruh seseorang di balik bayangan mendekati mereka.
“ Oris?..” Jendral berbalik badan dan menghadap kearah Oris, gadis berambut pirang yang tengah menunduk dengan wajah ketakutan.
“ Maafkan aku tuan, aku telah membohongimu..” Oris menangis kemudian berlutut di hadapan Jendral dan Gardden.
“ Oris, ada apa ini, bangunlah” Jendral memegang pundak Oris untuk bangkit dari berlututnya.
“ Ada apa ini Gardden? ” Jendral menoleh kearah Gardden.
“ Hey, cepat jelaskan pada Jendral!” Gardden yang tadi melipat tangannya di dada, menepuk lengan atas Oris dengan kasar.
“ Gard, jangan terlalu kasar pada wanita.. “ Jendral memperingatkan Gardden.
“ Maafkan aku tuan, sebenarnya..sebenarnya ayah dari bayiku bukanlah tuan Jendral, tetapi Gariel kekasihku, dia pergi setelah kami melakukan..” Oris menangis dan tidak bisa melanjutkan bicaranya.
“ Lalu, kejadian dikamar itu?..” Jendral memandang Oris serius.
“ Tuan tidak melakukan apa-apa padaku malam itu, aku memang sengaja ke kamar tuan Jendral, aku membuka baju tuan, lalu tidur di sebelahmu..aku melakukan ini karena dari pertama melihat tuan aku sangat merindukan pria seperti tuan Jendral, semakin lama aku semakin suka pada tuan, dan aku ingin tuan menjadi ayah dar-”
Plak!!
Gardden menampar Oris hingga tumbang ke lantai.
“ Gardden!! untuk apa itu!!” Jendral justru marah pada Gardden.
“ Tak tau malu!” Gardden masih agak geram.
“ Bangunlah Oris “ Jendral memerintahkan Oris bangkit.
“ Perbuatanmu sangat bodoh Oris, kau tau kan apa yang terjadi pada Merlin? Dia pergi, karena dia sangat kecewa padaku, padahal aku tidak melakukan apapun. Sekarang aku tak tahu keberadaannya. Dimana aku harus mencari Merlin! Apa kau perduli dengannya?!” Jendral tampak geram, tetapi kemudian ia diam sejenak.
Jendral menghela nafas, dan memegang keningnya.
“ Baiklah Oris, karena kau sudah membohongiku, dan karena kelakuanmu Merlin menjadi pergi ,maka aku harus menghukummu, maafkan aku Oris, tapi kau harus pergi dari benteng, carilah kekasihmu dan menikahlah dengannya”
“ Tapi tuan, aku harus kemana?..aku sudah tidak punya tempat tinggal, sedangkan aku sedang mengandung..tolonglah tuan, biarkan aku tinggal disini untuk sementara waktu..” Oris memelas.
“ Itu urusanmu!” Gardden lagi-lagi bersikap kasar.
Jendral diam sejenak, lalu mengangkat wajahnya keatas sambil memejamkan mata, lalu ia mengusap wajahnya.
“ Baiklah, ku izinkan kau tinggal sementara di benteng sampai kau melahirkan, setelah itu aku akan buat keputusan lagi. Sekarang pergilah ”. Oris mengangguk dan pergi dari hadapan mereka berdua.
“ Apa kau tidak terlalu lunak padanya Luzen?..dia telah membodohimu!” Gardden seolah tidak puas dengan keputusan Jendral.
“ Sudahlah Gard, yang penting aku sudah mengetahui kebenarannya. Masih banyak yang harus kita pikirkan “ Jendral menjawab tenang.
Dua sahabat itu berbalik badan dan melihat kearah hamparan desa dan benteng yang semakin ramai dari hari ke hari.
Mereka berbincang di atas benteng hingga matahari meninggi.
Satu pekan berlalu,
Harlmon terlihat mabuk dan berjalan tak terkendali. Leon yang menemuinya bertanya tentang keadaannya yang kacau, Harlmon mengatakan kalau dirinya bersedih dengan hilangnya Merlin yang hingga kini belum juga di temukan.
Hampir seisi benteng bersedih dengan hilangnya Merlin, tak terkecuali Jendral. Ia sering menggenggam mantel bulu yang baru saja di buat oleh Merlin. Tapi Jendral dan teman-temannya harus melanjutkan pekerjaan mereka.
Toko perhiasan milik benteng Drake adalah yang paling besar di pusat kota saat ini, karena paling sering di kunjungi, dan karena satu-satunya toko yang menjual berlian merah muda.
Di pusat kota, Jendral dan beberapa pria yang bersamanya berada di tengah-tengah ramainya suasana perdagangan, mereka menunggangi beberapa kuda.
Dari kejauhan Jendral melihat ada kerumunan orang dan kegaduhan, mereka mendekati kerumunan tersebut.
Disana terlihat seorang yang sedang diikat dengan tali dileher dan tangannya tengah dipukuli beberapa pria, dan di depannya ada seorang berpenampilan bangsawan yang berada di atas kuda hitam tersenyum sinis kearah pria yang dipukuli.
Jendral dan teman-teman yang melihat kejadian itu menghampiri mereka.
“ Hey, Tunggu dulu! Ada apa ini?!” Leon turun dari kudanya, menghampiri dan berusaha menghentikan pria yang memukuli orang yang terikat tadi.
“ AKh! Siapa kau? Apa urusanmu?!” pria yang memukul itu menoleh kearah Leon.
“ Hey, aku cuma tanya ada apa ini?.kenapa dia sampai dipukuli ditempat ramai seperti ini?!” Leon mencoba menjelaskan.
“ Hoy sampah!, kau mengganggu kesenanganku, pergi sana!” pria bangsawan yang di atas kuda bersuara.
Leon menghampiri pria bangsawan itu, lalu menarik kakinya. Dengan cepat Leon mendapatkan leher si pria itu.
“ Kau sebut aku sampah?!” Leon mendekatkan wajahnya ke wajah pria bangsawan yang sudah dalam cengkraman Leon.
Sontak semua orang yang ada disana kaget dan takut dengan kelakuan Leon, pria berbadan besar yang sangar.
Beberapa bawahan si bangsawan yang mencoba menolong tuannya, di tepis semua dengan mudah oleh pukulan Leon. Semua jatuh tersungkur.
Jendral dan beberapa kawannya hanya melihat dari atas kuda, mereka tidak turun apalagi membantu, karena pikir mereka Leon seorang diri sudah mampu mengalahkan prajurit lemah seperti yang dilihatnya, dan benar saja beberapa serangan prajurit bawahan si bangsawan sudah tidak ada yang berani maju melawan Leon.
Sekarang saatnya Leon menghajar pria bangsawan yang menyebutnya ‘sampah’ tadi.
Leon memukul wajahnya beberapa kali dan menendang perutnya hingga si bangsawan mengerang kesakitan, ketika Leon ingin memukul lagi wajah pria itu, Jendral menghentikannya.
“ Cukup!..sudahlah kawan, sisakan nyawanya untuk bicara..” Jendral turun dari kudanya lalu menghampiri pria yang tergeletak di tanah dengan baju mewahnya yang sudah tak beraturan.
Jendral berlutut dengan tumit yang terangkat tidak menyentuh tanah.
“ kau seorang bangsawan?” tanya Jendral, lengannya bertumpu pada lututnya.
“ Apa pedulimu!” si bangsawan berusaha bangun dengan keadaan babak belurnya.
“ Aku sedang bertanya padamu..” Jendral mendorong pundak kiri pria bangsawan tadi dengan pedangnya yang masih di sarungnya hingga pria tadi kembali terbaring.
“ Ya, aku adalah bangsawan! Dan kalian semua akan merasakan akibatnya karena telah berbuat seenaknya padaku!”
“ Lalu apa kesalahan pria yang disana” Jendral menunjuk pria yang terikat tadi.
“ Dia seorang pembunuh, dia mata-mata pemanah, Organisasi ‘Mata Elang’, dia telah membunuh saudaraku” si pria bangsawan menjelaskan.
“ Organisasi Mata Elang? “ tanya Jendral masih bingung.
“ Kau belum pernah dengar organisasi itu?, hah, dasar orang udik!”. mendengar kata-kata si pria bangsawan, Jendral lalu berdiri…
“ Leon, aku sudah selesai bicara dengan dia, kau boleh berbuat semaumu, atau kirim saja dia ke neraka” Jendral dengan santai membalikan badan dan menghampiri pria yang terikat tadi.
“ Jaangaann!!! Aaakhh…” teriakan si bangsawan tadi memekakan telinga. Ternyata Leon hanya mematahkan tangan dan kakinya.
“ Kau ikutlah dengan kami “ Jendral membantu pria yang terikat untuk berdiri dan membawanya ke kuda.
Akhirnya mereka menyelamatkan pria tadi yang bernama Denzu dan membawanya ke benteng.
...**********...