
Tiga hari berlalu, setelah Jendral Luzen berpamitan kepada Raja dan Ratu, akhirnya dia bisa membawa pasukan di belakangnya, kelompok para tahanan budak yang sudah bebas dan para bandit laut perompak yang sudah mengikat janji setia akan mengikuti dan mentaati Jendral Luzen.
Jendral sempat menawarkan kepada Leon dan yang lain untuk kembali ke kerajaan Gozan Selatan tempat tinggal mereka dulu karena sekarang mereka telah bebas, tapi Leon memilih ikut dengan Jendral Luzen, karena di Gozan selatan mereka tidak akan diterima karena sudah di jadikan budak, dan pernah di tangkap, mereka justru akan di rendahkan jika kembali ke tempat asal mereka. Akhirnya Jendral menerima mereka ikut kembali dengannya ke desa.
Dumor dan Lizo kaget bercampur senang, dalam waktu sesingkat itu Jendral berhasil mengmpulkan pasukan sebanyak itu.
Akhirnya Mereka semua kembali ke desa.
Di Desa yang sejuk dan sudah terlihat rapih, semua tampak berkumpul di di dalam menyambut kedatangan Jendral.
Mereka semua saling berpelukan, melepas rindu. Mereka juga terheran-heran dengan banyaknya orang yang Jendral bawa.
Empat orang yang ditugaskan Jendral Luzen juga sudah berada di desa, mereka juga sudah menyerap ilmu dari penempa padang dan pengrajin kulit.
“ Mereka akan membantu membangun kerajaan kita, sekarang mereka adalah saudara kita…tolong terima mereka dengan baik “ Jendral memperkenalkan Leon dan Ziggo pemimpin perompak ke kawan-kawannya di desa, juga kepada Merlin yang sedari tadi menatap Jendral dengan mata berbinar.
‘ Jendral, akhirnya kau kembali…’ batin Merlin, seolah pangerannya kembali.
“ Nona Merlin, sepertinya aku mencium bau hangus..” seorang pria penepuk pundak Merlin.
Spontan Merlin langusng ke dapur dan mengangkat bubur gandum yang berubah warna coklat karena terlalu lama di atas api, yang seharusnya ia aduk terus.
Merlin sibuk dengan masakannya, ketika ia berbalik ingin mengambil sesuatu, tiba-tiba ia dikagetkan dengan sosok tubuh tegap kokoh yang berdiri dihadapannya.
“ Ah, tuan..kau..kau mengagetkanku…” Merlin tampak kikuk.
“ Maaf nona Merlin, tapi sepertinya kau bisa beristirahat dulu, kau tampak lelah“ tangan Jendral diangkatnya lalu mengusap perlahan pipi lembut Merlin yang sedikit hitam terkena abu arang ketika tadi memasak.
Merlin menatap Jendral sesaat, mata birunya berbinar indah, ia bisu tak dapat berkata-kata, perasaannya campur aduk, terlalu berbunga-bunga. Tapi Jendral langsung canggung kembali dan berlalu pergi.
Merlin masih mematung di tempatnya berdiri, sambil mengusap perlahan pipinya yang disentuh Jendral tadi.
Tapi lagi-lagi ia dikagetkan dengan kepala Ghose yang meuncul di balik pintu dapur menanyakan masakan yang sudah matang. Merlin menghela nafas.
Malam hari, di bawah indahnya bintang yang berhamburan. DI desa yang telah kokoh itu semua berpesta merayakan kembalinya Jendral dan teman-teman yang berhasil mengambil ilmu.
Karena mulai besok pekerjaan akan dimulai, maka malam itu mereka bersantai dan bersenang-senang.
Ada beberapa pria mantan perompak dan anak buah Leon yang melihat kecantikan Merlin, tapi kawan-kawan Jendral memperingatinya.
Jendral tampak mencari seseorang, akhirnya ia menemukannya, seseorang itu menuju hutan dengan lentera dan keranjang di tangannya.
“ Nona Merlin, apa kau tidak ikut berpesta? Mau kemana..kenapa kedalam hutan?” Jendral yang berjalan cepat bisa mengimbangi langkah Merlin.
“ Tuan? Kenapa anda disini?..ah..aku mencari jamur tidur..ia ada di dalam hutan, ia mekar pada waktu seperti ini, sayang kalau tidak segera dipetik “
“ Jamur tidur?” tanya Jendral.
“ Ya, jamur untuk membius orang agar tidur, aku sudah menelitinya dan berhasil” Merlin tampak semangat.
“ Tapi…” Merlin langsung menyusulnya.
Ternyata jamur tidur berada di daratan yang agak tinggi, mereka mendaki hingga keatas. Ketika merlin menemukannya lalu ia memasukannya kedalam keranjang anyaman.
“ Istirahatlah dulu disini “ Jendral meminta Merlin duduk di bawah sebuah pohon.
Di Indahnya malam, bertabur bintang dan angin sejuk yang menerpa mereka.
Akhirnya mereka duduk disana.
Setelah beberapa lama berbincang santai, Merlin menatap Jendral.
“ Tuan, boleh kutanya sesuatu? Kalau ku perhatikan, tuan tidak pernah nyenyak ketika tidur, apa ada sesuatu yang mengganggu tuan?”
“ Yah, aku tidak pernah bisa tidur nyenyak, setiap kali aku tidur aku pasti memimpikan sesuatu yang buruk..aku selalu memimpikan… istriku, dia…api..akhhh..”
Jendral menundukan kepalanya dan meraup rambutnya dengan keras.
" Lupakanlah.." mata pria itu menerawang.
" Bisakah kau ceritakan padaku apa yang terjadi tuan?, barangkali itu bisa mengurangi bebanmu?, Aku tau pasti ada sesuatu yang sangat menyakitkan yang kau alami.." wajah polos Merlin yang meminta membuat Jendral tidak bisa menyembunyikan kegalauannya lagi.
Kemudian Jendral menceritakan semua kisah pahitnya yang terjadi di kerajaan Noregon dan apa yang dilakukan Raja Rowen Bosten. Jendral menceritakan dengan mata berkaca dan suara yang bergetar.
Seolah semua sudah ia tumpahkan, Jendral mengeluarkan butiran air mata.
“ Maaf,…dulu aku seorang Jendral, tapi aku menangis di depan wanita…aku..maaf” Jendral menundukan lagi kepalanya lalu mengusap air matanya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya yang ia himpitkan ke matanya yang berair, seolah tenggelam dalam penyesalan.
“ Tuan, apa ada larangan pria menangis? …menangislah jika itu bisa membuatmu lega..tumpahkan saja apa yang mengganjal di pikiranmu selama ini “ Merlin mencoba menenangkan Jendral.
“ Tapi perlu kau tau tuan, jika kau menyesali yang sudah berlalu, sampai kapanpun kau tidak akan pernah melangkah kedepan. Takdir itu memang harus di telan, sepahit apapun itu, aku dan andapun suatu hari akan mati, begitu juga istri anda, memang waktunya saja yang mendului anda tuan.
Anda kehilangan satu orang yang anda cintai, dan kesedihan anda sampai hari ini belum sirna, tapi aku kehilangan seluruh keluarga bahkan klanku, juga kakek yang aku sayangi, tapi di kesedihanku bukan berati harus kubawa seumur hidupku bukan?“
Jendral menoleh kearah Merlin. ‘ Benar juga yang dikatakan Merlin, ia kehilangan seluruh keluarganya, tapi saat ini masih bisa tersenyum’. batin Jendral di lubuk hatinya.
Merlin mengeluarkan sebuah roti isi yang ia keluarkan dari tas anyaman kecil di pinggangnya, kemudian tanpa sepengetahuan Jendral, ia selipkan sedikit jamur tidur yang tadi ia dapatkan kedalam roti.
“ Makanlah Jendral, aku sengaja membawa untuk dimakan disaat istirahat, aku membawa dua..” Merlin memberikan roti isi tadi ke Jendral.
Mereka memakan roti tadi. Tak berselang lama, Jendral terlihat pusing, lemah, lalu ia tertidur di pangkuan Merlin.
Malampun menebar makin pekat…
...**********...