
Gadis muda dengan rambut pirang mengkilat, yang meringkal cantik bergelombang, dengan tubuh sintal dan pakaian yang agak terbuka, tengah berada di dalam kamar Jendral, entah sejak kapan ia berada disana.
“ Putri Eisyel ?!, sedang apa kau?!, apa-apaan ini, kenapa kau ada di kamarku?!“ mata Jendral membelalak dan pria itu mundur menjauh dari putri Eisyel.
“ Aku sudah lama mendambakanmu LORD, aku sangat ingin berdekatan denganmu“ putri itu melangkah mendekati Jendral kembali.
“ Tidak tidak..,keluarlah cepat! “ hardik Jendral.
“ Tolong biarkan aku memelukmu sebentar saja LORD “ putri Eisyel tiba-tiba memeluk tubuh Jendral dari depan, tetapi Jendral dengan cepat melepaskan paksa pelukan gadis pirang itu.
“ Bagaimana bisa putri kerajaan memiliki kelakuan sepertimu! Pergilah sekarang! Atau ku panggil ayahmu! “ Jendral mulai tidak sabar.
“ Ya ya, Baiklah, andai aku bisa lebih lama disini “ ujar gadis itu kemudian meraih mantel bulu di dekatnya dan membalut tubuhnya dengan mantel tersebut, kemudian melangkah menuju pintu.
“ Aku tidak akan menyerah sampai disini LORD…” ujar putri Raja itu sambil keluar dan menutup pintu.
Jendral yang masih terkejut dengan kelakuan putri tamunya itu, ia lemas dan duduk mendarat di ranjang besar, keningnya berkeringat, ia mengusap perlahan wajahnya dengan kedua telapak tangan, tak mengira sama sekali akan berhadapan dengan gadis seperti itu.
Jendral akhirnya tertidur dengan masih mengenakan sabuk dan celana panjang kulit lengkap dengan tali pengikat di pinggangnya yang belum di buka.
“ Tuan,.tuan..” suara lembut Merlin membangunkan suaminya.
Jendral bangun dengan kaget, ia terkejut dan berkeringat.
“ Tuan, apa kau baik-baik saja?! “ tanya Merlin mengerutkan kening terlihat khawatir.
“ huuh..,yah, aku tidak apa “ Jendral menghembuskan nafas panjang dan kembali tenang.
“ Kenapa kau belum membuka sabukmu? “ tanya Merlin.
“ Ah, aku terlalu lelah..” jawab Jendral. Ia tak tega memberitahu Merlin yang tadi terjadi dengannya dan putri Eisyel.
“ Maafkan aku tuan, aku terlalu lama bercerita dengan Ratu Harlbin. Ratu sangat baik, dia menyenangkan. Oya tuan, apa kau tahu, kata Ratu putri Eisyel ternyata sangat menyukai pria sepertimu…sebelum kesini putri Eisyel sempat bilang pada ayahnya jika ia ingin menikah denganmu tetapi Raja sangat marah dan menjelaskan bahwa kunjungannya kesini bukan untuk itu, tetapi urusan kerajaan “
Ucapan Merlin membuat Jendral sesak dan sedikit terkejut, tetapi ia berusaha tenang di depan istrinya.
“ Apa-apaan putri itu ingin merebut suamiku. Hati-hati tuan, bisa-bisa putri itu menggodamu, lalu kau jatuh dalam pelukannya..” ujar Merlin sambil menyentuh ujung hidung suaminya dengan jari telunjuk.
“ Aku tidak akan tergoda dengan gadis seperti itu “ tanggap Jendral acuh.
“ Benarkah?…” goda Merlin.
“ Sudahlah!, hentikanlah Merlin..”suara Jendral mulai meninggi.
Sadar akan keseriusan suaminya, Merlin menyudahi godaannya.
“ Yah, aku percaya padamu..” ucap Merlin.
Pagi yang sejuk, masih di Kastil Timur. Jendral dan Merlin sudah bangun dan keluar dari kamarnya pagi-pagi sekali. Mereka memantau menu sarapan di meja ruang makan yang mewah.
“ Semua sudah terhidang yang mulia Ratu “ ujar salah satu kepala pelayan.
“ Bagus, kalian boleh bersiap menanti tamu kerajaan itu bangun “ ujar Merlin.
Satu persatu tamu kerajaan bangun dan keluar dari kamarnya. Mereka membersihkan diri, kemudian bergabung dengan Merlin di ruang makan utama.
“ Bagaimana tidur kalian? “ tanya Merlin pada Raja dan Ratu Harlbin .
“ Tidur kami sangat nyenyak Ratu, terimakasih atas jamuan kalian “ ujar Ratu Harlbin.
“ Mereka masih dikamar, sebentar lagi akan kesini “ Ratu Harlbin menjelaskan.
“ Lalu dimana LORD berada Ratu Merlin ? “ tanya Raja pada Merlin.
“ Dia sedang menemui para petinggi kerajaan, sebentar lagi akan bergabung besama kita. Kalau begitu sambil menunggu mereka mari silahkan dinikmati teh melati terlebih dahulu “ Merlin mengisyaratkan para pelayan untuk menuangkan teh melati ke cangkir cangkir mungil indah dari ceret perak yang berada di hadapan Merlin dan tamunya.
Di ruangan yang berbeda, setelah Jendral selesai menemui para petinggi kerajaan, ia masih menuliskan sesuatu di meja di dalam ruang tulis atau ruang kerja.
Jendral dengan kepala tertunduk serius membubuhkan tinta ke dalam penanya, kemudian menuliskan sesuatu di atas lembaran kertas coklat.
Pintu ruangan yang perlahan terbuka sedikit tidak disadari oleh Jendral, karena ia sibuk menulis.
Tiba-tiba gerakannya terhenti mendadak, ia seolah menangkap ada sesuatu di depannya, kemudian pria itu mengangkat wajahnya, ia tersentak, mata Jendral membulat dengan alis yang mengerut, ketika pandanganya mengarah pada sesosok gadis muda yang sudah berada di depannya.
Lagi-lagi putri Eisyel datang dan mencoba manggoda Jendral.
Jendral lagi-lagi terkejut dengan kehadiran putri Raja tersebut yang selalu tiba-tiba ada di dekatnya.
“ Apa kau sedang sibuk LORD? “ gadis berambut pirang meringkal itu dengan gaya manja dan menggoda menutup pintu ruangan.
“ Apa yang kau lakukan di ruanganku? Kenapa kau tak mengetuk pintu terlebih dahulu?“ tanya Jendral mulai geram dengan kelakuan putri Raja tersebut.
“ Aku hanya ingin menyapamu LORD, dan aku ingin mengenalmu lebih dekat, apa kau tidak tertarik dengan gadis muda sepertiku? “ putri itu terus melangkah maju mendekati meja tulis Jendral.
“ Aku sudah memiliki istri yang cantik, maaf aku tidak tertarik padamu, sebaiknya kau cepat keluar! “ Jendral mulai berdiri dari duduknya sambil merapihkan alat tulisnya.
Jendral baru akan berjalan menuju pintu ingin meninggalkan ruangannya, tetapi putri Eisyel cepat-cepat melangkah mendekati pria itu.
“ Ayolah LORD, apa aku tidak boleh berkenalan denganmu? “ putri Eisyel mendekati Jendral dan menghalanginya keluar ruangan. Gadis itu berada tepat di depan Jendral, kedua telapak tangannya di letakkan di dada Jendral.
Jendral sedikit menunduk melihat kearah putri Eisyel, dan menyingkirkan tangan gadis itu dari tubuhnya.
“ Kau terlalu berani padaku, aku bisa saja mengadukan hal ini pada ayahmu, dan kau akan dijatuhi hukuman “ ancam Jendral yang kemudian berlalu melewati gadis itu dan melangkah ke arah pintu.
Tetapi dengan cepat putri itu menggenggam lengan Jendral dengan erat, kemudian dengan segera ia memeluk tubuh Jendral dengan dekapan yang erat pula, sehingga pipi gadis itu menempel di dada Jendral.
“ Jangan buru-buru meninggalkan aku LORD, kumohon..” ujarnya.
“ Hey!, apa-apaan ini?! “ seru Jendral seolah risih.
Jendral mengerutkan keningnya dan berusaha melepaskan dekapan gadis itu, dan tiba-tiba..
Tok..tok..tok..,
“ Tuan, apa anda di dalam? Anda di tunggu nyonya Merlin dan para tamu “
Suara Razel dari balik pintu membuat keduanya yang berada di ruangan itu menoleh kearah pintu.
“ Masuklah Razel! “ ucap Jendral agak keras sambil melepaskan paksa pelukan putri Eisyel.
Razel memasuki ruangan itu dan matanya yang indah membulat seketika melihat kehadiran putri Eisyel di ruangan tersebut bersama Jendral.
Tetapi belum lagi Razel berkata apa-apa, Jendral melangkah menuju pintu, dan ketika ia berada tepat disamping Razel, pria itu membisikkan sesuatu.
“ Singkirkan gadis gila itu dari ruanganku “ bisiknya pada pelayan setianya itu.