
Hampir dua pekan perjalanan laut menuju Benua Hitam. Mereka tiba di dermaga.
Setelah hampir seharian mencari tempat penambang intan serta pengrajinnya, akhirnya mereka menemukannya. Tetapi sayangnya di penambangan hanya bisa menerima dua orang, jadi mau tidak mau satu orang harus mencari pekerjaan lain.
Akhirnya di putuskanlah Dumor dan Lizo yang bekerja sekaligus mencari ilmu tentang penambangan intan dan pengolahannya, sedangkan jendral Luzen harus mencari pekerjaan lagi.
Di tengah ke galauan jendral, seorang buruh tambang memberikan informasi bahwa di penjara budak di Istana Gozan Timur barangkali membutuhkan tenaga tambahan untuk penjaga penjara sementara.
Akhirnya tak butuh waktu lama, jendral berpamitan ke Dumor dan Lizo, dan mereka bersepakat dua pekan sekali mengadakan pertemuan di dermaga untuk mengumpulkan informasi.
Di Istana Gozan Timur, beruntung Jendral mendapat kesempatan bekerja sebagai penjaga penjara budak di bawah tanah. Jendral di antar oleh pengawal istana untuk pergi kepenjara bawah tanah.
Jendral dan pengawal istana membuka sebuah pintu besi dan menuruni tangga, yang semakin lama semakin gelap. Sementara di bawah terdapat lorong yang hanya di terangi oleh cahaya obor di sisi kanan dan kiri dinding.
Jendral berjalan di belakang pengawal, ia melangkah perlahan sambil mengamati ruang bawah tanah itu, akhirnya jendral mendengar samar-samar suara gaduh di depan mereka, ya.. itulah yang akan mereka tuju, penjara para budak.
“ Aku hanya mengantar sampai sini, selebihnya kerjakan apa yang sudah ku perintahkan “ pengawal lalu kembali keatas dengan lentera di tangannya, sementara jendral menyusuri penjara yang kelam dengan tahanan budak berwajah garang dan menakutkan di balik jeruji besi.
Jendral di tugaskan mengantarkan makanan ke seluruh tahanan budak, juga mengontrol ketertiban disana, karena seringnya ada perkelahian atau ke gaduhan.
Jendral keluar sebentar mengambil makanan untuk diantarkan ke tiap sel. Jendral membawa sebuah wadah besar tempat makanan untuk para tahanan, juga wadah piring untuk makan. Jendral harus memberi satu persatu tahanan di salam sel.
Yah memang itu yang harus ia lakukan, entah kenapa para tahanan budak tidak di perbolehkan untuk keluar dari selnya dan mengantri mengambil makannya sendiri, bukankah itu sedikit lebih ringan, itulah yang ada di benak Jendral.
Jendral mulai memberi makanan yang sudah ia siapkan di wadah, dia memberi juga sendok dan garpu kepada setiap tahanan. Jendral sekaligus mengamati para tahanan yang ada di dalam sel.
Di tengah jeruji sel ada lubang yang hanya cukup untuk mengambil wadah makanan. Setiap Jendral memberi makanan maka tangan tahanan harus keluar melalui lubang tersebut.
“ Hoho.., siapa ini…penjaga baru rupanya..” salah satu tahanan berbadan besar memandang kearah Jendral.
“ Hey, liat tampangnya…dia nampak ganteng tapi bodoh, jangan-jangan dia salah satu simpanan si Ratu nenek sihir itu.. ha..ha..ha..” tahanan yang lain menimpali, kemudian tawa menggelar di area penjara itu, seolah ada ‘mainan’ baru, mereka para tahanan membuli Jendral dengan ledekan. Jendral tidak menggubrisnya, dia hanya diam dan melaksanakan tugasnya.
Tiga hari berlalu. Sama seperti biasanya, Jendral mengambil wadah berisi makanan dan mengantarkannya ke tiap sel di penjara bawah tanah. Tiba-tiba…
“ Hey, apa kau bisu penjaga bodoh?!” seorang tahanan berbadan tegap, kepalanya botak meraih tangan Jendral dan menggenggamnya dengan erat melalui celah tengah jeruji ketika Jendral hendak memberinya wadah makanan. Mata Jendral langsung menatap tajam ke pria berkepala botak tadi. Diambilnya garpu lalu di tancapkan dengan kuat ke tangan pria botak. Sontak pria itu mengerang kesakitan.
“ Penjaga brengsek!!, akan kubunuh kau!!” teriak pria botak kesakitan bercampur cacian, sambil memegang tangannya yang mengucurkan darah.
“ Aku tidak bisu dan jangan panggil aku dengan sebutan bodoh, dasar botak sialan!”
Jendral dengan suaranya yang menyeramkan, menarik kepala pria tadi kearah jeruji.
Wajah pria botak itu menempel di jeruji besi karena di tarik oleh Jendral. Dengan susah payah, ia mengatakan “ Iyaa..sudah, lepas, maaf..maafkan aku..” Akhirnya Jendral melepaskan cengkramannya.
“ Jatah makanmu sudah jatuh, nanti siang baru kau bisa makan lagi ”
“ Hey, bukannya kau yang melempar tadi? ” pria botak tadi sedikit protes sambil menahan linu di tangannya.
Jendral tidak menghiraukannya, dia langsung melangkah ke sel sebelahnya.
Suasana di sel tampak berubah, yang tadinya mereka selalu gaduh dengan kedatangan Jendral, sekarang tampak suram, entah ketakutan atau segan berurusan dengan penjaga barunya.
Esoknya, Jendral kembali bekerja seperti biasa. Ketika tiba di sel pria botak tadi, dia memberikan obat kepadanya tanpa berkata-kata. Tahanan itu melihat obat yang diberi Jendral, dan tersenyum kecil.
“ Hey, penjaga…kami sudah bosan di dalam penjara besi ini, buatlah kami terhibur..” pria botak kemarin berujar kepada Jendral.
Tapi Jendal tetap saja diam sambil menjalani tugasnya.
“ Ayo bertarung!!!…” salah satu tahanan berteriak semangat, kemudian seluruh sel ikut bersorak, seolah menginginkan hiburan berupa pertarungan.
BER-TA-RUNG!!..BER-TA-RUNG!!…BER-TA-RUNG!!…
Semua tahanan dengan serempak meneriakannya, membuat Jendral terganggu.
DIAM!!!
Suara menggelegar Jendral, sontak membuat semua terdiam, hening…
“ Siapa yang mau bertarung?!” Jendral seolah menantang. Ia meletakan makanan yang di pegangnya, lalu melepaskan bajunya, bertelanjang dada.
Suasana yang tadinya hening berubah ricuh dan gaduh kembali, seolah ada hiburan baru untuk mereka. Para tahanan bersorak soray untuk keputusan penjaga mereka yang seolah menyetujui ‘ hiburan’ di dalam sel itu.