Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 70 - HADIAH YANG MENABJUBKAN


Spontan seluruh penduduk yang berdiri disana ikut bergembira dan bersorak.


Jendral dan kawan-kawannya justru bingung dengan apa yang mereka maksud.


Belum selesai kebingungan Jendral, ia di papah berdiri dan di persilahkan menaiki sebuah meja kayu kecil.


“ Hey, tunggu! ..apa ini? “ tanya Jendral penuh keheranan.


“ Kau adalah Mohywe, Penguasa paling tinggi di daratan benua ini. Kau adalah Raja yang mengalahkan Raja-Raja di tanah ini. Mohywe tidak muncul selama bertahun-tahun…kami telah menunggumu…wahai Mohywe yang agung..”


“ Tidak, tidak..seharusnya tidak perlu seperti ini..” penolakan Jendral seolah tidak digubris.


Karena dipaksa menaiki meja kayu di depannya, maka Jendral mau tidak mau naik diatasnya dengan kebingungan yang belum sirna.


Sontak seluruh penduduk Abyee berlutut dengan rapih dan wajah menghadap kebawah.


Orang tua tadi berada paling depan dengan berlutut dan wajah juga menghadap kebawah.


“ SELAMAT DATANG WAHAI MOHYWE YANG AGUNG! “


Kata-kata orang tua itu di ikuti semua penduduk yang juga berlutut dengan serempak.


“ Aah yah.., aku rasa ini terlalu berlebihan..” Jendral ingin turun dari meja kayu kecil tempatnya berdiri, tapi orang tua tadi mencegahnya.


“ Wahai Mohywe..tolong biarkan kami memberi penghormatan “ orang tua itu menyuruh Jendral kembali berdiri di atas meja.


“ Ahh..ya sudah sudah..baiklah, penghormatan kalian sudah diterima..bolehkah aku duduk kembali? “ sahut Jendral yang seolah tidak nyaman dengan hal seperti itu.


Akhirnya Jendral dipersilahkan duduk dengan di berikan alas dari bulu beruang.


“ Maafkan kami tuan yang agung, kami tidak tahu kalau kau adalah Mohywe“ perlakuan orang tua itu kini berubah, dan sangat menghormati Jendral.


“ Kau tidak perlu seperti ini pak tua “ gumam Jendral.


“ Tuan yang agung, maukah kalian menginap ditempat kami? Untuk semalam saja itu sudah sebuah kehormatan untuk kami “ ujar pak tua.


Jendral menoleh pada teman-temannya, mereka seolah menyetujui untuk bermalam di tempat itu.


“ Baiklah. Tapi besok kami akan menuju suku Raw , jadi mungkin kami akan berangkat pagi dari sini “ sahut Jendral.


“ Kalau tidak keberatan, anakku bisa menemani tuan ke sana, karena mereka juga agak sulit menerima orang luar “ sahut pak tua.


“ Yah, baiklah “ jawab Jendral.


Tak lama berselang seseorang membisikkan sesuatu kepada pak tua di hadapan Jendral.


“ Oya tuan Mohywe yang agung, ini adalah Daby anakku “ orang tua itu memperkenalkan anak laki-lakinya kepada Jendral, Daby tersenyum dan agak menunduk memberi hormat, Jendral membalas tersenyum ramah melihat laki-laki tersebut.


“ Tuan Mohywe , anda sudah menyempatkan waktu untuk mengunjungi kami, juga ditambah pemberian hadiah yang banyak dan mewah. Kami ingin membalas pemberian itu, tetapi karena kami miskin, kami tidak memiliki apa-apa untuk diberikan, dan kami sangat ingin memberikan sesuatu yang berharga untuk tuan. Satu-satunya harta kami yang paling berharga yang kami miliki adalah Wyen, maka kami akan memberi Wyen kepada tuan sebagai hadiah.” sahut orang tua tersebut.


“ Dia adalah seekor hewan yang gagah, selama berpuluh tahun tidak ada yang berhasil menjinakkannya, dan menurut kepercayaan kami yang mampu menjinakkan Wyen adalah seorang Mohywe”


Jendral dan teman-temannya saling melempar pandang.


“ Baiklah tuan, mari ikut aku..akan kuantar kalian ke tempat Wyen, Daby kau siapkan obor “ orang tua itu berdiri dan mengajak Jendral beserta rombongannya ke suatu tempat di luar lumbung.


Akhirnya mereka berjalan menyusuri kedalam hutan, kemudian menuju ke sebuah gua .


“ Luzen, kira-kira si Wyen itu hewan semacam anjing liar atau kuda? “ bisik Gardden pada Jendral.


“ Kalau kuda atau anjing mereka pasti mudah ditaklukkan. Aku berfikir dia semacam harimau atau hewan buas” jawab Jendral juga sedikit berbisik pada Gardeen.


“ Ah iya betul juga..” gumam Gardden.


Sesampainya mereka di mulut gua, Jendral dipersilahkan memasuki gua yang gelap. Daby menyalakan obor sebagai penerang. Mereka mulai memasuki dalam gua dengan hati-hati.


Langkah mereka terhenti ketika pak tua melihat sebuah buntut makhluk hitam yang sangat besar dan bersisik dihadapannya.


Kepala suku itu menoleh kebelakang kemudian berkata pelan kepada Jendral.


“ Ini dia Wyen,..ssstt..dia sedang beristirahat..” gumamnya sambil memegang obor dan menunjuk mahkluk besar yang hanya terlihat bagian ekornya.


Jendral dan rombongan yang melihat dengan dahi berkerut dan mata yang sama-sama memincing, makhluk apa gerangan yang ada didepan mereka.


“ Makhluk apa in-”.. belum sempat Jendral meneruskan kalimatnya, tiba-tiba makhluk tersebut bangun dari tidurnya, dan semakin ia bangkit maka terlihat semakin besar..dan besar…


Akhirnya terlihat matanya yang tersorot cahaya obor, merah dan besar dengan garis hitam ditengahnya, dia menatap semua yang berada disana.


samar-samar wajah makhluk itu menjadi jelas, besar dengan dua lubang hidung yang mengdengus.


Sebuah rantai besar membelenggu leher makhluk tersebut, sehingga ia tidak dapat melarikan diri keluar dari gua.


Ketika makhluk itu mulai berdiri, terbentang dua buah sayap besar hampir memenuhi sisi ruangan gua.


“ I-..itu..seekor Naga! ..” teriakkan salah seorang rombongan Jendral membuat makhluk tadi semakin bangkit sempurna dan mengerang sangat kencang.


Mereka semua menutup kedua telinga dengan kedua tangan, karena kerasnya suara dari makhluk yang ternyata seekor naga tersebut.


Naga itu seolah marah dan akan menarik nafas.


“ Lari!!..semua keluar gua! “


Daby memerintahkan semua untuk keluar gua. Serentak semua yang ada di dalam gua keluar dengan kecepatan tinggi, sampai-sampai ada yang terjatuh dan mereka lari sejauh mungkin dari makhluk tersebut.


“ Ayo cepat! Dia akan menyemburkan api! “ teriak Daby kembali ketika ia sudah di mulut gua dan melihat ada yang masih berada di dalam sedang berlari.