Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 23 - Pasukan Zeron


Sementara di kerajaan Hazmut,


Pangeran terus saja mengamuk semenjak Merlin di pulangkan. Ia menghancurkan benda-benda yang ada di kamar.


Tidak ada yang berani menghadapi kemarahannya kecuali Ayah dan Ibunya.


Raja dan Ratu mendatangi kamar anaknya, pangeran Zaimon. Mereka berusaha menghibur, dan merencanakan diadakannya sebuah pesta untuk mengumpulkan para wanita dari kalangan bangsawan juga para putri kerajaan.


“ Zaimon, kau bisa memilih wanita tercantik yang kau suka di pesta nanti, mereka akan sangat layak untuk menjadi istrimu kelak” Ratu mencoba meluluhkan hati pangeran. Tapi sepertinya itu tidak mudah.


“ Sebenarnya kalianlah yang salah. Kenapa wanita itu dikirim kepadaku..dan di saat aku sudah jatuh cinta padanya, kalian malah mengambilnya dariku” pangeran yang duduk di bibir ranjang menundukan kepala dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


“ Kami mengirim wanita itu untuk menyembuhkanmu, bukan untuk kau cintai! Dasar anak bodoh!. Lagipula kau berhadapan dengan orang yang salah, apa kau tidak mengenal Jendral Luzen, kalaupun kau kerahkan seluruh pasukan kerajaan belum tentu bisa mengalahkan pasukan yang dipimpin Jendral itu!” Raja Ell ayahnya mengibaskan jubahnya lalu melangkah kearah jendela.


“ Aku tidak mengenal Jendral sialan itu”


“ Jaga mulutmu!!, pantas saja kau tidak kenal, kau cuma anak ingusan yang egois, kekuatanmu tidak ada seujung kukupun dibanding dengannya” Raja Ell berbicara tanpa memandang ke arah anaknya. pangeran melirik sinis kearah ayahnya.


“ Diluar sana banyak gadis yang jauh lebih cantik dengan derajat tinggi, kenapa kau malah memilih rakyat biasa. Apa kau lupa kalau kau ini pangeran, calon Raja.


Lagipula gadis itu adalah milik Jendral Luzen, jangan mimpi untuk mendapatkannya” Raja Ell mendekap tangannya di dada, masih di depan jendela.


“ Aku tidak perduli dengan wanita manapun, aku hanya ingin Merlin..” pengeran beranjak dari ranjangnya dan keluar kamar dengan cepat.


Raja dan Ratu hanya bisa saling pandang dengan kelakuan anaknya.


“ Dasar anak bodoh!” Raja hanya menggeleng.


********


Sepekan telah berlalu. Kabar tentang penyerangan dan keberhasilan Jendral sudah menjadi buah bibir di sekitar pusat kota, banyak para penduduk dari pusat kota yang datang melihat benteng kokoh itu.


Para penduduk juga ada yang meminta tinggal di dekat benteng dan masuk menjadi warga wilayah benteng Drake.


Akhirnya Jendral membangun rumah penduduk disekitaran benteng. Mereka yang tinggal di bawah garis kemiskinan banyak yang datang pindah ke wilayah Jendral.


Banyak penduduk yang senang tinggal disana, karena tidak harus membayar pajak, juga karena mereka mendapat pekerjaan.


Di sekitar benteng sudah terdapat peternakan, perkebunan dan hewan-hewan yang siap di jual.


Benteng Drake sudah mulai dikenal di wilayah kerajaan Hazmut, bahkan di luar kerajaan.


Di dalam Benteng,


“ Hoi…Ada yang datang!! “ Penjaga menara memberi tanda, ada seseorang menuju ke gerbang benteng.


“ Pakaian mereka….Jendral!!!, panggil Jendral!!, mereka adalah pasukan Zeron!!”


Semua pasukan di benteng bersiap dengan senjata mereka. Lalu Jendral mendekati gerbang benteng.


“ Berapa banyak mereka?” tanya Jendral kepada penjaga menara.


“ Sekitar dua puluh…tiga..lima puluh orang sepertinya “ penjaga menara melihat dengan teliti merapatkan jemarinya di depan keningnya.


“ Ada apa mereka kesini?” Gardden bertanya sendiri.


“Kita lihat saja apa mau mereka” jawab Jendral dengan pedang di pinggangnya.


Perwakilan dari pasukan Zeron berbicara pada Jendral. Ternyata mereka melarikan diri dari kerajaan Zeron. Mereka terlihat lelah dan kusut, walau pada dasarnya mereka terlihat sangar dan bar-bar.


Mereka menggunakan baju kulit berbulu, bulu beruang dan serigala adalah ciri khas mereka yang selalu dikenakan.


Di aula, mereka dipersilakan duduk dan menjelaskan maksud kedatangan ke benteng Drake.


Jendral mencoba mencerna kisah mereka yang kecewa dengan keputusan Raja Zeroix, karena membiarkan para pengkhianat berada di tengah mereka, yang akhirnya menyebabkan satu persatu pasukan terbaik Zeron saling bunuh karena adu domba.


“ Sebenarnya kami ingin berpetualang ke Benua Hitam, tapi di perjalanan kami lihat ada benteng yang berdiri disini, bukannya ini dulu adalah desa para Habirt yang telah di musnahkan?”


Merlin yang ada di belakang Jendral terlihat geram, tetapi Jendral telah memperingatkan Merlin sebelumnya untuk tetap tenang.


“ Apa kau tau tentang desa ini sebelumnya?..kami lihat desa ini kosong dan tak berpenghuni, jadi kami tinggal disini dan membangun benteng” Jelas Jendral.


“ Yah, dulu desa ini milik klan Harbirt, lalu Raja kami membantai seluruh penghuninya?”


“ Kenapa kalian membantai mereka?” tanya Jendral seolah belum tahu.


“ Sebenarnya Raja kami mencari sesuatu yang berharga di desa ini, entah apa itu..tapi sepertinya dia tak menemukan apapun, warga yang ditanya tidak mau menjawab dimana keberadaan sesuatu yang berharga itu, dan warga desa Harbirt tidak ingin desanya di ganggu, mereka melawan, akhirnya Raja menghabisi mereka semua”


Jendral dan kawan-kawan saling melempar pandangan, seolah mengerti apa yang sebenarnya dicari Raja Zeroix, yaitu harta karun yang mereka sudah temukan di bawah pohon besar.


Merlin yang dari tadi sudah terlihat geram, akhirnya bertanya dengan suara agak bergetar.


“ Aku mendengar isu bahwa kalian membantai desa ini karena klan Harbirt pembawa malapetaka dan memiliki darah keturunan iblis, apa itu benar?”


“ Itu hanya isu yang disebarkan Raja Zeroix nona…semua untuk menutupi kebusukan yang di lakukannya”


Tapi Merlin menyadari bahwa tidak sepenuhnya yang di isukan itu salah, karena Merlin sendiri merasa ada darah iblis dalam dirinya.


“ Apa kau tau tentang kerajaan Noregon? “ Jendral bertanya lagi.


“ Yah, kerajaan itu sekarang menjadi kerajaan sampah. Semenjak Jendral mereka hilang, mereka tidak lagi bisa berperang dan mereka seperti kehilangan pilarnya.


Kasihan Raja bodoh itu, pasukan dan rakyatnya banyak yang melakukan kudeta, sebagian lagi pergi meninggalkan kerajaan ".


“ Kemana mereka pergi? Apa kau tau?” Jendral langsung serius.


“ Em, aku kurang tau, tapi banyak juga yang mengatakan mereka memilih ke kerajaan Riguaria, atau tinggal di desa-desa pinggir hutan yang bukan lagi wilayah kerajaan Noregon”. pria tadi menjelaskan.


“ Hmm, baiklah..” Jendral seperti memikirkan suatu rencana.


“ Apa yang kau tahu tentang Jendral kerajaan Nerogon yang hilang?” tanya Jendral ke pria berbadan besar itu.


“ Yang kutahu dia adalah Jendral hebat seperti yang semua juga tau, tapi semenjak kepemimpinan berganti maka Jendral itu hilang begitu saja, entah dibuang atau dibunuh..aku juga kurang tau. Yang jelas Nerogon salah telah membuang Jendral sehebat itu" Jawab pria itu.


“ Jendral yang kau bilang hilang sedang berada dihadapanmu” Jendral mengabari para pasukan Zeron.


Mereka para pria dari Zeron, semua tercengang, kaget dan tidak percaya bahwa yang di hadapannya adalah Jendral besar yang tersohor.


“ Luzen, apa tidak masalah memberitahu mereka siapa dirimu sebenarnya?” Gardden berbisik pada Jendral.


“ Tidak masalah Gard, aku ingin semua mengenalku dengan baik. Bahkan aku sudah memikirkan agar si pengecut Rowen tahu bahwa aku masih hidup” suara lantang Jendral mengejutkan semua yang ada di ruangan itu.


Akhirnya pasukan Zeron yang sudah keluar dari kerajaannya meminta izin untuk tinggal di benteng bersama Jendral.


Setelah Jendral berembuk dengan semua anggotanya akhirnya mereka menerima pasukan pecahan Zeron untuk ikut tinggal di dalam benteng dengan syarat-syarat tertentu yang diberikan Jendral sebagai peraturan benteng.


Merlin yang sepertinya tidak setuju, memegang ujung jubah Jendral, ia terlihat takut sekaligus geram.


“ Apa kita harus membiarkan mereka disini? “ tanya Merlin perlahan di tempat agak jauh dari pasukan Zeron.


“ Merlin, kita memerlukan banyak pasukan. Pasukan Zeron salah satu yang terkuat, kita hanya perlu menekankan kepada mereka untuk tidak berkhianat dan berbuat macam-macam di benteng ini” Jendral menjelaskan dengan suara rendah kepada Merlin sambil memegang kedua pundak gadis itu.


“ Tenang saja nona.., kami disini sama kuatnya dengan mereka, jika mereka macam-macam, kami bisa langsung penggal kepala Zeron itu” Dude yang berada di samping Merlin memainkan belatinya. Merlin hanya tersenyum terselip keraguan.


Malam yang redup, sayup-sayup terdengar lolongan srigala dan suara binatang malam.


Di depan pintu kamar Merlin, sesosok bayangan mengendap-endap berusaha membuka pintu kamar Merlin dengan perlahan. Belum sempat sosok itu membuka pintu, tiba-tiba di lehernya sudah menempel beberapa bilah pedang yang siap menebasnya, ia tak berkutik..diam mematung di posisinya.