Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAb 95 - PERTARUNGAN MELAWAN RAJA PENYIHIR


Pria pemandu buru-buru menjauh darinya.


“ Aku sudah menunggumu! “ Suaranya yang menyeramkan membuka percakapan.


“ Kau sudah tahu maksud kedatanganku bukan?!, kalau begitu serahkan istriku! “ujar Jendral yang sudah menggenggam ujung pegangan pedangnya.


“ Sudah lima tahun aku mencari keberadaan Ratu Demon Eldr, dan setelah kutemukan dia, kau seenaknya memintanya kembali “ ujar pria besar itu.


“ Cih!, dasar bajingan bodoh!, yang kau bawa adalah istriku!, itu sama saja kau mencari kehancuran untukmu dan pengikutmu! “


Seluruh pasukan di belakang Jendral mengeluarkan pedangnya. Para penyihir putih bersiap di belakang pasukan utama.


“ Serahkan Merlin sekarang! atau aku tidak akan basa-basi lagi dengan manusia sepertimu!”


“ Kau serangga kecil, datang hanya untuk menggangguku! Rasakan akibatnya! “ tukas pria berbadan besar.


“ PENYIHIR!!” perintah pria itu dengan tangan menunjuk kearah Jendral dan pasukan.


Para penyihir berpakaian hitam itu melangkah maju dan mulai merapal kan mantra, tetapi penyihir putih tidak kalah sigap dengan mereka. Akhirnya pertempuran antar penyihir terjadi di desa tersebut.


Jendral dan pasukannya maju menyerang pria tadi, tetapi mereka terhalang oleh aray sihir penghalang.


Denzu dan pasukannya yang telah siap bersembunyi di tempat yang tinggi melesatkan anak panah yang telah di bubuhi bubuk sihir, sehingga aray penghalang bisa dengan cepat di pecahkan.


Jendral dan seratus pasukannya menyerang kearah pasukan pulau Deiru. Raja mereka yang berbadan besar sulit untuk di lumpuhkan karena terlindung juga oleh sihir.


Akhirnya mereka mengatasi para pasukan musuh terlebih dahulu. Jendral memerintahkan ke prajurit pemanah untuk melesatkan anak panah yang telah di ikat kain merah di ujungnya ke arah atas agar pasukan Hazmut datang bergabung .


Dari arah hutan, lima ratus pasukan Hazmut datang bergabung dengan pasukan Jendral. Mereka di hujani panah dari atas rumah-rumah pohon, tetapi para pasukan telah bersiap dengan perlindungan tameng besi mereka.


“ PEMANAH! “ suara teriakkan memacu berhamburannya ratusan anak panah kearah rumah-rumah pohon tempat persembunyian sebagian pasukan Deiru.


Jendral menuju Raja berbadan besar. Jendral dengan gagahnya melawan pria besar itu dengan pedang besinya.


Beberapa sabetan pedang seolah tidak mempan mengenai kulit Raja tersebut, tetapi Jendral tidak berhenti dan terus menyerangnya.


Raja penyihir menggunakan pedang dengan bilah yang besar untuk menghalau serangan Jendral, tetapi dengan kelihaian bepedang Jendral, pria itu mampu menangkis dan menyerang tubuh si Raja.


Lama kelamaan, tubuh Raja itu tergores dan mengeluarkan darah.


“ Ah, bagaimana bisa kau menembus penghalangku “ ujar Raja penyihir.


“ Tidak perlu banyak bicara, dasar bajingan! “ ujar Jendral yang terus menghantamkan pedangnya kearah Raja tersebut.


Jendral mencari keberadaan Gardden yang ia telah tugaskan untuk mencari Merlin, tetapi Gardden tidak terlihat oleh Jendral.


Sambil menghalau serangan dari Raja penyihir, Jendral mencoba ingin memerintahkan seseorang untuk mencari Merlin, sehingga tidak fokus dengan pertarungannya.


Raja penyihir menarik nafas dalam-dalam, dan dengan kekuatan yang seolah berkumpul di dalam tubuhnya, ia berhasil menghempaskan Jendral dengan satu pukulannya hingga Jendral terpental agak jauh.


Jendral mengalami luka di bagian dadanya dan dari mulutnya keluar darah segar.


Ia menyeka darah yang keluar dengan lengannya dan bangkit kemudian kembali menyerang Raja tadi tanpa menyerah.


Tak lama berselang, Raja Zaimon membantu Jendral untuk mengalahkan Raja pulau Deiru. Tetapi Raja Zaimon terlalu lemah untuk berhadapan dengan Raja musuh yang berbadan besar dan masih memiliki kekuatan sihir.


“ Tuan Luzen, kau carilah Merlin, biar aku yang melawannya! “ ujar Raja Zaimon di sela-sela pertarungannya.


“ Arrrggh!!, belum lagi Raja Zaimon beraksi, ia dihantam oleh pukulan keras dari Raja pulau Deiru, hingga terpental ke tanah.


Jendral menghalaunya, ia terus menyerang Raja besar itu.


Raja penyihir itu berteriak dan mengeluarkan semacam gelombang sihir dari tubuhnya dan telapak tangannya, kemudian menyerang Jendral hanya dengan hempasan tangannya pria besar itu mengeluarkan energi yang seperti angin besar dan kuat kearah Jendral, Jendral melindungi kepalanya dengan lengan dari semburan gelombang yang mengenainya.


“ Raja Zaimon, kau tidak akan mampu menghadapinya!, dimana Gardden?! “ tanya Jendral sambil menghalau serangan Raja penyihir.


“ Dia sedang mengalahkan pasukan bayangan yang menjaga rumah pohon! “ ujar Raja Zaimon.


“ Akh sial!, Kau carilah istriku!, aku akan menghadapinya “ ucap Jendral kepada Raja Zaimon.


“ Tapi LORD..” sanggah Raja Zaimon.


“ Hey! Apa kalian mengabaikanku?! “ ujar Raja penyihir yanng melihat mereka membicarakan sesuatu.


“ Akkhh!! “ teriak Jendral yang mendapat serangan lagi.


“ Cepatlah! “ teriak Jendral yang terhempas ketanah setelah mendapat serangan dari Raja jahat itu yang juga menggunakan sihir.


Akhirnya Raja Zaimon mengabulkan perintah Jendral, ia bangkit dan berlari menuju rumah pohon besar.


Tetapi mata Raja penyihir menangkap pergerakan Raja Zaimon, kemudian mencoba mengejar Raja Zaimon, tetapi Jendral dengan sigap menghalanginya.


Dengan keras Jendral menghantamkan pedangnya kearah Raja pulau Deiru tersebut, tetapi kali ini pedang Jendral beradu dengan pedang besar milik Raja tersebut, dan Raja Zaimon berhasil berlari kearah rumah pohon.