
“ Ayolah tabib..ini perintahku! “ pangeran agak membentak, membuat Merlin tambah ketakutan dan terlihat pucat.
Dengan perlahan dan ragu Merlin mendekatkan kupingnya ke dada pangeran, dan yang ditakutkan Merlin benar terjadi…
Pangeran memeluknya erat, hingga Merlin sulit melepaskan. Pangeran tampak tertawa ringan, seolah itu adalah permainan, tapi untuk Merlin itu adalah hal yang menakutkan.
“ Arg, lepaskan aku...” Merlin berusaha melepaskan jeratan tangan pangeran di tubuhnya, tetapi lelaki itu terlalu kuat.
Akhirnya pangeran melepaskan Merlin dan ia tertawa puas.
Merlin justru mengerutkan kening dan terlihat sangat marah. Ia bangkit dari ranjang mewah itu ingin melangkah keluar kamar, tapi pangeran dengan cepat berdiri dan lagi-lagi menangkap Merlin.
“ Tunggu!!” pangeran meraih pundak merlin dan memegang lengan atasnya.
Merlin berbalik karena ditarik oleh pangeran, dan kini Merlin berdiri tepat di depan pangeran yang gagah dan tampan, sekaligus menyebalkan itu.
“ Merlin, kau terlalu cantik untuk menjadi seorang tabib..” pangeran lagi-lagi membuatnya takut bukan main.
Tangan pangeran menyentuh pipi lembut Merlin dan wajahnya mendekat kearah gadis cantik itu. Tapi Merlin sudah tidak tahan dengan ketakutannya itu, ia dengan cepat menepis tangan pangeran dan berlari keluar kamar.
Di kamar yang disediakan untuknya, Merlin menangis menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia mengingat Jendral dan teman-temannya, andai semua ada disini, pasti mereka semua melindungiku, batin Merlin merintih.
Ketukan pintu kamar Merlin terdengar. Air mata yang belum usai turun buru-buru di hapusnya dengan lengan bajunya.
“ Siapa? “ tanya Merlin dari dalam kamar.
“ Maaf nona, kau diperintahkan untuk menemui Raja dan Ratu di ruang istana “
Merlin agak bingung tapi cepat-cepat bergegas ke ruang istana.
Di ruang istana yang mewah, disana sudah duduk Raja, Ratu dan di sebelah Ratu, duduk pria dengan pakaian kerajaan megah melirik kearah Merlin. Yah, dialah pangeran Zaimon, yang baru saja membuatnya menangis.
Ternyata Merlin di minta Raja untuk menjadi tabib istana. Merlin kaget bukan main, dan jelas Merlin menolak tawaran itu. Ia lebih memilih hidup tenang damai bersama Jendral dan teman-temannya.
Ratu menjelaskan bahwa anaknya pangeran Zaimon, telah sembuh dari sakitnya karena perawatan Merlin. Tabib yang lain tidak ada yang berhasil menyembuhkannya.
Karenanya Merlin di minta untuk menjadi tabib kerajaan, tapi ketika Merlin menolak dengan halus, pangeran Zaimon mengusulkan agar Merlin bisa lebih lama tinggal di kerajaan alasannya untuk pemulihan pangeran.
Merlin agak keberatan, karena menurutnya pangeran sudah sembuh dari sakitnya, dan ia sudah melaksanakan tugasnya sebagai tabib, dan bukan perawat.
Tetapi Raja dan Ratu meminta kembali kepada Merlin untuk tinggal beberapa pekan lagi, karena anaknya sangat membutuhkan perawatan, jika sampai ada apa-apa maka hilanglah pewaris satu-satunya kerajaan.
Merlin ditawarkan apapun yang ia inginkan akan dipenuhi kerajaan asalkan memenuhi permintaan Raja dan Ratu.
Dengan terpaksa Merlin menyetujui, tapi ia tidak akan lama di istana itu, hanya jika pangeran telah benar-benar pulih Merlin akan pulang ke desanya.
Kata pengawal yang berkunjung ke dapur istana, pangeran Zaimon memberi perintah, harus nona Merlin yang membawakan sup kentang ke taman istana.
Merlin merasa aneh dengan permintaan pangeran itu, tapi mau tidak mau dia membawakannya ke tempat yang diminta.
Merlin lagi-lagi merasa gugup dan takut ketika berhadapan dengan pangeran. Pria bertubuh kekar dan tegap itu sudah berada di taman istana.
Ia menghadap belakang dengan kedua tangan di belakangnya. Rambutnya pirang keemasan, berkilau terpapar cahaya matahari.
“ Yang mulia, ini sup kentang dan ramuan herbalnya “ Merlin menaruh sebuah nampan perak di atas meja mungil di antara taman yang indah. Disana juga terdapat dua kursi dengan ukiran indah. Ketika Merlin ingin berlalu, pangeran bersuara…
“ Aku tidak menyuruhmu pergi, duduk!” pangeran memerintah tanpa menoleh kearah Merlin.
Merlin mengerutkan kening, seolah banyak pertanyaan dalam benaknya. Merlin tidak duduk, ia masih berdiri di posisinya.
Lalu pangeran menoleh kearahnya, dan mendekatinya.
“ Aku menyuruhmu untuk duduk..” pangeran mengisyaratkan dengan wajahnya ke arah kursi agar Merlin duduk.
Merlin duduk dengan keterpaksaan, ketakutan, bingung..melebur menyatu. Pangeran duduk di kursi satunya.
“ Merlin, aku ingin kau ada disini selamanya. Jika kau menolak berarti kau menolak permintaan pangeran calon Raja.“ mata Merlin membulat, ia menatap tajam pangeran disebelahnya.
“ Aku tidak mau! Aku mau pulang..” Merlin dengan tegas menolak kemauan pangeran.
“ Aku ingin kau disini! “ pangeran beranjak dari duduknya dan melangkah kearah Merlin duduk. Pangeran berdiri di hadapan Merlin yang masih duduk dengan bibir gemetar, ingin rasanya ia menampar pria di depannya, tapi dia adalah seorang pangeran kerajaan.
Tangan pria itu menyentuh dagu Merlin, dan memegang helai rambut halus milik Merlin.
“ Kau harus jadi milikku “ pangeran berkata lembut tapi bernada jahat.
Merlin memejamkan mata ketakutan.
“ Buka matamu..” perintah pangeran. Merlin membuka matanya.
“ Setelah aku menghabiskan sup dan minuman ini, kau ikutlah denganku” perintahnya lagi kepada Merlin.
“ Yang mulia, sepertinya anda sudah benar-benar sembuh, bukankah tugasku sudah selesai disini? Biarkan aku pulang..” Merlin memohon, tapi pangeran itu diam sambil menyantap sup tanpa menanggapi perkataan Merlin.
Selesai makan sup, pangeran menyuruh Merlin mengikutinya. Ternyata mereka ke kamar sang pangeran. Merlin mencoba mencari alasan untuk menolak masuk ke kamar pangeran, tapi pangeran malah menarik tangan Merlin.
...*********...