Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 44 - TERBEBAS DARI MASA LALU


“ Baiklah semuanya!, setelah ini kita akan mengurus penyihir wanita itu dan saudaranya “ Jendral berbicara lantang di depan rekan-rekannya.


“ Hukuman apa yang akan diterima mereka Jendral? “ seorang pria bertanya.


“ Hukuman gantung “ jawab Jendral.


“ Lebih baik di bakar saja Jendral, hukuman untuk penyihir adalah di bakar “ yang lain menimpali.


“ Yah, benar..dari nenek moyang kita dulu hukuman untuk para penyihir adalah di bakar Jendral “ pria lain setuju dengan pendapat temannya.


Bahkan ketika Jendral meminta pendapat Gardden dan Dumor, mereka juga menyetujui hukuman bakar untuk kedua penyihir itu.


Tapi Jendral sedikit ragu dan diam sejenak.


“ Biar aku yang membakarnya tuan..” suara Merlin tiba-tiba membuat Jendral menoleh.


“ Kau tidak akan sanggup melakukannya bukan?” Merlin melanjutkan.


“ Tidak Merlin, aku bisa melakukannya “ sahut Jendral.


Akhirnya di malam harinya, kedua penyihir tersebut di hukum karena pencurian dan sihir yang dilakukannya.


“ Tuan Luzen, apa kau tidak ingat yang kau katakan kemarin?” Elya mencoba membujuk Jendral, tetapi Jendral diam dan tak menoleh kearahnya.


“ Hey penyihir, kami sudah sadar dari pengaruh sihirmu!!” seorang pria yang membawanya ke halaman benteng berujar.


Elya dan saudaranya diikat tangannya, mereka digiring ketempat pembakaran, tumpukan jerami dan kayu-kayu sudah tertata di bawah sebuah tiang kayu untuk mengikat wanita itu, di sebelahnya saudaranya juga ditempatkan di pembakaran yang serupa.


Ketika saatnya untuk membakar jerami tersebut, Jendral yang sudah siap dengan obor ditangannya, diam dan seolah mengingat sesuatu.


Di bola matanya, tergambar cahaya api dari obor yang dipegangnya.


Ia menghela nafas, dengan mata yang tajam pria itu meyakinkan dirinya, lalu membakar jerami yang ada di bawah kaki wanita itu.


“ Tuan Luzen.tolonglah…beri aku kesempatan hidup…tuan..” Elya yang memohon tidak di gubris oleh Jendral.


Api mulai menyala besar, dan merambat membakar tubuh Elya.


Jendral tidak menunduk atau pergi dari sana, ia masih berdiri menatap kobaran api yang melahap tubuh Elya.


Ketika jeritan wanita penyihir itu terdengar, barulah Jendral pergi dari sana. Ia melangkah cepat tanpa berkata apapun.


Beberapa saat berlalu, dan pembakaran para penyihir telah selesai, para pria membereskan bekas-bekas abu dan kotoran yang ada disana.


Merlin mencari keberadaan Jendral, tapi ia tak ingin mengganggunya, Merlin tahu apa yang sekarang dirasakan Jendral.


Dumor, Gardden dan Lizo menghampirinya, lalu mereka berterima kasih pada Merlin karena telah mengatasi masalah mereka.


“ Ini semua juga berkat bantuan tuan Denzu dan tuan Dumor “ sahut Merlin.


Ternyata Denzu hanya mengamati mereka dari atas menara benteng.


Setelah semua kembali ke aula, Jendral masuk ke ruang aula dan memberikan instruksi untuk penjagaan dan pengamanan benteng yang lebih ketat, agar orang asing tidak mudah masuk ke wilayah mereka.


Ketika rapat telah usai, Jendral menemui Merlin di ruang dapur. Ia memanggilnya untuk ikut sebentar.


Mereka berjalan menuju kamar jendral.


“ Eh, tuan..aku tidak bisa memasuki kamarmu..itu tidak sopan “ Merlin berhenti mendadak di pintu kamar.


“ Tidak, aku tidak menyuruhmu masuk..aku hanya mengambil beberapa barang..kau siapkan saja lentera” Jendral mengambil sesuatu dari laci lemari kecil dan langsung memasukannya ke dalam saku mantelnya.


“ Ayo ikut..” perintah Jendral.


Merlin yang masih bingung akan diajak kemana, hanya menurut tanpa banyak berkata.


Mereka menaiki sebuah bukit kecil dan berhenti di atasnya.


Jendral melangkah ke tepi jurang, diikuti Merlin yang masih dalam kebingungannya.


“ Apa yang ingin kau lakukan tuan? “ Merlin menatap Jendral, kemudian melihat pemandangan dari atas bukit.


Jendral mengeluarkan sesuatu dari sakunya, kemudian diperlihatkan kepada Merlin.


Pria itu membuka telapak tangannya di hadapan Merlin.


“ Lihatlah ini Merlin “


“ Apa itu tuan? “ Merlin mendekatkan lentera kearah telapak tangan Jendral.


Ternyata disana ada dua buah liontin, yang satu liontin bermata biru yang sudah sedikit rusak, dan yang satu liontin bermata berlian merah muda yang cantik.


“ Mereka sangat cantik tuan..tapi yang biru ini kenapa sedikit rusak?” Merlin dengan serius menatap kedua liontin itu.


“ Yang ini milik mendiang istriku yang wafat, aku menemukan liontin ini di tumpukan abu pembakarannya..” merlin membelalakan matanya dan langsung menatap wajah Jendral.


“ Maaf, aku tidak bermaksud bertanya tentang masalah itu..” Merlin solah tidak ingin Jendral mengulang kesedihannya.


“ Tidak apa Merlin, justru sekarang aku sudah benar-benar ingin melupakan kepahitan itu..aku sudah terbebas dari rasa sakit dan dendam yang selama ini menghantuiku,…itu semua berkat kehadiranmu “ Jendral menoleh kearah Merlin.


Merlin dengan wajah polosnya tidak bisa berkata apa-apa.


Jendral meletakkan liontin biru itu di tangan kanannya, dan liontin berlian merah muda di tangan kiri.


Tiba-tiba


Jendral membuang jauh-jauh liontin biru tadi kearah jurang di tepi bukit,


“ Selamat tinggal Elizabeth..” suara Jendral perlahan mengiringi lemparan liontin itu.


dengan sekejap ia hilang di kegelapan malam.


Merlin hanya terdiam melihat Jendral melakukan itu.


“ Lalu ini, terimalah Merlin, ini sebagai hadiah permintaan maafku, juga hadiah terima kasihku karena telah menyelamatkan kami, dari awal sampai saat ini “ Jendral memperlihatkan liontin dengan mata berlian merah muda yang berkelip disinari lentera.


“ Ini..ini terlalu indah tuan, apa tidak terlalu berlebihan, ini sangat indah dan mahal..aku tak pantas menerimanya..”


“ Keindahannya tidak sebanding dengan keindahanmu Merlin.., kau sangat pantas menerimanya “


Merlin seolah kehabisan kata-kata, ia tak bisa berucap lagi…liontin berlian itu di pakaikan Jendral ke leher Merlin, sungguh pemandangan yang indah.


“ Kau sangat indah Merlin..” Jendral mendekatkan wajahnya ke wajah Merlin, telapak tangan pria itu menyentuh pipi Merlin, dan Jendral menciumnya.


Malam itu, merupakan malam terindah untuk merlin.


Pagi hari yang cerah, semua kembali ke aktivitasnya seperti biasa.


Merlin yang sudah sibuk di dapur, serasa bahagia, karena ia terlihat senyum-senyum sambil mengaduk bubur gandum di hadapannya.


Para wanita yang melihatnya ikut tersenyum.


“ Sepertinya kau bahagia sekali pagi ini nona Merlin? “ Tanya seorang wanita di depan Merlin.


“ Ah bibi…apa tidak boleh aku ceria seperti ini? “ jawab Merlin.


“ Bukan seperti itu, justru aku senang melihatmu seperti ini, daripada kau menjadi Eldr, aku jadi tidak bisa mendekatimu, dan jika kau memijit bahuku, semua kukumu tertancap di badanku..” lalu mereka semua tertawa..


...*********...