Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 59 - KENYATAAN PAHIT UNTUK MERLIN


“ Aaah, yaa..tapi tuan, kenapa mendadak begini dan…sepertinya kau serius sekali, apa bisa kita bicara agak tenang tuan..” wajah Merlin yang polos menatap heran kelakuan Jendral, sampai-sampai alis gadis itu terangkat karena kaget bercampur bingung.


“ Huuuh…” Jendral menghela nafas sampai terdengar suaranya.


“ Merlin, bukankah penyihir tua pernah bilang padamu bahwa kau akan menikahi seorang Raja? “ kali ini Jendral agak tenang.


“ Ya betul, lalu? “


“ Kau perlu tahu Merlin, yang ada di hadapanmu sekarang adalah seorang Raja..”


“ Hah?.. apa kau sedang bercanda tuan? Atau kau mabuk laut? “ Merlin kini mengerutkan keningnya.


“ Merlin, aku serius..aku adalah Raja kerajaa Gozan Selatan “


“ Gozan Selatan? Bukankah yang kita rebut kemarin adalah Gozan Timur? “


“ Merlin, ada dua hal yang perlu aku sampaikan padamu,..hal pertama, aku memang sudah menjadi Raja, ketika aku dan teman-teman pergi ke Gozan Selatan, dan tanpa di duga aku diangkat menjadi Raja disana “


“ Bagaimana bisa tuan? “ wajah Merlin semaki penasaran.


“ Aku akan jelaskan padamu, tapi aku harap kau bisa terima semua penjelasaku “


Merlin mengangguk walau belum mengerti.


“ Hal kedua yang perlu kusampaikan padamu adalah,..aku, aku sudah menikah dengan putri kerajaan Gozan Selatan Merlin, tapi tolong dengar dulu penjelasanku.. “


Wajah Merlin spontan berubah, matanya membulat, mulutnya terbuka tak percaya.


“ Kau?..menikah? “


“ Maafkan aku Merlin, tolong maafkan aku, aku bisa jelaskan semuanya… “


“ Kenapa selalu saja ada wanita lain di sekelilingmu tuan! Kenapa selalu kau datang dan membawa berita yang membuatku kecewa! “


Merlin berusaha membalik badannya, tapi jendral lagi-lagi memegang kedua pundaknya.


“ Merlin, awalnya aku tidak menginginkan pernikahan ini, kau boleh tanyakan pada Gardden dan teman-teman yang ikut denganku. Ayah dan putri Gozan Selatan yang memilihku menjadi Raja, aku sama sekali tidak berniat untuk menikah disana ataupun menjadi Raja..tapi keadaan membuatku melakukannya. Ini semua juga demi benteng kita Merlin, demi perluasan wilayah benteng kita..untuk itu aku harus menjadi Raja”


“ Lalu jika kau sudah menikah dengan putri kerajaan, untuk apa kau menikahiku!“ suara Merlin agak meninggi.


“ Aku ingin menikahimu karena aku menyayangimu!, aku menikahi putri itu karena untuk statusku sebagai Raja, dan untuk kemajuan benteng, wilayah kita bisa sampai ke Benua Hitam, Merlin kumohon mengertilah…”


“ Berarti aku akan menjadi yang kedua untukmu tuan?..baiklah, lupakalah aku tuan, kembalilah kau dengan putri itu !” Merlin menabrak pundak Jendral dan hendak pergi dari hadapan pria itu.


“ Merlin!, kau bahkan belum mendengar semua penjelasaku..” Jendral berusaha meraih tangan Merlin.


“ Aku tidak butuh penjelasan lagi tuan, kau bisa katakan apapun yang menjadi alasan, tapi aku tetap kecewa padamu!” mata Merlin mulai memerah, taring kecilnya sudah mulai tumbuh.


“ Aku tahu kau pasti kecewa, tapi bukan berarti kau harus menolak menikah denganku. Merlin, bagaimana lagi aku harus menjelaskan kalau aku menyayangimu!”


“ MERLIN!, jika sikapmu selalu begini! Baik! aku akan pergi dari sini! Ini adalah tempatmu!, bukan tempatku!, aku juga tidak akan menemui putri itu!“ Jendral menyibakkan jubahnya lalu berlalu mendahului Merlin dengan langkah gagah penuh amarah.


Merlin justru langsung menghentikan langkahnya, ia mematung di tempatnya berdiri, air matanya meleleh tak terasa.


Merlin turun kebawah benteng dengan perasaan kecewa sekaligus khawatir takut jika benar Jendral akan pergi meninggalkannya.


Di bawah telah menunggu seluruh pasukan benteng dan pasukan Fangs yang berdiri melihat Merlin, tetapi Merlin tidak menemukan Jendral disana.


Gardden, Ziggo, leon menemui Merlin, mereka bertiga berdiri di hadapan Merlin.


“ Nona Merlin, kami mohon terimalah maaf Jendral Luzen, dia tidak sepenuhnya bersalah, kami ada disana menyaksikan apa yang terjadi. Jendral hanya mencintaimu nona…” Gardden bersuara di hadapan Merlin yang matanya masih berkaca-kaca.


“ Ya nona, pernikahan Jendral dengan putri Charlotte hanya karena kerajaan itu menginginkan seorang Raja yang bisa memimpin, dan jalan untuk menjadi Raja adalah dengan menikahi putri Charlotte yang merupakan putri dan pewaris dari kerajaan itu “ Leon menjelaskan.


Merlin hanya diam, tetapi ketiganya menunduk di hadapan Merlin..


“ Nona Merlin, Mohon terimalah maaf Jendral dan mohon terimalah lamarannya!..” serentak mereka berkata dihadapan Merlin.


Merlin sedikit kaget dengan perkataan mereka…


“ Tentu saja kalian membela Jendral..” sahut Merlin.


“ Ya nona, karena kami tahu yang sebenarnya terjadi antara putri Charlotte dan Jendral “ jawab Leon.


“ Apa kau akan membiarkan Jendral meninggalkan benteng ini?” Gardden menimpali.


“ Apa dia benar akan pergi?” Merlin terdengar khawatir.


“ Dia sedang mempersiapkan kudanya “ jawab Gardden.


Merlin langsung berlari kearah kandang kuda, benar saja ia melihat Jendral tengah membersihkan kudanya seorang diri.


“ Tuan..” suara Merlin pelan, ia berdiri dan hendak masuk kandang. Jendral hanya menoleh tapi tidak bersuara.


“ Apa benar kau mau pergi? ” taya Merlin dengan kedua tangannya disatukan di depan.


“ Apa kau perduli lagi denganku? “ Jendral tidak menoleh kearah Merlin, tangannya masih memegang sikat dan terlihat geram sambil membersihkan bagian leher kuda hitamnya. Rahangnya menguat dan gerakkan tangannya semakin keras.


“ Tuan, kau…”


Tiba-tiba Jendral membating keras sikat di genggamannya ke air yang ada di bejana di sampingnya, sampai-sampai air mencuat keudara dan membasahi tubuh Jendral.


merlin tersentak kaget…


“ Kenapa kau tak pernah percaya bahwa aku hanya mencintaimu! Kenapa sulit sekali untuk bisa memilikimu!!“. Seolah semua kekesalannya tertumpah, Jedral kemudian duduk dengan menahan amarah di antara kayu pembatas kandang dan mengusap kasar wajahnya.


“ Tuan, aku bersedia menikah denganmu “ jawaban Merlin spontan membuat Jendral menoleh kearahnya, tetapi pria itu seketika melemah lagi.