Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 73 - SUKU RAW


Hampir berkilo-kilo mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di suku yang terbilang miskin kedua.


Disana agak berbeda dari suku Abyee yang menjadikan satu lumbung sebagai tempat tinggal. Di suku Raw, sangat banyak terlihat rumah-rumah kecil sederhana yang tersebar di sekitar bukit.


Rumah-rumah kecil yang terbuat dari kayu dan kain anyaman lebar sebagai pintunya.


Tak lama setelah Jendral dan rombongan memasuki wilayah disana dan turun dari kuda mereka, penduduk suku Raw keluar dari rumahnya masing-masing, dan berkumpul di tanah lapang di tengah-tengan rumah-rumah mereka yang mengeliling.


Suku Raw terlihat seperti manusia, tetapi mereka setengah rakun dengan telinga kecil di kepala mereka dan kulit yang agak berbulu coklat.


Ketika Wyen melewati kepala mereka, spontan mereka semua kaget dan hampir berteriak.


“ NAGA HITAM!! “…. Teriakkan mereka membuat ricuh dan gaduh seisi desa.


Jendral dan kawan-kawan mencoba menenangkan termasuk Daby yang berusaha menjelaskan, tetapi mereka tetap saja terkaget-kaget melihat penampakkan naga yang selama ini di sembunyikan oleh suku Abyee dan mereka tidak pernah mengetahuinya, akhirnya setelah beberapa saat mereka kembali tenang dan melihat kearah Jendral juga rombongan.


“ Jadi naga itu milik tuan? “ tanya salah seorang suku Raw kepada Jendral, setelah Daby menjelaskan bahwa naga itu kini adalah milik Jendral.


“ HOY! KITA KEDATANGAN PEMILIK NAGA!! “ pria yang tadi bertanya pada Jendral langsung berteriak keras dan membuat semua berkumpul di depan Jendral.


Jendral yang berdiri di samping Gardden menepuk keningnya dan berbisik pada Gardden.


“ Apa lagi ini, Gard..” gumam Jendral. Gardden hanya tersenyum meledek.


Mereka semua memberi hormat dengan cara membungkuk hingga punggung mereka lurus sejajar.


Dari belakang mereka, hadir seorang dengan badan besar, seolah seperti rakun raksasa. Dia menghampiri Jendral dengan melewati beberapa orang di hadapannya.


Kemudian diapun membungkuk.


“ Aku adalah Akai, pemimpin Ras Rakun, suku Raw. Selamat datang Yang Mulia Pemilik Naga” suaranya sedikit menyeramkan tetapi penuh wibawa.


“ Yah, baiklah Akai..aku adalah Luzen, dan mereka adalah teman-temanku “ sahut Jendral.


Akhirnya mereka berbincang di tanah lapang, di tengah-tengah rumah-rumah yang mengeliling. Mereka duduk di sebuah balok kayu panjang bekas pohon beech, dan Daby mewakili untuk berbicara dengan kepala suku karena kedua suku itu telah dekat dan sering menjalin kerjasama.


Suku Raw menyambut baik kedatangan Jendral dan rombongan, dan mereka menerima hadiah yang di bawakan untuk mereka.


“ Tuan, biasanya mereka sangat sulit menerima orang dari luar, tetapi lagi-lagi keberuntungan berpihak pada kita, mereka dengan mudah menerima kita “ Bisik Daby pada Jendral ketika suku Raw sibuk mengambil hadiah dari kereta karavan.


“ Yah, baguslah..jadi kita bisa langsung beristirahat..” Jendral membalas berbisik.


“ Oya Daby, kenapa mereka begitu mengagungkan orang yang memiliki naga? “ tanya Jendral.


Jendral baru mengerti.


Akai kembali bergabung dengan mereka, dan mereka membicarakan tentang rencana peperangan dengan kerajaan Nerogon dan Hazmut, dan suku Raw sangat ingin bergabung berperang dengan Jendral walau Jendral belum memintanya bergabung.


“ Kami memang tidak suka keluar dari desa kami dan tidak suka dengan kehadiran orang asing, tetapi kami sangat suka berperang di bawah pemimpin yang hebat seperti tuan, yang berhasil menaklukan seekor naga hitam, itu sebuah suatu kehormatan untuk kami ” Akai sedikit menunduk setelah selesai dengan kata-katanya.


“ Baiklah, aku sangat senang dengan dukungan dari kalian, aku menerima kalian sebagai pasukanku “


Akhirnya Jendral berhasil mengambil simpati dua suku tersembunyi di Benua Hitam dan ia juga berhasil mengajak mereka untuk bergabung menjadi pasukannya.


Malam menjelang dan semakin pekat…


Sebuah perayaan penyambutan dilaksanakan oleh suku Raw. Para wanita dari suku tersebut menari-nari di bawah kilauan cahaya obor yang mengeliling di beberapa tiang kayu.


Jendral hanya menunduk tak memandang para wanita itu menari, karena pakaian mereka yang agak terbuka. Jendral hanya menyibukkan diri dengan hidangan yang ada di depannya.


Beda halnya dengan para rombongan, yang sangat antusias dengan tarian wanita rakun tersebut, karena ternyata wanita setengah rakun sangat eksotik dan cantik.


Setelah pesta perayaan selesai mereka di persilahkan beristirahat di rumah-rumah kecil yang ada di sekitaran desa. Satu orang di persilahkan menempati satu rumah, karena memang rumah kayu disana sangat banyak.


Jendral memasuki rumah kecil yang dihalangi kain anyaman sebagai pintunya.


Di dalam ruangan rumah kayu itu hanya ada alas dari bulu untuk tidur dan sebuah lampu minyak untuk penerang. Pria itu merebahkan tubuhnya dan beristirahat.


Tiba-tiba mata Jendral terbuka dan dengan cepat melihat kerah pintu kain, karena seseorang telah masuk ke kamarnya.


Dilihatnya tiga wanita rakun yang cantik dengan pakaian agak terbuka telah berdiri dan menunduk dengan sopan di hadapan Jendral.


“ Mau apa kalian?! “ tanya Jendral yang kini posisinya telah duduk di alas bulu tempatnya berbaring.


“ Maaf tuan, kami ingin melayanimu “ jawab salah satu rakun wanita itu.


“ Melayaniku?..tidak perlu, aku sudah ingin beristirahat. Kembalilah ketempat kalian “ jawab Jendral.


“ Apa tuan ingin di temani untuk beristirahat? “ tanya wanita rakun yang satu lagi.


“ Ah, tidak-tidak…aku ingin sendiri saja “ jawab Jendral menolak.


Akhirnya ketiga wanita rakun itu keluar kamar Jendral setelah memberi penghormatan.


“ Huufft…mengganggu saja..” gumam Jendral kemudian kembali berbaring dan memejamkan matanya.