
Di Benteng Drake
Sesampainya di desa, Jendral mengenalkan pasukan barunya kepada teman-teman disana. Sebagian yang kenal dengan kawan lamanya saling berpelukan.
Dari kejauhan Merlin tampak sumringah dan semangat menyambut kedatangan mereka. Berbagai makanan telah tersedia.
Semua berkumpul di lapangan benteng. Mereka sangat bersuka ria dengan datangnya tambahan pasukan baru.
Merlin mendekati Jendral yang tengah membuka mantel bulu dan rompi kulitnya. Ia menatap wajah Jendral yang terlihat lelah. Ditangan Merlin sudah tersedia minuman hangat racikannya sendiri.
“ Minumlah tuan..ini bisa menghilangkan letihmu. Aku juga buatkan untuk yang lain”
“ Ah, ya terimakasih Merlin” Jendral mengambilnya dan meminumnya.
“Biar aku bawakan mantelmu” tangan Merlin berusaha mengambil mantel di tangan Jendral.
“ Tidak, tidak perlu..biar aku bawa saja sendiri” sanggah Jendral tanpa senyum.
Merlin melihat ada yang tidak biasa dengan Jendral, tapi ia berfikir mungkin Jendral hanya kelelahan.
Ketika Merlin sudah agak menjauh dari Jendral, ia tak sengaja melihat Oris mengambil mantel Jendral dari tangan pria yang dikaguminya itu.
Oris langsung mengambilnya walaupun sepertinya Jendral juga menolak untuk di bawakan, lalu Oris membawakan mantel Jendral, tersenyum dan berlalu.
Merlin yang melihat itu hanya mematung bediri, seolah ingin mengetahui apa yang terjadi dengan mereka di perjalanan kemarin.
Akhirnya mereka menikmati malam yang ramai. Banyak dari mereka yang masih terjaga ketika malam telah tinggi.
Ditemani Eldr yang berkeliaran di udara pada malam hari di atas sekitaran benteng.
Mereka pasukan baru sempat kaget melihat pemandangan itu, tapi beberapa pria menjelaskan tentang Eldr tersebut.
...**********...
Sepekan berlalu,
Jendral dan beberapa temannya berada di pusat kota menghadiri acara lelang perhiasan yang dihadiri banyak kalangan bangsawan dari beberapa kerajaan.
Acara berlangsung ramai, banyak para bangsawan yang menawar harga tinggi untuk satu berlian merah muda milik benteng Drake.
Jendral hanya mengamati dari kejauhan, karena ia merasa tak pandai dalam hal pelelangan.
Pria gagah itu berdiri di barisan paling belakang peserta lelang, ia melipat tangannya di dada.
Tiba-tiba dari belakang kepalanya muncul suara seorang wanita.
“ Lama tak bertemu penjaga Lui..” Jendral sontak membelalakan matanya dan langsung menoleh arah suara yang tak asing untuknya.
Yah, dia adalah Ratu dari Gozan Timur.
“ Ratu Gozan? “ Jendral menatap wajah Ratu.
“ Ternyata selama ini kau membohongiku,…Jendral Luzen..” Ratu yang berdiri tanpa menoleh kearah Jendral mendongakan sedikit kepalanya.
“ Ah, maaf..tapi aku punya alasan untuk melakukan itu yang mulia Ratu “
“ Hm, yah…ternyata benar dugaanku, kau bukanlah pria biasa. Apa kau memiliki kerajaan? “
“ Baiklah, kau pasti mengizinkan aku untuk berkunjung ke bentengmu kan?” Ratu menoleh ke arah Jendral dengan seyum disudut bibirnya.
“ Sepertinya bentengku yang kecil dan tidak semewah kerajaan tidak pantas untuk anda kunjungi yang mulia Ratu “
“ Aku bukan orang yang suka pilih-pilih tempat…aku akan berkunjung ke bentengmu hari ini “ Ratu seolah memaksa.
“ Ohya, berlian merah muda milikmu sudah kubeli dua buah, mereka sangat indah, sesuai dengan harga yang ku keluarkan,..” Ratu kemudian berlalu ke depan, ke kursi yang disediakan untuk para bangsawan.
Jendral menghela nafas, seolah akan ada masalah lagi jika berurusan dengan Ratu Gozan tersebut.
Sore menjelang,
Semua yang hadir di pelelangan telah kembali ke benteng, dengan membawa hasil memuaskan.
Mereka bisa mengumpulkan koin berkali lipat dari biasanya hanya dengan melelang beberapa berlian merah muda dan beberapa berlian lainnya.
Seperti yang di janjikan Ratu Gozan, ternyata ia datang di hari itu bersama beberapa prajurit kerajaan.
Di depan gerbang terlihat wanita dengan pakaian kerajaan turun dari kereta kuda mewahnya.
Yah, benar saja dugaan Jendral, mereka adalah rombongan Ratu Gozan.
Jendral sebenarnya enggan menerimanya di benteng, tapi dia tak mungkin menolak kedatangan seorang Ratu.
Akhirnya Ratu menemui Jendral dan yang lainnya. Setelah Ratu melihat-lihat sekelilingnya, ia duduk di salah satu kursi di aula benteng.
“ Boleh aku bicara empat mata denganmu, Jendral?” Ratu meminta sambil melipat kaki kanan di atas kaki kirinya.
Jendral memerintahkan semua pasukannya untuk keluar ruangan.
Jendral duduk berhadapan dengan Ratu di halangi meja besar dan panjang ditengah-tengah mereka.
“ Baiklah Jendral, aku langsung saja pada intinya. Kedatanganku kemari adalah untuk menawarkan kerjasama denganmu.
“ Maksud yang mulia Ratu? “ Jendral belum mengerti.
“ Ehm begini, aku akan membeli semua wilayah pertambangan intan yang ada di desamu ini.
Aku akan membayar berapapun yang kau minta, dan aku akan membantu pembangunan desamu, aku juga bisa membantumu membangun fasilitas untuk bentengmu, para penduduk bentengmu yang bekerja untukku juga akan ku bayar, bagaimana? Cukup adil bukan penawaranku?..” Ratu menjelaskan maksudnya.
“ Maaf yang mulia Ratu, hasil tambang yang kami miliki adalah aset terbesar untuk desa kami. Sekarang ini kami memiliki banyak pasukan dan warga yang harus kami jamin kesejahteraan mereka, jika kau mengambil alih pertambangan maka semuanya akan berantakan.
Maaf sekali lagi yang mulia Ratu, lagipula kami tidak punya niat untuk menjual wilayah pertambangan milik desa kami, maaf membuatmu kecewa lagi” Jendral menegaskan.
“ Hmm, begitu…, baiklah Jendral Luzen, aku masih berbaik hati padamu, aku tawarkan kau dua penawaran, pertama, kau jual wilayah pertambanganmu pada kerajaanku, atau kau ikut denganku dan menjadi pengawal pribadiku.., bagaimana? Mana yang kau pilih?…”
Jendral terdiam sejenak kemudian menatap tajam Ratu di depannya.
“ Apakah ada pilihan ketiga?” Jendral mulai terlihat tegas.
“ Hmm, Ya, ada,..pilihan ketiga adalah kami akan hancurkan benteng dan desamu berkeping-keping”
“ Baiklah, aku pilih pilihan ke tiga..” Jendral menatap Ratu dengan tatapan tajam.
...*********...