Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 47 - PERJALANAN KEDUA KE BENUA HITAM


Kapal-kapal perang milik Gozan masih ada yang berlabuh di dermaga, tapi mereka hanya menaiki kapal yang paling besar diantara yang lain, lalu mereka memulai perjalanan mengarungi samudra, di pimpin oleh Ziggo.


Sesampainya di atas kapal.


“ Lihatlah, sepertinya mereka juga mengalami badai ketika ke wilayah Oleic, barang-barang mereka banyak yang berantakan, dan ada genangan air disini “ Ziggo menerangkan kepada teman-temannya.


“ Tapi mereka berhasil mendarat dengan selamat, itu berarti badai yang mereka alami tidak terlalu besar bukan? ” Gardden menimpali.


“ Hey! Apa kalian mengalami badai kemarin?” Lizo bertanya pada salah satu pasukan Gozan.


“ Iya tuan, kami mengalami badai, tapi masih bisa di kendalikan oleh kapten kapal”


“ Dimana sekarang Kaptenmu?” Tanya Ziggo.


“ Entahlah, kemungkinan dia sudah lari ketika mendengar pasukan kami kalah perang ”


“ Dasar pengecut! “ Gardden menimpali.


“ Baiklah!! Para kru !!! AYO BERANGKAT!! “ Ziggo yang naik ke atas dan memegang kendali memulai perjalanannya di laut lepas.


Hampir setengah hari di tengah lautan lepas, Jendral dan Gardden sedang berdiskusi di geladak kapal, tiba-tiba awan menjadi redup, angin kencang mulai menerpa mereka.


“ Bentangkan Layar!!!!“ teriakan Ziggo si kapten laut membuat semua panik, terkecuali awak kapal anak buah Ziggo, kelihatannya mereka sudah terbiasa dengan situasi seperti itu.


Para kru menarik tali-tali layar dengan kuat.


“ Ziggo!!! Apa ada badai??!!” Jendral berteriak sambil mendongak keatas dari bawah dek kapal.


“ Ya Jendral, sebaiknya kalian mencari pegangan!!” ombak di depan sangat besar!!“ Ziggo mulai sibuk dengan pengendali kapalnya.


Tak lama berselang, ombak tinggi menerpa kapal. Kapal besar itu sempat oleng, sisi kiri kapal terbentur ombak besar yang kuat.


Air masuk ke dalam kapal, membuat genangan yang cukup banyak di dek kapal.


“ Berpegangan!!! Aku akan menikung tajam!!! “ teriak Ziggo yang memiringkan tubuhnya menahan kemudi kapal.


Mereka semua berpegangan pada sesuatu yang di dekatnya. Kapal sempat terombang ambing dengan berbelok dan air masuk lagi dari sisi kapal membuat mereka terguyur hingga kuyup.


Tapi Ziggo dengan lihainya bisa menguasai laut, mereka selamat dari badai dan ombak yang menakutkan.


Air sudah mulai tenang, keadaan sudah kembali normal.


Tubuh mereka basah dengan air laut, genangan air berada di kaki mereka.


“ Ahh akhirnya kita bisa melewatinya..” Lizo yang lemas, terkulai di dek yang masih tergenang air.


“ Apa kalian baik-baik saja?!!!” Ziggo yang masih di atas bertanya kepada semuanya.


“ Hahaha..seru bukan berada di lautan!!! “ Ziggo malah seolah menikmati tantangan badai tadi.


“ Hey setan laut!! Kami bukan perompak sepertimu!! Kami tidak terbiasa di laut!, jangan malah tertawa, bodoh!! “ Leon berteriak pada Ziggo.


“ Hahaha!!! Kemarin kalian sangat berani saat berperang..ketika di laut kenapa kalian menjadi ciut?!!...dasar udang laut!! “


“ Lebih baik kau diam!!, daripada kulempar tombak!! Dasar bodoh!!! ” Leon terlihat kesal dengan kelakuan Ziggo, tetapi Ziggo masih tertawa sendirian.


Akhirnya mereka sampai ke daratan Benua Hitam. Mereka langusung menuju ke kerajaan Gozan Timur yang akan diambil alih dan diganti nama dengan ‘Kastil Timur‘.


Sesampainya disana, Jendral dan rekan-rekannya menjelajahi kastil yang lebih indah dari kastil di daerah Zeron.


Mereka juga menemui warga dan beberapa wilayah yang masih masuk wilayah Gozan Timur.


Akhirnya kepemimpinan sementara di pegang Lizo, sampai nanti mereka mendapatkan pemimpin yang benar-benar cocok untuk memegang kendali Kastil Timur.


Mereka memutuskan untuk pulang esok hari, tetapi Ziggo memperingatkan bahwa kondisi laut akan lebih berbahaya untuk esok dan tiga hari kedepan, di hari itu adalah saatnya badai besar datang.


Ziggo berpesan bahwa sebaiknya mereka tinggal empat atau lima hari lagi di Benua Hitam menunggu sampai badai di lautan lebih tenang. Badai yang kemarin adalah awal dari badai yang besar empat hari kedepan.


Akhirnya mereka bermalam di Kastil Timur.


Pagi hari yang agak dingin, Leon, Lizo dan Gardden memutuskan untuk berkeliling di area kastil.


“ Leon, dimana kampung halamanmu?..bagaimana kalau kita kesana? “ Gardden membuka pembicaraan.


“ Itu di Gozan Selatan. Apa kau mau kesana ? hahaha..aku khawatir jika kau kesana kau tidak akan ingin kembali tuan Gard “ Leon memberitahu.


“ Kenapa bisa begitu? “ Gardden bertanya penasaran.


“ Disana adalah syurga..tempat berkumpulnya wanita cantik..” Leon menjelaskan.


“ Benarkah?..ah..kau pasti menipuku” sahut Gardden.


“ Untuk apa menipumu” jawab Leon.


“ Bagus!, bagaimana kalau kita jalan-jalan kesana..menunggu lima hari itu membosankan “ Lizo menimpali.


“ Hey, kau kan harus memimpin di kastil ini bodoh! Bagaimana bisa kau jalan kesana sini!!” Gardden menoleh kearah Lizo.


“ Ya, tapi bukannya hari pelantikan belum di mulai..” Lizo membela diri.


“ Terserah kau sajalah “ Gardden menjawab.


“ Apa benar disana banyak wanita cantik? “ Tanya Lizo pada Leon.


“ Yah, semua tampak seperti bidadari..dan yang paling berkilau dari kilauan kecantikan disana adalah puteri kerajaan Gozan Selatan…tidak ada yang bisa menandingi kecantikannya..” Leon bercerita seru.


“ Hey, cantik mana puteri Gozan Selatan dengan nona Merlin?” Gardden sedikit berbisik pada Leon.


“ Aku rasa lebih cantik puteri Gozan Selatan, Jendral juga akan terpesona kalau melihatnya..” Leon menjawab dan mendapat pukulan kecil dikepalanya dari Gardden.


“ Jangan asal bicara kau..” sahut Gardden.


“ Kau jangan jadi racun untuk hubungan nona Merlin dan Jendral, biarkan mereka bersama, lihatlah yang belum berpasangan…semisal aku ini..” Gardden tertawa setelah menyikut dada leon.


Leon hanya menggeleng dan tertawa.


“ Aku akan bilang pada Jendral, kita akan ke Gozan Selatan…“ Lizo sangat bersemangat dan langsung berlari kedalam kastil mencari Jendral.


“ Hey!! Dasar bodoh! “ Leon baru ingin berkata sesuatu, tapi pria itu sudah berlari.


Akhirnya Jendral mengizinkan mereka berjalan-jalan ke Gozan Selatan.


“ Jendral, ikutlah dengan kami..untuk apa disini..ayolah..” Lizo merayu Jendral.


“ Iya Luzen, bersenang-senanglah sedikit..” bujuk Gardden.


“ Akh..kalian ini..ya..ya, baiklah!! “ Mereka tambah semangat dengan ikutnya Jendral ke Gozan Selatan tempat kelahiran Leon.


“ Apa kau tidak masalah datang kesana lagi Leon?” Tanya jendral.


“ Tidak apa Jendral, tapi kita hanya melihat-lihat dari kejauhan kan?.” Jawab leon.


“ Hmm..” jawab Jendral.


Akhirnya Jendral, Gardden, Lizo, Ziggo dan Leon menuju ke Gozan Selatan dengan berkuda.