
Darah mengalir di tanah yang di pijak Jendral. Lalu Jendral mendekati Ratu Gozan dengan memegang pedang yang masih bersimbah darah suaminya.
Jendral menatap tajam wanita itu yang juga sinis menatap Jendral.
“ Baik, bawa dia..kita urus di benteng..” perintah Jendral kemudian melewati wanita itu dan membelakanginya.
Mereka berjalan keluar dari tenda Raja dan Ratu Gozan yang telah kalah kearah kuda mereka berada.
“ Jangan sentuh aku!, aku bisa jalan sendiri, tanganmu tak pantas menyentuh seorang Ratu!! ” Ratu Gozan berteriak marah kepada Gardden yang memegang tangan Ratu ke belakang.
“ Kau bukan Ratu lagi sekarang! “ Gardden malah mengencangkan pegangannya ke tangan Ratu.
“ Akkhh!!, biarkan aku jalan sendiri, kumohon, tolong hargai aku sedikit..” Ratu tampak kesakitan, tapi Gardden masih saja memegang tangan wanita itu kebelakang.
“ Bukankah aku juga akan dihukum, apa salahnya membiarkan aku menikmati nafas terakhirku sedikit saja..”
“ Garden biarkan dia jalan sendiri, kenapa wanita itu berisik sekali! ” Jendral memerintahkan Gardden.
Akhirnya Gardden melepaskan cengkramannya, dan membiarkan wanita itu berjalan tanpa di pegang.
Ratu Gozan yang berada di belakang Jendral dan berada di depan Gardden, dengan sembunyi-sembunyi mengeluarkan sesuatu dari pinggangnya, di balik gaunnya, itu adalah sebuah belati…
Tiba-tiba…
CLEEP!!!!
“ Aaakkhh!!! ” sebuah erangan kesakitan terdengar saat itu juga.
Jendral yang ada di depan wanita itu mencabut pedangnya yang menusuk kebelakang.
Gardden yang tidak mengerti apa yang terjadi, tertimpa rubuhan tubuh Ratu Gozan yang sudah bersimbah darah sambil memegang perutnya.
“ Apa yang terjadi Luzen? “ Gardden bertanya heran.
“ Lihatlah di bawah wanita itu, dia mencoba menikamku dengan belati itu…aku sudah menyadarinya sejak dia mengoceh tadi “
Ratu itu mati beberapa saat kemudian dan masih tergeletak di tanah.
Jendral lalu memerintahkan sisa prajurit Gozan untuk mengurus mayat Raja dan Ratu mereka.
Jendral naik ke kudanya, lalu menghadap ke prajurit Gozan yang tersisa..
“ KALIAN PASUSAN GOZAN!!!, Raja dan Ratu kalian telah wafat di tangan kami. Pilihan kalian hanya dua, pergi dari wilayah Gozan atau ikut bergabung bersama kami menjadi pasukan Benteng Drake dan hidup kalian akan terjamin, karena kerajaan kalian akan menjadi milik kami sepenuhnya!!!” suara lantang Jendral membuat seluruh pasukan Drake semangat dan bersuka cita akan kemenangan mereka.
“ HIDUP KERAJAAN DRAKE!!!! “ pekikan suara prajurit Drake menggelegar di tanah Heydra.
Sementara itu kerajaan Gozan akan di ambil alih benteng Drake esok harinya.
Kerajaan Gozan akan di beri nama ‘ Kastil Timur ‘.
Sesampainya di benteng, Seluruh pasukan merayakan kemenangan mereka. Malam yang di penuhi cahaya lentera, meriah dengan kedatangan pasukan baru.
“ Luzen, kira-kira siapa yang akan memerintah di Kastil Dua? “ Gardden bertanya pada Jendral yang sedang mengunyah daging rusa panggang.
“ Menurutmu siapa yang pantas?” Jendral malah bertanya kepada sahabatnya itu.
“ Emm, mungkin Ziggo atau Dude..”
“ Kalau menurutku, kau lebih pantas Gaddern “ dengan santai Jendral menuang segelas minuman.
“ Sudah kukatakan berkali-kali Luzen, aku tidak ingin kekuasaan, aku ingin menemanimu di manapun kau berada “
“ Apa kau ingin menjadi saingan Merlin?..sepertinya dia juga ingin menemaniku dimanapun aku berada..hahaha..” Jendral tertawa hingga terbatuk-batuk.
“ Hahaha..,Sialan kau! Bukan itu yang ku maksud..” Gardden menepak kepala Jendral lalu mereka tertawa kembali.
Malam itu, melelahkan tapi membuat mereka bisa tertidur nyenyak, karena beban yang mereka tunggu selama ini telah terselesaikan, menunggu apakah akan ada lagi peperangan selanjutnya.
Pagi menyebar rona sinarnya, menyilaukan sekaligus menghangatkan.
Mereka beberapa pasukan benteng, sisa pasukan Gozan, Lizo, Ziggo beserta kru-nya, Leon, Jendral juga Gardden telah siap menuju ke Benua Hitam, mereka akan melihat kerajaan Gozan yang kini telah menjadi milik mereka.
Sebelum berangkat Jendral berpamitan pada Merlin.
“ Merlin, maaf, kali ini aku tak bisa membawamu..tunggulah sampai aku pulang, kita akan menikah “ Jendral mengelus pipi merlin.
“ Baiklah, aku akan menunggumu tuan, jaga dirimu “ senyuman damai Merlin menyejukan Jendral.
“ Jendral, apa kau yakin akan berangkat hari ini?, di bulan-bulan seperti ini air laut sangat tidak bersahabat “ Ziggo meyakinkan Jendral.
“ Apa kau bisa mengatasinya? “ Tanya Jendral.
“ Akan ku coba, aku hanya berharap kalaupun ada badai, semoga saja itu tidak terlalu besar “
“ Baiklah, aku percayakan urusan itu padamu Ziggo “ Jendral memegang pundak Ziggo lalu melangkah mendahuluinya.
Akhirnya mereka berangkat dengan menggunakan kuda dan kereta karavan untuk membawa pasukan ke dermaga.
...*********...