
“ Kelakuan kalian sudah seperti anak kecil “ Wanita yang berdiri disana berucap.
Jendral akhirnya menyudahi perkelahiannya dengan Leon. Ia berdiri dan menghampiri wanita tadi.
“ Maaf, Yang Mulia Ratu, kami sekedar bersenang-senang” Jendral sedikit membungkukkan badannya, ia lupa mengenakan pakaiannya.
Ratu yang berdiri disana memalingkan wajahnya.
“ Apa kau menghadapku dengan keadaanmu seperti itu?” spontan Jendral melihat tubuhnya sendiri yang bertelanjang dada, ia langsung bergegas mengambil pakaiannya yang tadi di lepaskan.
“ Kau penjaga baru ?” tanya Ratu.
“ Iya Yang Mulia Ratu “
“ Masukan dulu tahanan ke selnya lalu ikut aku!” perintah wanita cantik yang di panggil Ratu tadi, dengan rambut coklat tua, yang di gulung rapih dan mahkota kecil di atas kepalanya.
Jendral memasukan kembali Leon ke dalam jeruji besinya. Jendral memapah Leon dengan bahunya.
“ Hey penjaga, ternyata kau hebat juga… “ Leon yang sudah kepayahan memuji Jendral.
“ Kau juga lumayan kuat, badan besar “ ujar Jendra membalas.
“ Penjaga, keluarkanlah kami dari sini..aku tidak ingin dijual jadi budak..” Leon mendekati jeruji dari dalam ketika Jendral menguncinya.
“ Akan ku usahakan “ Mata Jendral menatap Leon yang kini sepertinya sudah menjadi kawannya.
“ Hey, bertarungmu lumayan juga ..” salah satu tahanan memuji Jendral..
Para tahanan mulai menyukai penjaga barunya itu…
“ Stt..jangan sampai kau bertarung di ranjang Ratu..hahaha..” yang lain berujar.
Gelak tawa seluruh tahanan samar-samar hilang terdengar seketika Jendral melangkah menaiki tannga.
Jendral mengikuti Ratu yang sudah hilang melangkah lebih dulu ke atas menaiki anak tangga.
Jendral dan Ratu sudah berada di sebuah Puri istana, di sisi kanan kirinya dipenuhi dengan taman bunga yang cantik.
Pengawal sudah berlalu dari hadapan sang Ratu, susanan hening dan sejuk di taman yang indah di puri istana milik Ratu.
“ Siapa namamu ?” tanya sang Ratu
Jendral diam sejenak, apakah ia akan memberitahu nama aslinya, atau meyarukannya.
“ Namaku Lui yang mulia Ratu “
“ Lui, nama yang aneh. Apa kau kerasan menjadi penjaga penjara ?”
“ Lumayan kerasan yang mulia “
“ Lui, Bagaimana jika kutawarkan kau menjadi pengawal pribadiku, akan kuberi bayaran dua kali lipat lebih besar daripada menjadi penjaga penjara?” Ratu memainkan bunga Lily putih yang ada disana.
Jendral berfikir sejenak.
“ Mohon maaf yang mulia Ratu, aku sudah merasa cukup nyaman menjadi penjaga penjara ”. Jendral agak menundukan kepalanya.
“ Hmm, kau menolak tawaranku penjaga? ” Ratu memetik bunga lily putih yang daritadi di pegangnya.
“ Bukan begitu maksudku yang mulia, aku hanya tidak biasa berada di sisi wanita yang masih asing untukku “
Tiba-tiba seorang pengawal datang menghadap Ratu dengan panik dan buru-buru.
“ Maaf yang mulia Ratu, ada perompak di tepi laut, sepertinya mereka akan menuju ke kerajaan ini” sang pengawal melapor.
“ Perintahkan Jendral Hars untuk mengumpulkan prajurit, jangan sampai mereka menyerang ke dalam istana”
“ Baik!” pengawal berlalu pergi.
“ Baik, kalau begitu aku juga permisi dulu yang mulia Ratu” Jendral juga ikut berpamitan, walau Ratu belum mengizinkannya pergi, lalu meninggalkan Ratu seorang diri di puri kerajaan.
“ Hmm…pria yang menarik..” ucap sang Ratu perlahan.
Di luar kastil, para prajurit berlarian menyusun formasi dan menuju gerbang utama kerajaan. Sepertinya mereka ingin menghalau para perompak di tepi laut.
Jendral Luzen kembali ke pekerjaannya sebagai penjaga penjara. Para tahanan bertanya ada apa ribut-ribut di luar, Jendral menjelaskan situasinya, bahwa ada perompak di pantai yang bisa jadi menyerang kerajaan.
“ Perompak ya…, hmm…akhirnya Ziggo si bandit laut mampir juga ke kerajaan ini, yah baguslah, biar saja mereka merampok harta kerajaan ini “ Pria setengah baya di sel tahanan mengomentari.
Jendral mengerutkan kening, “ kalian kenal dengan para bandit itu?”
“ Yah, mereka hanya bandit kecil yang suka berjalan-jalan “
“ Apa mereka lemah? “ tanya Jendral kembali.
“ Sebenarnya mereka tidak lemah, cuma kadang mereka ceroboh dan kurang perhitungan “
Jendral seperti berfikir sejenak. Lalu jendral berlalu ke luar penjara, dan menuju pintu gerbang istana, ia keluar tanpa di ketahui orang, karena saat itu keadaan sedang ramai dengan prajurit.
Jendral menuju ke dataran tinggi yang bisa memantau keadaan pantai dari tempat yang tinggi.
Akhirnya Jendral mendapati tempat untuk memantau, sebuah bukit dengan pepohonan yang agak rimbun.
Disana Jendral melihat beberapa tenda para perompak, perahu kayu berkepala naga yang sudah berlabuh di pinggir pantai, juga beberapa orang bandit yang berkeliling dengan membawa kapak dan pedang.
Perompak berjumlah kira-kira delapan puluh sampai seratus orang, dengan peralatan perang jarak pendek.
Tak berselang lama, pasukan invantri dari kerajaan Gozan Timur terlihat berdatangan dan mulai membentuk barisan.
Seseorang dengan kuda hitam tampak maju dan mendekati tenda perompak, sepertinya ingin bernegosiasi.
Salah satu perompak datang dan berbincang sebentar dengan orang yang diatas kuda, tapi tak berselang lama, si pengendara kuda dengan cepat berbalik dan meyerukan untuk menyerang.
Perompak menyerang dengan ganas menggunakan kapak dan pedang.
Prajurit kerajaan tampak kualahan menerima serangan brutal perompak, dan tidak butuh waktu lama, pasukan kerajaan kocar-kacir, kemudian pasukan tambahan diturunkan untuk menghalau para bandit.
Pertempuran berlangsung beberapa saat, hingga akhirnya pasukan kerajaan mundur, dan para perompak bersorak dengan kemenangan pertama mereka.
Dua malam berlalu, dengan hasil pertempuran yang sama di siang harinya. Pasukan perompak lagi- lagi berhasil mengalahkan prajurit kerajaan.
Raja dan Ratu tampak kebingungan, karena bisa jadi besok perompak akan menyerang kerajaan dan merampas harta.
Jendral yang mendengar desas-desus yang terjadi di kerajaan, akhirnya berencana menemui Jendral yang memimpin pasukan di kerajaan Gozan Timur, Jendral Hars.
Ia bertanya pada prajurit penjaga disana, akhirnya ia menemukan tempat kediaman Jendral Hars.
...**********...