Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 14 - PEMBEBASAN PARA PEROMPAK


Di Aula istana yang megah, seluruh para elit pasukan dan prajurit berkumpul di sisi kanan dan kiri ruangan, disana juga ada Jendral Hars yang menatap tajam Jendral Luzen yang sudah berada di tengah-tengah ruangan dan para tahanan di belakangnya, berdiri di atas permadani bludru merah yang membentang .


Raja memuji keberhasilan Jendral Luzen dan mengabulkan syarat pertamanya, yaitu membebaskan para tahanan budak yang ada di belakang Jendral Luzen.


“ Lalu apa syarat kedua yang kau minta penjaga Lui?” tanya Raja di atas kursi kerajaan megahnya.


“ Syaratku yang kedua, izinkanlah aku yang menangani para perompak dengan caraku sendiri yang mulia “ Jendral yang masih berdiri di tengah-tengah membungkuk sedikit.


“ Hey, penjaga! Apa-apaan permintaanmu!, apa kau pikir aturan ini dibuat semaumu?! ” Jendral Hars tiba-tiba membuka suara agak keras.


“ Diam!! Akulah Rajanya disini Jendral” Raja menoleh kearah Jendral Hars dengan matanya yang membulat.


“ Bagaimana kau menangani para perompak itu penjaga Lui? ” Raja kemudian memalingkan kembali wajahnya kearah Jendral Luzen.


“ Aku akan membawa mereka jauh dari tempat ini yang mulia, aku yakinkan kepada yang mulia mereka tidak akan pernah lagi kembali kesini dan membuat kekacauan “


“ Kenapa kau begitu yakin bahwa mereka tidak akan kembali kesini?”


“ Karena saat ini nyawa mereka sedang diujung tanduk, apakah mereka lebih memilih di hukum mati atau lebih memilih menjauh dari sini?, aku rasa mereka akan memilih pilihan kedua yang mulia ”


Akhirnya Jendral mendapatkan apa yang dimintanya.


Di luar kastil, di penjara yang kini di huni para perompak, disana telah berdiri Jendral Luzen dan para tahanan yang berada di belakangnya.


Jendral menemui para perompak. Di batasi jeruji besi, Jendral mengatakan beberapa hal kepada prompak yang sudah tidak berdaya di dalam sel jeruji besi.


“ Hey kalian para bandit laut!..sebentar lagi kalian akan di hukum mati, di gantung di tiang gantungan.


Aku tidak meminta terimakasih kalian, tetapi aku sudah menemui Raja kerajaan ini dan meminta kepadanya untuk tidak menghukum mati kalian”


Para Perompak nampak bersemangat, dari mereka ada yang berdiri mendekati Jendral Luzen, dan menggenggam jeruji sel.


“ Apa benar?..lalu apa kami akan di bebaskan?” salah satu dari mereka bertanya semangat.


“ Ya kalian masih bisa tetap hidup, tapi aku lakukan ini tidak cuma-cuma!! nyawa kalian masih bisa kalian nikmati asalkan kalian tidak membantahku dan tidak mengkhianatiku.


Kalian juga harus berjanji tidak akan menjadi pengacau lagi. Kalian akan ikut bersamaku bila waktunya tiba”


Para perompak terlihat lega karena nyawa mereka masih bisa di selamatkan. Mereka menyetujui semua permintaan Jendral Luzen. Jendral berlalu dari penjara itu.


Esok pagi, mentari hangat menebar cahayanya. burung-burung berkicau menenangkan.


“ Penjaga Lui, Ratu ingin bertemu dengan anda “ Seorang prajurit menemui Jendral Lui di ruangannya.


Prajurit mengantarkan Jendral Luzen ke sebuah ruang mewah di lorong paling ujung di dalam kastil.


Prajurit mengetuk pintu dan meminta izin masuk, lalu suara wanita di dalam ruangan mengizinkannya masuk.


“ Anda ingin bertemu denganku yang mulia Ratu?” Jendral Luzen berdiri di ambang pintu.


Di dalam ruangan mewah seperti kamar dengan ranjang mungil lebih mirip sofa mewah, dengan dekorasi klasik dan megah, Jendral Luzen melangkah ragu-ragu.


Lalu pintu di tutup oleh prajurit yang kemudian hilang di belakang pintu yang sudah tertutup.


“ Sepertinya kau bukan orang sembarangan penjaga Lui. Kau sangat membuatku terkesan..siapa kau sebenarnya penjaga? “ Wajah cantik Ratu menoleh kearah Jendral Luzen yang berdiri kaku ditempatnya.


“ Aku hanya penjaga penjara yang mulia “


“ Benarkah?…tapi sepertinya kau menipuku..” Ratu seolah menggoda Jendral.


“ Kau tau penjaga Lui, seharusnya di tempat ini suamiku memanjakanku, menemaniku, tapi ternyata dia tidak melakukan itu semua karena dia tidak lagi mencintaiku..karena aku tidak bisa memberikannya keturunan untuk mewarisi tahtanya.


Akhirnya suamiku menghabiskan waktunya dengan wanita yang bisa memberikannya keturunan. Tapi sampai sekarang dia belum juga berhasil memiliki keturunan dari wanita lain, pria tua itu memang bodoh.


Aku ingin kau membantuku membuktikan bahwa Raja salah menilaiku, bahwa sesungguhnya dialah yang tidak bisa memberi keturunan, dan aku masih bisa mengandung seorang anak…apa kau bisa membantuku penjaga Lui?”


Ratu maju melangkah perlahan mendekati Jendral Luzen, ia mulai menyentuh ke dada Jendral, dan mencoba membuka tali pengikat jubah Jendral dengan perlahan.


“ Kau membuatku penasaran penjaga Lui..” wanita itu berbicara dengan suara agak mendesah berbisik di samping telinga Jendral. Jendral agak mundur menjauh tapi Ratu dengan cepat menggapai baju Jendral Luzen.


Jemari Ratu sudah membuka sedikit ikatan baju atas Jendral, dengan cepat Jendral mencegahnya, ia menggenggam erat dan menjauhkan tangan Ratu dari tubuhnya.


“ Maafkan aku yang mulia, aku tidak bisa membantumu “ Jendral yang sudah berdiri agak jauh dari Ratu menundukan kepalanya .


“ Kau lagi-lagi menolakku penjaga Lui. Aku sudah memberikan semua yang kau minta, lalu sekarang kau menolak permintaanku.. “


“ Maaf yang mulia, aku rasa itu tidak ada hubungannya dengan hal ini “ Jedral mencoba menjelaskan.


“ Apa dimatamu aku bukan wanita yang cantik?” Ratu mulai melangkah mendekati Jendral kembali.


“ Bukan begitu maksudku yang mulia, anda sangat cantik, tetapi masalahnya aku tid-..”


Ratu dengan cepat memeluk Jendral yang masih berdiri.


Jendral merasa kikuk, matanya membesar, keningnya berkerut. Lalu Jendral memegang pundak Ratu dan menjauhkan pelukannya dengan lembut.


“ Maafkan aku sekali lagi yang mulia, sepertinya aku tidak pantas untuk ini, permisi yang mulia Ratu “ dengan sangat buru-buru Jendral meninggalkan ruangan itu.


Terdengar suara bantingan benda logam ke lantai dari dalam ruangan, sepertinya Ratu kecewa karena tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, tapi Jendral tidak memperdulikannya, ia tetap berjalan menjauh dari lorong itu.


Siang harinya, Di dermaga tempat Jendral dan dua temannya bertemu. Mereka saling memberi informasi.


Sepertinya sudah saatnya mereka kembali ke desa mereka, karena ilmu penambangan dan pengolahan intan sudah dipelajari oleh Dumor dan Lizo lebih cepat dari waktu yang diperkirakan.


...**********...