
“ Aku harus ..menikahimu?”… Jendral bertanya panik.
“ Tapi bagaimana aku bisa menikahimu, aku bahkan belum lama mengenalmu?”
Suara Jendral agak meninggi.
Jendral meremas rambut depannya dan bangkit dari duduknya lalu ia melangkah ke jendela.
“ Banyak yang harus kupikirkan. Tapi untuk menikah itu belum terfikir sama sekali olehku”
“ Tapi bagaimana dengan bayi ini?, bagaimana denganku tuan?”..Oris memandang Jendral yang sedang melihat keluar jendela.
Jendral menghela nafas.
“ Baiklah, akan kupikirkan “ pria gagah itu berlalu dari kamar Oris, lalu menutup pintunya dengan sedikit keras.
Diluar, Jendral terlihat murung duduk di atas bangku kayu panjang di samping gudang senjata yang agak sepi.
‘Aku harus bicara dengan Merlin, tapi bagaimana aku harus memulainya..’
Tiba-tiba Merlin terlihat dari kejauhan membawa sesuatu dan bertanya kepada pria yang ada disana, pria itu menunjuk kearah Jendral. Rupanya Merlin memang sedang mencari Jendral.
Jendral tampak bingung dan gelisah, tapi Merlin semakin dekat melangkah menujunya.
“ Tuan, apa kau sudah bicara dengan Oris?..” Merlin langsung duduk disamping Jendral.
“ Apa yang ada ditanganmu?” Jendral belum menjawab Merlin.
“ Ah, ini tuan, aku membuatkan mantel bulu untukmu, aku merajutnya sendiri, apa kau suka?”
Sebuah mantel coklat tua dengan tali yang menghiasinya di perlihatkan Merlin di depan Jendral.
Jendral dengan senyum sedikit terpaksa, mengangguk.
“ Ya, aku suka..terimakasih Merlin.”
“ Oya, jadi bagaimana dengan Oris tuan? Apa kau sudah menanyakan siapa ayahnya?”
Pertanyaan Merlin membuat Jendral kembali murung dan salah tingkah.
“ Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu Merlin… “ Jendral dengan hati-hati menceritakan kejadian di perjalanannya bersama Oris.
Suasana yang sudah berubah membuat mereka tampak tegang. Merlin tampak tidak percaya dengan semua cerita Jendral.
Gadis itu menutup mulutnya dengan jemarinya yang agak bergetar, dan matanya mulai berkaca-kaca.
“ Aku berani bersumpah Merlin, aku tidak sadar ketika itu..aku merasa tidak melakukannya sama sekali..” Jendral menatap dalam-dalam wajah Merlin yang tengah kecewa dengan penjelasan Jendral.
“ Aku kira tuan….” Merlin tidak sanggup melanjutkan.
“ Merlin, kau harus percaya padaku, aku bahkan belum mengenalnya!” Jendral menjelaskan.
Merlin menghela nafas…
“ Aku yang salah tuan, aku yang terlalu percaya diri, mengira bahwa tuan menyukaiku…tapi aku baru tersadar, aku adalah monster yang mengerikan..aku tak pantas untukmu!!” Merlin tak sanggup menahan air matanya, dia berlari meninggalkan tempatnya.
“ Merlin!!!” Jendral tidak sempat menahannya, Merlin lebih cepat melarikan diri.
‘Kau tidak salah Merlin…aku memang menyukaimu’ batin Jendral sambil menundukan kepalanya, dan mengusap wajahnya.
Semua penghuni benteng mendengar dan saling bertanya. Seorang pria datang agak berlari dan panik menemui Jendral yang masih duduk di tempatnya.
“ Jendral, sepertinya itu nona Merlin!!..” pria itu terengah-engah melaporkan pada Jendral.
“ Ya, itu Merlin, Biarkan saja..” suara Jendral melemah, lalu ia menundukan lagi kepalanya. Tapi si pria tampak masih bingung, lalu akhirnya pergi dari hadapan Jendral.
Oris yang mendengarnya dari kamar melihat kearah hutan, ia berfikir mungkin Merlin sudah mengetahui yang sebenarnya.
Semalaman Merlin tak kunjung pulang, warga benteng mulai panik, terlebih Jendral. Besok pagi mereka berencana menyusuri hutan mencari Merlin.
“ Apa tidak malam ini saja kita cari nona Merlin Jendral?” tanya Dummor pada Jendral yang tengah duduk di kursi aula.
“ Besok saja, aku yakin para Eldr ada bersamanya, kemungkinan ia aman bersama Eldr”
Setelah semua keluar dari ruang aula, Gardden menghampiri Jendral dan menanyakan masalah yang terjadi padanya dan Merlin.
“ Aku percaya padamu Luzen, kau mungkin tidak melakukan apa-apa, bisa jadi Oris yang menjebakmu, aku akan membantumu mengatasi masalah ini”
“ Tidak perlu Gard, biar kutangani sendiri.” Jendral bangkit dari duduknya, kemudian
menepuk pundak Gardden dan melewatinya lalu keluar ruangan.
Besoknya, pagi-pagi sekali warga benteng menyusuri hutan mencari Merlin. Hampir setengah hari mereka mencari tapi tak menemukan tanda-tanda keberadaan Merlin.
Akhirnya Jendral memerintahkan dua orang untuk pergi ke desa Merlin tinggal dahulu, barangkali dia ada disana.
Dua hari berlalu, pria yang ditugaskan mencari Merlin ke desanya juga belum menemukan Merlin. Jendral sangat resah dengan hilangnya Merlin, begitu juga dengan teman-temannya.
Di lumbung gandum, Oris sedang mengambil beberapa gandum untuk dimasak, tiba-tiba ia dikagetkan dengan kemunculan seorang pria yang menodongkan pisau dari arah belakang ke lehernya.
“ Kau tak perlu berteriak Oris, aku hanya akan bertanya padamu, jawablah dengan jujur, jika kau berbohong, kau akan mati disini dan tidak ada seorangpun yang akan tahu..” suara pria itu adalah suara milik Gardden.
“ Ahhk…apa-yang ingin- kau-tanyakan..” Oris menjawab terbata-bata.
“ Siapa ayah dari bayimu?”
“ Akh..itu…” Oris belum menjawabnya.
Gardden semakin mendekatkan pisaunya ke leher Oris.
“ Jawab aku!!” ancam Gardden kasar.
“ Gariel..dia Gariel kekasihku..”
“ Dimana dia sekarang?!” tanya Gardden kembali.
“ Dia sudah pergi, aku tidak tahu kemana perginya dia..”
“ Lalu kenapa kau menjebak Jendral dan menyuruh dia menikahimu?!”
“ Karena aku menyukai Jendral, dan aku tidak ingin anak ini lahir tanpa ayah..”
“ Wanita sialan!” Gardden melepaskan pisaunya lalu mendorong tubuh Oris dan hampir jatuh.
“ Kau harus jelaskan ini pada Jendral dan nona Merlin, karena kebodohanmu Jendral menjadi galau dan nona Merlin pergi dari benteng, ini semua karena ulahmu!” Gardden menendang gandum yang ada disana hingga berhamburan, lalu ia pergi.
...*********...