
Dari atas benteng, puluhan pemanah membidik sekitaran para prajurit Hazmut, dan seolah mengurung mereka di depan pintu gerbang, tapi tak satupun panah yang mengenai pasukan tersebut, bukan karena pemanah kurang mahir, tapi itu adalah bagian dari rencana.
Belum selesai kagetnya prajurit Hazmut, mereka di kejutkan kembali dengan terbukanya pintu gerbang benteng.
Dengan sengaja benteng di buka dari dalam, dan prajurit Hazmut masuk dengan berantakan.
Di dalam benteng empat ratus orang prajurit bersiap dengan senjatanya masing-masing, berfikir akan langsung di serang oleh lawan, tapi ternyata konstruksi bangunan benteng bagian depan memang di rancang untuk mengepung musuh yang masuk.
Pintu masuk gerbang terbuat dari besi menutup kebawah dengan cepat, pintu gerbang cadangan itu memang sengaja di buat lebih berat hingga bisa jatuh dengan cepat sehingga pasukan yang berada dalam benteng tidak dapat bergerak kemana-mana.
Di dalam benteng yang sudah tertutup, empat ratus prajurit terperangkap, di semua sisinya terdapat tombak yang melintang horisontal, sehingga tidak mungkin bagi seseorang untuk menaiki tombak tersebut.
Para pemanah sudah siap dari atas, semua anak panah tertuju pada pasukan musuh.
Semua prajurit Hazmut yang terjebak terlihat panik, tak bisa berbuat apa-apa, bahkan dengan senjata mereka.
Jendral belum memberikan komando untuk melepaskan anak panah.
Jendral justru memberi instruksi untuk menahan serangan.
Lalu Jendral mengisyaratkan kepada semua pasukan Drake untuk menutup hidungnya dengan penutup.
Serempak para anak buah Jendral menutup hidung mereka.
Lalu sebuah benda di lempar ke tengah-tengah krumunan prajurit Hazmut yang terjebak.
Benda tadi mengelurkan asap berwarna kuning, dan tak lama berselang mereka semua jatuh pingsan.
Gardden, Leon dan beberapa prajurit benteng Drake keluar dari gerbang.
Mereka seolah ingin berdiskusi dengan pemimpin pihak musuh.
Pangeran Zaimon maju kedepan dengan kudanya yang kokoh, ia tidak turun dari tunggangannya.
“ Dimana pasukanku?” tanya pangeran dengan wajah agak mendongak.
Gardden tidak menjawab, tapi ia melemparkan beberapa helm, pedang dan perisai milik pasukan Hazmut ke hadapan pangeran.
“ Mereka semua kalah “ Gardden memberi kabar..
Pangeran Zaimon membelalakan matanya. Ia sempat terkejut, benteng yang tak sebesar istana kerajaan milik ayahnya, tapi mampu mengalahkan empat ratus pasukannya dalam waktu sebentar saja.
Akhirnya pangeran mengisyaratkan pasukan gelombang kedua untuk maju menyerang.
Tiba-tiba dari dalam gerbang keluar pasukan dengan kapak dan tombak, dengan gagah dan bringas menghalau musuh yang datang.
Pasukan pimpinan Leon bergerak cepat dan menghancurkan barisan pasukan Hazmut, Leon dan pasukannya adalah para pria kuat yang tangguh, badan mereka besar dan kokoh, kekuatan mereka tidak bisa dibandingkan dengan prajurit biasa.
Gardden dan kawan-kawannya ikut menghalau di sisi kanan dan kiri, sehingga tidak ada kesempatan musuh untuk masuk kedalam benteng.
Pangeran yang masih diatas kudanya, berusaha melawan dengan pedang mewah ditangannya, tapi pasukan benteng lebih kuat dan sempat membuat pangeran hampir jatuh dari kudanya, beberapa prajurit Hazmut cepat-cepat melindungi pangeran, dengan perlawanan yang sengit akhirnya prajurit yang setia itu tewas ditangan pasukan Drake.
Separuh pasukan pangeran Zaimon telah tumbang.
Kapten Fedrik cepat-cepat mendekati pangeran, ia meminta pasukannya untuk mundur.
Serangan itu tidak akan berhasil dengan sisa pasukan yang sedikit.
Akhirnya pasukan Hazmut mundur.
Pangeran menoleh kearah Jendral yang berdiri gagah di atas benteng.
Pasukan benteng Drake bersorak merayakan kemenangannya sementara.
*********
Di kerajaan Hazmut.
Di dalam aula kerajaan, Pangeran Zaimon membanting helmnya, lalu duduk di kursi singgasana.
Ia tampak marah dengan kekalahan yang tidak diperkirakannya sama sekali.
Dalam pikirannya, pastilah mudah untuk mengalahkan benteng kecil seperti itu, tapi ternyata dia telah kehilangan banyak prajurit.
Raja yang baru datang hanya menghela nafas. Ia tau jika anaknya mengalami kekalahan walaupun tidak satu katapun yang terucap.
Ayahnya memerintahkan untuk jalan damai.
Peperangan itu hanya merugikan kerajaannya. Karena hanya dipicu oleh hal sepele.
Pangeran yang kondisinya sedang kalut, seolah tidak ingin ditambah kesal dengan ocehan sang Ayah, ia pergi dengan cepat ke kamarnya.
DI dalam kamar, ia dapati Merlin, si peri kecil sedang menatap ke luar jendela.
Merlin kaget dengan kedatangan pangeran yang sedang dalam kondisi marah.
Tapi hatinya serasa ada kegembiraan, apa mungkin itu berarti Jendral memenangkan pertempuran.
Tapi Merlin hanya diam melihat pangeran yang langsung membaring di atas ranjang.
“ Merlin, tolong ambilkan aku minuman “ Pangeran langsung bangun dari berbaringnya.
Tak lama berselang Merlin kembali ke kamar dan memberikan segelas minuman yang diraciknya sendiri.
Pangeran meminumnya.
“ Hmm, minuman ini enak, sangat segar, menenangkan…” sejenak amarah pangeran mulai reda.
" Kau yang membuatnya sendiri?" Tanya pangeran sambil menunjukan gelas berisi minuman tadi.
" Iya..." jawab Merlin perlahan.
Ia menoleh ke arah Merlin, seolah semua penat di tubuhnya hilang sirna.
“ Kenapa kalau aku di dekatmu, aku serasa damai..” pangeran yang ingin menyentuh pipi Merlin mengurungkan niatnya.
“ Merlin…apa kau tau, ini adalah perang untuk mendapatkanmu. Jika aku ingin menikahi wanita bangsawan atau bahkan putri Raja, sangat mudah aku mendapatkannya,
tapi untuk mendapatkan dirimu, aku harus mengorbankan prajuritku, aku harus berperang..banyak yang di korbankan “
Mata Merlin membulat, ia baru sadar, memang untuk dirinyalah Jendral dan pangeran berperang.
‘Apa aku yang menyebabkan perang ini..’ Merlin merasa bersalah pada dirinya sendiri.
“ Yang mulia, bagaimana caranya kau menyudahi perang ini? “ tanya Merlin serius.
“ Sudah terlambat..perang sudah dimulai “
Merlin menghela nafas.
...**********...