Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 56 - RENCANA MENJADI RAJA


Malam hari, di kamar tamu kerajaan. Semua kawan-kawan Jendral telah berkumpul, Jendral menjelaskan masalah yang sedang ia hadapi.


Semua temannya mendukung pernikahan Jendral dengan putri Charlotte, tapi lain halnya dengan Jendral, ia tampak bimbang dengan semua yang terjadi.


“ Aku sama sekali tak menyangka akan menjadi seperti ini. Awalnya kita hanya berkeliling biasa di sini, tapi kenapa sekarang justru aku akan menikah disini?..” Jendral mengeluh pada teman-temannya.


“ Bukankah itu suatu keberuntungan besar Jendral “ Lizo bersuara.


“ Tapi bagaimana dengan Merlin ” Jendral bergumam.


“ Masalah nona Merlin, biar kami bantu menanganinya “ Ziggo menambahkan.


“ Ya Luzen, sementara ini kau hanya perlu memikirkan pernikahanmu, aku juga akan membantu menjelaskan pada Merlin nantinya “ sahut Gardden.


“ Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali Jendral, putri Charlotte sangat pilih-pilih menentukan calon suami, dan kau sangat beruntung karena dipilih olehnya “ Leon juga menimpali.


Seolah mereka tidak merasakan kegalauan di pikiran Jendral.


Jendral hanya menghela nafas kemudian berbaring dengan tangan terlipat di bawah kepalanya, matanya menerawang…


‘ Merlin…sedang apa kau disana,…maafkan aku Merlin, sebenarnya tidak ada keinginanku untuk menjadi Raja tempat ini…’ batinnya bergumam.


“ Hah..Merlin? Raja?..” gumam Jendral dengan suara pelan, ia spontan bangkit dari berbaringnya dan wajahnya berubah seolah bersemangat.


‘ Apa ini yang dikatakan penyihir tua pada Merlin, bahwa ia akan menikahi seorang Raja.. ’ Batin Jendral terus berbicara.


“ Merlin, tunggulah..kau akan menikahi seorang Raja “ Jendral sedikit tersenyum.


Gardden yang melihat tingkah Jendral hanya menoleh sambil mengerutkan kening tanpa bertanya.


Esok hari di kamar Raja Gozan Selatan.


Para petinggi dan penasehat kerajaan, Jendral dan teman-teman, Ryon, dan putri Charlotte menghadap Raja yang memanggilnya beberapa saat yang lalu.


“ Jadi bagaimana Jendral?..apa sudah kau putuskan? Sebaiknya kau tidak membuatku kecewa ” sahut Raja yang bersender pada senderan ranjang.


“ Ya yang mulia, aku menyetujui pernikahan dengan putri Charlotte “ Jendral menjawab dengan nada lebih semangat dari yang kemarin.


Semua yang ada di kamar itu tampak senang dengan keputusan Jendral termasuk putri Charlotte yang kegembiraannya tidak bisa di sembunyikan dari rona wajahnya yang seolah sedang berbunga.


“ Baiklah, aku bisa lega sekarang..jadi Charlotte kapan bisa diselenggarakan pernikahanmu ini? “ Tanya Raja pada putrinya.


“ Aku akan mengurus secepatnya ayah “ sahut putri Charlotte semangat.


“ Maaf yang mulia, bagaimana kalau pernikahan ini dilangsungkan setelah aku kembali dari benua Oleic, aku dan teman-temanku akan pulang sebentar ke Oleic, setelah itu kami akan kembali kesini dan melangsungkan pernikahan “


“ Tapi yang mulia, aku tidak membawa persiapan apa-apa, apa yang harus ku berikan pada putrimu untuk pernikahan nanti? “ Jendral sedikit keras kepala dengan keputusannya.


“ Kau tak perlu berikan apapun untuk putriku, aku hanya menginginkan dia memiliki suami yang dipilihnya, itu saja sudah cukup untukku “


Jendral tak tahu lagi harus berkata apa, ia menoleh kearah Gardden dan teman-temannya, mereka seolah mendukung pernyataan Raja.


“ Baiklah, lagi-lagi aku menuruti keinginanmu yang mulia “ sahut Jendral pasrah.


“ Untuk Ryon dan para petinggi kerajaan, urus pernikahan mereka secepatnya, Untuk para penasehat, sekarang juga tulis undangan ke seluruh kerajaan di Benua Hitam “. Perintah sang Raja.


Dua hari kemudian, seluruh penghuni kerajaan sibuk dengan persiapan pernikahan sang putri Raja dengan Jendral Luzen yang diadakan besoknya, memang sangat mendadak dan waktu yang sangat singkat.


Hampir seluruh dekorasi mewah telah siap di sudut-sudut istana.


Jendral yang tengah melewati dekorasi mewah dengan lalu lalangnya para pengawal, dayang istana dan juga para petinggi kerajaan, ia serasa tidak percaya, semua kemewahan ini adalah untuk merayakan pernikahannya dengan seorang putri Raja.


Pria itu menggeleng dan berlalu ke ruangannya, disana ia menemui Gardden yang sedang berbicang dengan Ryon dan salah satu penasehat kerajaan yang sudah agak tua dengan jubah serba putih.


“ Ryon?..” sapa Jendral sedikit heran dengan kehadirannya disana.


“ Jendral, kebetulan, dari tadi aku dan tuan Meld mencarimu, bisa kita bicara sebentar “ sahut Ryon.


“ Ya tentu, ada masalah apa ?”


“ Aku hanya ingin menyampaikan kebiasaan penerimaan tamu dari anggota kerajaan yang nanti akan datang, bagaimana cara anda menyambut mereka dan lainnya, dan tuan Meld yang akan mengajarkannya padamu “


“ Apa harus diatur seperti itu? “ Tanya Jendral.


“ Yah, kau akan menjadi calon Raja tuan Luzen “ orang tua yang dipanggil Meld bersuara.


“ Oya Jendral, dia adalah penasehat kerajaan, tuan Meld, ia sudah melayani kerajaan ini lebih dari dua puluh tahun “ Ryon memperkenalkan tuan Meld pada Jendral. Merekapun bersalaman.


“ Kau sangat beruntung Jendral “ sahut tuan Meld.


“ Sebenarnya Itu tidak seberuntung yang kau pikirkan tuan Meld “ sahut Jendral.


“ Tuan Meld, Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti masalah ini, aku hanya orang asing disini yang akan menikah dengan putri kerajaan, apakah bisa aku menjadi Raja? Bukankah seharusnya putri Charlotte yang menjadi Ratu dan memiliki kekuasaan tunggal di kerajaan ini, karena dialah yang memiliki darah pewaris kerajaan ” Tanya Jendral.


“ Ya, memang putri memiliki darah kerajaan, tetapi kebiasaan dari Raja-Raja sebelumnya di Gozan Selatan adalah, kerajaan ini belum pernah dipimpin oleh seorang Ratu, karena wanita tidak diperkenankan memimpin di kerajaan ini, jadi kalaupun keturunan kerajaan adalah seorang wanita, maka kepemimpinan akan diserahkan kepada suami dari wanita tersebut, walaupun nantinya wanita tersebut wafat, maka kepemimpinan masih diserahkan pada suami atau anaknya, jadi bisa dikatakan kekuasaanmu akan mutlak di kerajaan ini jendral “ jelas tuang Meld.


Jendral mengangguk mencoba mencerna.


“ Jadi, mari kita mulai pelajaran singkatnya..” sahut Ryon. Jendral hanya menghela nafas, ia malas dengan hal semacam ini.