
Mata Jendral Luzen sedikit terbuka, ia memincingkan matanya terpapar sinar mentari yang hangat.
Kicau burung sahut bersahut di udara. Jendral baru tersadar bahwa ia tidur dengan lelapnya di pangkuan Merlin.
Tapi sebelum ia menoleh ke arah Merlin, matanya membelalak, jantungnya berdegup kencang, khawatir mulai menggerayang keseluruh tubuhnya, ketika diangkat jemarinya,
ia melihat bercak darah di badannya, di tanah, juga jauh di depannya ada seekor hewan yang mati dengan mengenaskan.
Jendral langsung bangkit dari posisinya dan melihat keadaan Merlin.
“ Nona!!..nona..nona Merlin..kau tidak apa-apa?” Jendral melihat keadaan Merlin yang pucat, lemah dengan mata sayu setengah terbuka.
Merlin tersenyum dan matanya yang biru masih bisa menatap Jendral yang sedang panik dan bingung dengan apa yang terjadi.
“ Ka-u..su-dah ba-ngun tu-an?…” suaranya lirih, lalu menipis dan gadis itu pingsan seketika.
Jendral yang masih bingung dengan semuanya yang ia alami, berdiri dan menggendong tubuh Merlin menuruni bukit keluar hutan.
Ketika di dalam desa, semua pria yang ada disana khawatir dengan kondisi Merlin dan Jendral yang berlumuran darah.
Merlin di tampatkan di ranjang mungilnya di dalam kamarnya yang sederhana. Mereka menunggu Merlin sadar.
Sehari semalam Merlin membuat khawatir para penghuni desa, akhirnya Merlin membuka matanya perlahan.
Dengan samar-samar ia melihat Jendral Luzen, Ghose, Harlmon, Dude, Gardden, dan beberapa pria berdiri menunggunya. Di tubuhnya selimut bulu berwarna coklat membentang menghangatkannya.
“ Nona, kau sudah sadar? “ Harlmon memberikan Merlin segelas air hangat.
“ Terimakasih tuan Harl “ jawab Merlin perlahan.
“ Merlin, apa yang terjadi padamu?” nampak kekhawatiran di wajah Jendral, ia berlutut di samping ranjang kayu tempat Merlin berbaring.
“ Tuan, apa kemarin kau tidur nyenyak tanpa mimpi buruk?” Merlin belum menjawab pertanyaan, ia menanyakan hal lain pada Jendral.
Jendral langsung teringat, kemarin ia tertidur dengan nyenyaknya, tidur yang nikmat dan pulas yang selama ini belum ia rasakan lagi.
“ Ah, iya..aku tidur dengan nyenyak, tanpa bermimpi buruk. Lalu apa yang terjadi denganmu ?” Jendral menanyakan hal yang sama.”
“ Aku sengaja memberimu jamur tidur agar tuan bisa tidur dengan nyenyak. Tapi ketika malam agak larut, dua ekor heyna menghampiri.
Aku tidak ingin membangunkan tuan, aku bertahan dan menghalaunya agar tuan tidak diserang, jadi dia mengigit tanganku, dan yang satu lagi masih menunggu di depanku “
“ Kenapa kau tidak membangunkanku? “ tanya Jendral seolah gemas dengan kelakuan Merlin yang membiarkannya tertidur sementara Merlin sedang berjuang bertahan dari hewan buas.
“ Aku tidak ingin mengganggu tidurmu tuan “ jawab Merlin melirik kearah Jendral.
“ Lalu, apa yang terjadi?” tanya Gardden penasaran.
“ Ketika aku sudah tidak kuat menahan sakit dari gigitan hewan itu, aku merasa seperti berubah menjadi binatang buas atau monster, aku juga tidak mengerti..sepertinya aku menjadi lebih kuat..yang jelas heyna yang menggigitku langsung lari ketakutan, dan aku tidak mengerti bagaimana aku bisa membunuhnya dari tempatku, hewan itu terpental dan mati.
Sedangkan yang satu lagi lari ketakutan melihatku, dan ketika aku melihat Jendral di pangkuanku, aku menjadi lemah kembali, aku mencoba untuk tidur, tapi tidak bisa, karena pendengaranku menangkap semua suara disekitarku. lalu aku tidak sadar ketika Jendral bangun “
Mereka yang mendengarkan saling melempar pandangan satu sama lain. Jendralpun bingung dengan penjelasan Merlin.
“ Yasudah, lebih baik kau beristirahat dulu Merlin “ Jendral menutupkan selimut coklat ke dadanya dan mengisyaratkan semuanya untuk keluar dari kamar Merlin.
Harlmon menemani Merlin, dan mengambil sebuah kursi. Ia menatap wajah gadis lugu itu. Lalu Merlin menoleh kearahnya.
“ Tuan Harl, apa kau percaya dengan ceritaku tadi?” Merlin tiba-tiba bertanya.
“ Ahh..ya.., em, ya aku percaya nona “ jawab Harlmon agak kikuk.
“ Benarkah?, tapi itulah yang terjadi tuan, kau tau..aku merasakan gigiku menjadi tumbuh dan bertaring, aku sempat merasakan sesuatu ada yang tumbuh di atas keningku, aku juga bingung apa yang terjadi padaku “
“ Benarkan, kau tidak akan percaya apa yang ku katakan..sudahlah..” seperti anak kecil, Merlin menarik selimutnya dan membelakangi Harlmon. Harlmon hanya menghela nafas.
Di luar, semua pria berkumpul. Jendral ingin menyampaikan sesuatu. Jendral mengatakan pada semua yang baru bergabung di desa itu agar tidak berkhianat dan tidak menjadi pencuri, apalagi menyakiti sesama penghuni desa, juga tidak menceritakan kepada orang luar tentang apa yang ada di desa.
Hukuman bagi yang melanggar aturan akan langsung di penggal, jika ia lari maka akan dicari sampai orang tersebut menerima ajalnya.
Ketika semua menyetujui maka Jendral memulai memasuki tambang berlian dengan beberapa pria untuk menggali.
Di lain sisi, beberapa pria menyiapkan beberapa alat di sebuah tempat yang sudah di siapkan untuk menempa pedang, besi dan alat perang lainnya.
Siang itu desa tampak ramai dengan para pria yang memiliki pekerjaannya masing-masing.
...*********...
Lima bulan sudah mereka lewati, kini desa jauh semakin berkembang.
Di pusat kota, mereka membuka toko perhiasan, toko peralatan perang, toko kulit dan bulu, juga susu beserta olahannya.
Desa mereka kini hampir mendekati sebuah benteng yang kokoh, dan bangunan yang sudah lengkap di dalamnya. Yah, itu bukanlah lagi sebuah desa, melainkan sebuah benteng.
Dengan bangunan tembok mengeliling membentuk persegi panjang yang kokoh. Di tiap sisinya ada menara pengintai, rumah-rumah juga sudah dibangun di dalamnya, tapi masih ada yang kurang dari benteng itu….sebuah nama dan wanita….
Mereka berkumpul di aula besar di tengah bangunan. Mereka merencanakan sebuah nama untuk benteng yang telah mereka buat. Beberapa nama telah di ajukan, tapi masih saling berbeda pendapat.
Akhirnya mereka bersepakat memberi nama untuk benteng mereka dengan nama DRAKE yang berarti Naga.
Lalu mereka mengusulkan untuk membeli beberapa budak dan membebaskannya lalu para budak diminta untuk tinggal disana.
Sebagian dari mereka ke pusat kota untuk membeli budak dan melihat-lihat, termasuk disana adalah Jendral Luzen dan Merlin.
“ Aku sudah terbiasa berjualan tuan, rasanya tidak enak kalau santai seperti ini” Merlin yang memakai jubah coklat menggenggam pinggir jubahnya.
“ Sudahlah, aku sudah bilang berapa kali padamu, tidak perlu berjualan lagi, cukup para pria yang berjualan di luar, kau cukup mengurus kami di benteng “ Jendral menasehati Merlin layaknya seorang ayah.
“ Jendral, lihat disana “ Gardden berbisik kepada Jendral sambil menunjuk kecil seorang wanita cantik, rambutnya berwarna kuning keemasan, yang sedang di kurung dalam krangkeng kecil, yang tingginya hanya seukuran dada orang dewasa. Si wanita hanya bisa duduk karena memang tidak mungkin untuk berdiri.
Mereka menghampiri wanita tersebut. Ternyata dia adalah budak yang sedang dijual.
Segera setelah Jendral menghampiri kurungan tersebut, penjual dengan semangatnya menawarkan dagangannya itu, dan menyebutkan bahwa yang di dalam kurungan adalah budak dengan harga mahal.
Wanita di dalam kurungan tersebut melihat kearah Jendral, seolah ingin di bebaskan.
Setelah berdiskusi dengan kawan-kawannya, akhirnya mereka membeli budak wanita tersebut.
Beberapa saat berlalu, akhirnya mereka mengumpulkan dua puluh orang budak yang mereka beli di hari itu dan akan di bebaskan. Sepuluh pria kuat, sepuluh lagi wanita.
Sesampainya di benteng, mereka para budak sangat berterima-kasih pada Jendral dan teman-temannya karena telah membebaskan mereka, dan memberinya tempat tinggal. Mereka bisa tinggal untuk sementara satu rumah beberapa orang.
Wanita cantik berambut kuning keemasan tadi menghampiri Jendral.
“ Terimakasih tuan, atas kebebasan kami. Aku akan berjanji untuk setia padamu. Oya, namaku Oris “
“ Ah, ya..baiklah..istirahatlah “ Jendral melempar senyum kepada wanita tadi yang bernama Oris, dan ketika si wanita berlalu dari kejauhan Merlin menatap Jendral dengan wajah serius dan bibir yang terkatup.
“ Ehm, Jendral…sebaiknya kau siap-siap pusing..jika terlalu banyak wanita, maka akan banyak juga masalah “ Dude yang tiba-tiba ada di samping Jendral, berbisik dan mengisyaratkan matanya ke Merlin yang tengah melihat kearah Jendral.
“ Hmm…Merlin, gadis polos itu..” bisiknya pelan. Jendral tersenyum kepada Merlin. Merlin agak kaget dan langsung berbalik kearah berlawanan yang membuat Jendral malah tertawa ringan.
...**********...