Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 6 - PERJALANAN KE DESA


Dingin salju tidak separah yang kemarin, mereka masih bisa melakukan perjalanan ke desa yang kemarin Merlin ceritakan.


Tidak semua pria ikut, hanya sebagian yang ikut melakukan perjalanan bersama Merlin, sebagian lainnya menunggu dirumah, karena mereka juga pergi menggunakan kereta karavan yang ditarik kuda yang hanya muat untuk beberapa orang saja. Biasanya kereta itu Merlin gunakan untuk mengangkut obat-obatan yang akan di jual ke pusat kota.


Didalam kereta karavan, disana para pria dengan mantel tebal berlapis, dilengkapi pedang dan kampak, mereka duduk berjejer di sisi kanan dan kiri, masing-masing empat orang, dan satu orang di depan yang memegang kemudi. Merlin duduk diantara tiga pria di sisi kiri, sedangkan jendral duduk di sisi kanan, dan dia berada paling pinggir, sehingga badannya condong ke arah luar dan tangannya memegang atas terpal penutup karavan..


“ Nona, bukankah daerah di selatan sana sudah masuk wilayah kerajaan Hazmut?, apakah pusat kota yang kemarin nona maksud itu didalam wilayah kerajaan Hazmut?”


Dumor, pria berbadan tinggi besar yang duduk di depan Merlin bertanya sambil memeluk pedangnya.


“ Iya, memang itu pusat kota kerajaan Hazmut, dan desaku juga masih berbatasan dengan wilayah Hazmut, tapi desaku jarang di kunjungi orang dari sekitar kerajaan dan tidak mendapat perhatian dari pihak kerajaan, karena kerajaan menilai desaku bukan lagi wilayah mereka, jadi desaku berdiri sendiri “


“ Bagaimana jendral? Apa masih aman untuk kita?”pria tadi bertanya kepada jendral yang berwajah dingin yang sedang menyimak jalanan.


“ Yah, aku rasa cukup aman. Kerajaan Hazmut tidak akan mengganggu jika tidak diusik”


Perjalanan yang agak berliku, mereka berjalan ke tempat yang terasa agak hangat, cuacanya agak berbeda di daerah itu dengan cuaca dingin di sekitaran rumah Merlin.


“ Berapa jauh lagi ? “ Jendral bertanya pada Merlin.


“ Tidak jauh lagi “ jawab Merlin yang memakai baju panjang dan mantel coklat tebal.


Para pria merasa mereka sudah cukup jauh menyusuri jalan, dan dari beberapa saat yang lalu dengan pertanyaan yang sama, Merlin selalu menjawab ‘tidak jauh lagi’.


Akhirnya mereka sampai di desa bekas klan Harbirt dulu. Mereka turun dari kereta, dan melihat sekeliling.


Mereka perlahan memasuki desa, langkah demi langkah, yang di temukan hanya puing dan reruntuhan.


Yah, semua sudah berantakan, ada sisa abu bekas pembakaran yang menempel di tanah, juga puing dan kayu yang bergeletakan tak beraturan.


“ Sepertinya kita harus kerja keras” Dumor menendang beberapa kayu yang tergeletak.


“ Kau tak apa-apa nona?” jendral menatap Merlin yang sedang mengamati sekeliling.


“ Tidak jendral, aku baik-baik saja. Aku meninggalkan desa ini ketika masih kecil, dan aku tidak sempat melihat bagaimana keluargaku di bunuh “


“ Itu menyakitkan..” jendral bergumam dan berlalu, Merlin hanya menatapnya dari belakang.


**********


Akhirnya mereka bersepakat untuk tinggal di desa itu, karena desa tersebut cukup besar, nyaman, dekat dengan sungai dan hutan, juga dekat dengan pusat kota, jadi memudahkan mereka jika ingin menjual sesuatu untuk mencari penghasilan.


Sebagian pria tinggal semalaman di desa tak perpenghuni itu tidak ikut kembali ke rumah Merlin, karena besok pagi semua prajurit akan di bawa ke desa itu.


Hanya tiga orang yang kembali ke rumah Merlin, jendral Luzen, Merlin dan pria berbadan besar agak pendek yang menjadi kusir.


Di dalam kereta, Merlin dan jendral hanya diam. Sepanjang perjalanan Jendral seperti tidak ingin mengetahui apa-apa tentang Merlin, dan Merlin agak segan untuk memulai bertanya, karena sikap jendral yang agak dingin.


Akhirnya Merlin berbincang dengan pria berbadan gemuk di depan yang sedang menggenggam kendali kuda.


Merlin Gadis yang supel, ia mudah akrab dengan orang yang diajaknya bicara, terbukti si prajurit yang menjadi kusir terlihat tertawa lepas dan banyak bercerita ketika berbicara dengan Merlin. Tapi untuk berbicara dengan jendral, Merlin masih canggung, karena sikap jendral yang membuat Merlin enggan atau malah takut untuk mendekat memulai pembicaraan.


Mereka berbincang hingga cuaca sudah agak redup, petang menjelang. Merlin sudah mengantuk, ia tertidur di kursi kereta, sedangkan jendral di depannya hanya melihat ke arah luar. Jendral akhirnya sedikit melirik kearah Merlin yang sedang tertidur dengan mendekap mantel coklatnya. Jendral menatapnya dari tempat ia duduk. Agak lama jendral menatap kecantikan gadis itu, dan wajahnya yang polos ketika tertidur.


...**********...


Sesampainya di rumah sederhana Merlin, para pria berembuk prihal tempat yang akan mereka tinggali nantinya. Dan mereka meminta Merin untuk ikut bersama mereka tinggal di bekas desanya yang dulu. Awalnya Merlin menolak, karena sudah nyaman dirumahnya yang sekarang, tapi disana mereka sangat membutuhkan bantuan Merlin. Akhirnya jendral Luzen angkat bicara.


“ Aku minta padamu nona, tolong ikutlah bersama kami, lagi pula bukankah lebih dekat jarakmu untuk berjualan di pusat kota? “


“ Tapi aku…” rasanya kali ini Merlin tidak dapat menolak permintaan dari jendral.


“ Baiklah…aku ikut dengan kalian” para pria merasa lega dengan keputusan Merlin.


Pagi-pagi buta semua telah di persiapkan dan dimasukan kedalam kereta karavan. Merlin membawa semua perlengkapan obat-obatan dan kebutuhannya. Di belakangnya, terlihat dua ekor srigala yang menatapnya, seolah tidak ingin Merlin pergi, mereka melolong pilu.


“ Bolehkah aku membawa mereka?” tanya Merlin kepada para laki-laki disana.


“ Tapi bagaimana kau membawanya nona? Kereta ini sudah cukup penuh” salah satu pria melihat kedalam kereta.


Merlin terlihat senang dan memeluk dua serigala di hadapannya itu. Seperti anjing yang penurut, dua serigala menggoyangkan ekor mereka, menandakan senang.


Di tengah perjalanan, kereta karavan tiba-tiba berhenti, para pria yang berada di dalam kereta mencoba mencari tau.


“ Hei Ghose, ada apa? “ tanya Jendral pada temannya yang didepan sebagai kusir.


“ Sepertinya ada perampokan jendral “ Lalu mereka turun, hanya Merlin yang tetap di dalam kereta.


Benar saja, di depan mereka sebuah kereta kuda terlihat agak mewah, sepertinya sedang dalam masalah, beberapa pria mengenakan kain yang digunakan sebagai penutup mulut, dan beberapa lagi memakai mantel kulit yang wajah mereka terlihat sangar. Para pria disana seperti sedang menjarah barang yang ada di dalam kereta kuda.


Ada teriakan wanita di dalam kereta, yang meminta agar barangnya jangan diambil.


Jendral dan dua temannya menghampiri mereka, yang lain hanya santai berdiri di sisi kereta, karena sepertinya mereka bukan lawan yang berat.


“ Hey!, sebaiknya kau kembalikan yang bukan milikmu “ Jendral menyapanya kasar.


“ Apa urusanmu?!” pria berbadan besar yang sedang memegang sekotak kayu, melotot dan menaruh kotak tersebut di tanah, lalu tanpa basa-basi dengan cepat ia menyerang jendral menggunakan pedang yang cukup besar .


Dengan sigap jendral menghindar lalu mengeluarkan pedangnya dan menebas lengan si perampok dengan sangat cepat, tak memakan waktu beberapa detik, darah mengucur tak karuan, dan teriakan kesakitan menggelar terdengar.


Dua kelompok pria bertarung, dengan skil dan kekuatan yang tak seimbang, sepertinya cuma butuh beberapa gerakan saja para bandit sudah di bereskan dengan mudah. Yah, siapa yang mengira bahwa lawan si bandit adalah jendral tersohor di dua kerajaan besar.


Sebagian perampok pingsan, dan sebagian lagi lari hingga tak terlihat lagi.


Jendral menghampiri dan melihat ke dalam kereta, ternyata didalam ada dua orang wanita dengan gaun indah, sepertinya wanita itu adalah bangsawan.


“Kalian baik-baik saja nyonya?” tanya jendral dengan suara beratnya.


“ Ah, iya, kami baik-baik saja, ter….” salah satu dari wanita itu belum selesai berucap, tapi jendral hanya mengangguk dan berlalu.


Kemudian jendral kembali ke arah teman-temannya berdiri dan mengisyaratkan kepada kawannya untuk berbicara kepada dua wanita di dalam kereta, seolah jendral enggan berurusan dengan wanita bangsawan itu. Kemudian prajurit didikan jendral itu menemui dan berbicara dengan wanita yang akhirnya turun dari kereta kuda.


Setelah mereka membereskan gangguan kecil tadi, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan.


“ Hey, sepertinya kita akan punya pekerjaan..” pria yang tadi berbicara dengan wanita bangsawan, semangat mengabarkan. Ia berambut hitam dan berhidung agak bengkok macam burung beo.


“ Maksudmu?” tanya pria disampingnya penasaran.


“ Wanita itu memerlukan pengawal bayaran, untuk menjaga mereka ketika berpergian. Pengawal bayaran tidak bekerja penuh, hanya jika mereka memerlukan mereka akan memanggilnya”


“ Mereka tinggal dimana?” tanya Gardden


“ Masih diI wilayah kerajaan Hazmut, mereka istri dan anak gubernur ”


“ Yoss!!! kapan kita mulai bekerja..” pria yang lain ikut bersemangat.


“ Sebaiknya kita pikirkan itu nanti di desa” Jendral menimpali.


“ Oya Jendral, wanita tadi menitipkan salam padamu, katanya ‘ Tolong sampaikan terimakasihku pada pria tadi yang menolong kami ‘ “ pria berhidung bengkok menirukan suara wanita.


“ Lain kali kalau bertemu wanita kau harus tutup wajahmu dulu jendral, para wanita suka tergoda dengan model wajah sepertimu ” dan mereka semua tertawa. Jendral hanya tersenyum dengan sudut bibirnya, matanya tak sengaja melirik Merlin yang juga ikut tertawa.


*********


Di desa, semua telah berkumpul. Lalu mereka mulai membereskan segala sesuatunya, mereka merencanakan membangun benteng sederhana dengan sisa bahan yang ada, juga ruangan untuk berkumpul dan beberapa ruang kamar, terutama untuk Merlin.


Benteng kayu telah rampung, berjejer mengeliling sebatas desa, juga dua ruangan sudah siap digunakan walau belum sempurna, satu ruang utama untuk berkumpul dan satu tempat beristirahat. Pekerjaan mereka lumayan cepat selesai karena jumlah mereka yang agak banyak untuk di pekerjakan dalam satu hari.


Malam melebarkan gelapnya, dingin udara masih terasa, tapi tidak sedingin di tempat Merlin sebelumnya. Di ruangan yang telah rampung tadi mereka bangun, mereka berdiskusi, bercengkrama walaupun lelah tampak jelas di wajah mereka.


“ Tuan, apa kalian tidak takut membawaku kesini? Bukankah aku dikabarkan pembawa bencana?” Merlin bertanya kepada Gardden yang tengah santai memaikan belatinya yang berlapis tembaga.


“ Hahaha…bukankah itu bagus nona, jadi kita tidak perlu capek membuat malapetaka, hahhaha..” Garden membuat candaan, entah apa maksud Gardden, Merlin kurang mengerti, tapi sepertinya mereka memang tidak takut akan rumor itu.


Mereka berdiskusi tentang pekerjaan yang akan mereka kerjakan selanjutnya untuk mencari penghasilan.