Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 19 - PENJEMPUTAN


Di dalam kamar, tubuh Merlin bergetar, wajahnya pucat dan berkeringat. Ia membayangkan yang paling buruk akan terjadi pada dirinya…ingin rasanya ia berteriak memanggil Jendral dan kawan-kawannya untuk menolongnya.


Pangeran telah berdiri di hadapannya, pria itu memegang pundak Merlin lalu melemparnya ke atas ranjang. Pria itu tersenyum penuh hasrat, ia mulai membuka jubah mewahnya.


“ Kau akan tinggal disini cantik…dengan melakukan hal ini kau tidak akan pergi dari istana ini..benar kan?” Pangeran mulai melangkah mendekati Merlin, tapi Merlin cepat-cepat menghindar dan turun dari ranjang.


“ Aku cuma tabib, aku bukan wanita seperti itu pangeran!” mata Merlin mulai berkaca-kaca..ia sangat takut. Di dalam kamar itu, layaknya tikus yang lari berusaha menyelamatkan diri dari kejaran kucing yang hanya bermain-main.


“ Ssssttt…kemarilah peri kecil..” pangeran mengisyaratkan jeri telunjuknya ke bibirnya tanda jangan berbicara.


“ Kau memang bukan wanita rendahan, dan aku memang tidak selera dengan wanita seperti itu, aku menyukai wanita sepertimu…apa kau tidak mau menjadi calon Ratu di kerajaan ini?” pangeran terus mendekati Merlin yang sedang gemetar.


Akhirnya dengan kecepatan pangeran, Merlin dapat di taklukan di tangan pria itu.


Merlin di baringkan dengan paksa di atas ranjang, bajunya mulai di singkap oleh pria yang sudah ada di atasnya itu. Merlin memukuli dada pria itu, tapi sepertinya hal itu tak berpengaruh pada pria yang sedang berhasrat tinggi.


Tetapi hal aneh terjadi, bola mata Merlin yang tadi biru berubah menjadi merah, tapi tiba-tiba…


Suara ketukan pintu yang cepat dan keras membuyarkan niat pangeran.


Perubahan yang terjadi pada mata Merlin belum disadari oleh pangeran.


“ Aaarrggh!!! Siapa itu!!!” pangeran dengan marah menoleh sambil membentak kearah pintu.


“ Pangeran, di luar istana sudah berkumpul pasukan dengan senjata lengkap, aku diperintahkan yang mulia Raja untuk menjemputmu dan menemui pasukan di bawah sana ”dari luar pintu kamar, seorang pengawal memberi kabar.


Dengan kesal pangeran meninggalkan Merlin di atas ranjang dan menyambar jubah kerajaannya, lalu berjalan cepat keluar kamar.


Merlin yang masih di atas ranjang, merasa ada yang aneh dengan dirinya..ia menyentuh dahi kirinya, dan…’ Ah..apa ini? ‘, Merlin langsung berlari kearah cermin, ia mendapati dirinya seperti monster, tidak..tapi seperti iblis.


Sebuah tanduk kecil tumbuh di dahinya, dan ketika ia menyeringai, gigi taringnya memanjang dan runcing.


Matanya membesar, ingin rasanya Merlin melompat ke bawah..


“ Itu Jendral…itu Jendral dan kawan-kawan!! ” Merlin tidak dapat membendung tangisnya ketika melihat wajah-wajah yang ia sangat kenal sedang berada di atas kudanya, menjemput dirinya.


Dengan cepat ia lari menuju lorong kastil dan menuruni tangga, lalu menuju pintu gerbang istana.


Di depan gerbang istana, Raja mencoba mencerna situasinya, tapi pangeran terus memaki Jendral dan pasukannya.


Jendral hanya meminta bertemu dengan Merlin dan memintanya untuk di pulangkan.


Tapi pangeran menolak dengan keras, dia mengatakan bahwa Merlin tidak ingin pulang, dan ingin tinggal di kerajaan.


Jendral tidak percaya begitu saja. Ia berusaha berdiskusi secara baik-baik dengan Raja dan pangeran, tapi lagi-lagi pangeran mengelak dan menyuruh mereka untuk pergi dan tidak membuat kekacauan.


Sampai akhirnya, dari kejauhan Merlin berlari menuju luar istana ingin bertemu Jendral. Ia meneriakan nama Jendral, dengan air mata yang tumpah. Ia baru menyadari bahwa dirinya sudah berubah normal seperti semula.


“ Jendral!!!…kawan-kawan!!!..bawa aku pergi!! “ teriakan Merlin membuat Jendral dan kawan-kawannya khawatir. Tapi Merlin di halangi oleh para pengawal kerajaan.


Jendral yang melihat kondisi Merlin saat itu walaupun tak terlalu jelas karena terhalang para pengawal, tapi ia menyadari ada sesuatu yang terjadi dengan Merlin.


“ Hey! Lepaskan dia!!” Jendral turun dari kudanya, di ikuti beberapa pria di belakangnya. Jendral melepaskan pedang dari sarungnya, dan menghunuskannya kedepan.


Tapi Merlin malah di bawa paksa ke dalam istana oleh pangeran, Merlin di gendong dengan posisi telungkup. Dari kejauhan Merlin terus berteriak memanggil Jendral.


Spontan Jendral dan pasukannya berlari ingin menyerang pasukan kerajaan. Tapi Jendral sedikit terlambat dengan pintu gerbang besi kerajaan yang terlanjur turun menutup menghalangi antara Jendral dan kerajaan.


“ HEY!!..KERAJAAN HAZMUT!!! AKU NYATAKAN PERANG DENGAN KERAJAAN INI!!”


Jendral berteriak sambil menancapkan keras pedangnya di tanah.