Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 17- PANGERAN


Tak lama berselang, seseorang di atas menara berteriak bahwa ada beberapa orang yang datang, sepertinya prajurit kerajaan.


Akhirnya Jendral membolehkan orang tersebut masuk gerbang. Jendral melangkah cepat menemuinya, diiringi beberapa orang pria di belakangnya.


“ Kalian prajurit dari kerajaan mana ?, ada perlu apa kesini? ” Jendral langsung mengintrogasi para prajurit yang datang tadi.


“ Maaf tuan, tadi aku mengikuti wanita yang biasa berjualan obat di pusat kota, ternyata dia tinggal disini. Aku sengaja mencari tabib untuk mengobati penyakit Pangeran Zaimon, anak Raja Ell kerajaan Hazmut ”


Merlin mendekati Jendral.


“ Maksudmu wanita ini ?” Jendral menunjuk Merlin.


“ Iya benar tuan. Sudah lebih dari sepekan Pangeran tidak sembuh dari sakitnya, beberapa tabib juga sudah memeriksa dan menyerah, akhirnya orang-orang di pusat kota menyarankan kepada pihak kerajaan untuk mencari wanita penjual obat yang juga bisa mengobati penyakit, karena obat yang dibuat wanita ini sangat manjur untuk masyarakat di kota “


“ Jadi kau meminta dia untuk datang ke istana dan memeriksa Pangeran?” Jendral bertanya lagi.


“ Iya benar tuan “


Jendral lalu berdiskusi kepada Merlin dan yang lain, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke kerajaan Hazmut, tetapi karena Jendral takut dikenali, maka Jendral tidak ikut bersama Merlin. Merlin di temani tiga orang pria saja.


Akhirnya Merlin berpamitan pada Jendral dan teman-temannya.


“ Maaf aku tidak bisa menemanimu, jaga dirimu baik-baik..” Jendral mengelus kepala Merlin dengan lembut.


Merlin tersenyum lebar, tersirat kesedihan karena akan berpisah untuk sementara waktu, tetapi sekaligus berbunga karena Jendal untuk yang kesekian kalinya menyentuhnya.


Akhirnya mereka berkuda menuju kerajaan Hazmut.


Sesampainya di kerajaan Hazmut. Di depan gerbang kerajaan, terjadi perdebatan, karena yang boleh memasuki istana hanya tabib saja, selainnya tidak diperkenankan masuk istana.


Merlin sempat memohon kepada penjaga kerajaan agar tiga temannya diperbolehkan masuk menemaninya, tapi penjaga bersikeras sampai ingin memanggil prajurit yang lain.


Akhirnya tiga pria yang mengantar Merlin mengalah, ia meninggalkan istana Hazmut dan membiarkan Merlin mengobati Pangeran seorang diri.


Di dalam kerajaan yang mewah, Merlin di perkenalkan pada Raja dan Ratu kerajaan Hazmut. Merlin menunduk anggun.


“ Siapa namamu tabib? “ tanya Ratu yang duduk di singgasananya.


“ Namaku Merlin yang mulia Ratu “


“ Kau sangat cantik…dari mana asalmu?”


“ Aku cuma penduduk desa biasa yang mulia, aku tinggal di perbatasan pusat kota “


“ Baiklah, pengawal antarkan dia ke kamar pangeran “


Merlin memasuki kamar mewah, dengan karpet bludru merah tua yang menghampar. Di atas ranjang mewah terbaring seorang pria berwajah tampan, diselimuti selimut bulu tebal berwarna putih.


Merlin mendekatinya, pria itu menutup matanya. Lalu pengawal minta izin untuk keluar. Merlin bingung untuk memeriksa seseorang yang sedang tertidur. Akhirnya ia menunggu di kursi sampai pangeran itu bangun dari tidurnya.


“ Ah, maaf yang mulia, aku Merlin, tabib yang diminta untuk mengobatimu “ Merlin buru-buru berdiri dan agak menunduk di depan pangeran.


“ Ah ya..periksalah tabib..” Pria itu kembali menutup matanya sambil berbaring santai. Ia mengenakan piyama mewah berwarna emas.


Merlin agak canggung untuk memeriksanya. Entah kenapa jauh lebih nyaman ketika dia memeriksa Dude dan Harlmon.


Merlin mulai memeriksa nadi pangeran, memeriksa suhu tubuhnya dan ketika ia ingin memeriksa detak jantungnya,, Merlin terdiam ragu.


‘ Bagaimana aku harus memeriksanya ‘ batinnya bergumam.


“ Em, maafkan aku yang mulia..tapi aku harus memeriksa detak jantungmu, aku harus mendengarnya di telingaku “ Merlin meminta dengan canggung.


“ Yah, periksalah..” Pangeran itu merentangkan tangannya dan membuka sedikit kancing kemeja piyamanya “ Merlin tambah ragu melihat dada pria itu terbuka, ia ingin sekali memalingkan wajahnya karena malu.


“ Maaf, sepertinya tidak perlu , sudah cukup, aku akan mendengar keluhanmu saja “


Akhirnya pangeran menjelaskan keluhannya selama ini. Merlin mencoba mencerna dan menerka-nerka apa sebenarnya penyakit yang dialami pangeran.


Akhirnya Merlin memberi beberapa obat herbal untuk penenang dan untuk peredaran darah, karena sepertinya pangeran Zaimon jarang berjemur.


Dua hari Merlin merawat pangeran Zaimon. Keadaan pangeran berangsur membaik. Merlin diminta untuk berada disana sampai pangeran benar-benar sembuh.


Merlin mendatangi kamar pangeran untuk memberi ramuan herbal yang sudah di raciknya. Ia menaruh gelas di atas meja sebelah ranjang pria itu. Tiba-tiba…


Pangeran menggenggam tangan Merlin. Merlin kaget hampir-hampir menjatuhkan gelas tadi.


“ Aahh.. ya-yang mulia, aku kira anda sedang tidur..maaf mengganggu “ Merlin buru-buru menunduk dan ingin berlalu keluar, tapi tangan pangeran lebih cepat menggenggam kembali lengan mugil Merlin, dan pria itu bangkit dari berbaringnya, kali ini ia duduk sambil masih menggenggam tangan Merlin.


“ Sebentar Merlin “ sanggah pangeran dengan cepat.


“ Aku ingin kau disini dulu..” pangeran menarik tangan Merlin sehingga tubuhnya juga ikut terbawa.


“ Tunggu...” Merlin tampak tidak suka dengan keadaan itu. Keningnya langsung berkeringat, jantungnya berdegup kencang. ‘ Apa yang ingin dia lakukan ‘ tanya Merlin membatin.


Karena Merlin kini telah berada di pinggir ranjang, bersebelahan dengan pangeran.


“ Ada apa yang mulia ? apa ada keluhan lagi?” Merlin bertanya walaupun terdengar basa basi.


“ Ya, ada..keluhannya aku ingin kau disini dulu memeriksaku “


“ Maaf aku tak mengerti yang mulia “ tanya Merlin bingung.


Pangeran membuka semua kancing atas piyamanya hingga terlihat dadanya dan kembali berbaring dengan kedua tangannya membentang lebar.


“ Periksalah detak jantungku tabib…” Pangeran dengan santai memerintah Merlin, yang justru saat itu sangat ketakutan.


Merlin diam, ragu untuk memenuhi keinginannya. ‘Apa yang harus kulakukan’ teriak Merlin dalam batinnya.